Beautiful Angel

4 2 0
                                    

Seperti mahasiswa Arsitek tahun ke-3 pada umumnya. Daesim disibukan oleh tugas-tugas yang menumpuk. Sejak satu minggu lalu dia selalu tidur di ruang model untuk menggambar dan hanya kembali ke asrama untuk mengganti pakaian.

Daesim mengebut semua tugas-tugasnya agar dia bisa mempersiapkan penyambutan mahasiswa seni dari seluruh negara di dunia yang akan menjalani pertukaran pelajar di kampusnya.

"Aduh, pak ketua. Masih sibuk aja?!" Ledek Baek Hyeon. Sahabat Daesim sejak SMA.

Daesim hanya menatap Hyeon dengan tatapan dingin.

"Kalem, Bro. Gue hanya bercanda." Hyeon seakan sudah terbiasa dengan tatapan itu, hanya bisa tersenyum konyol seperti biasanya.

Sahabatnya itu memang tipe orang yang agak dingin kalau diganggu saat mengerjakan tugas, namun kocak dan seru saat di luar perkuliahan. 

Daesim kemudian tersenyum lepas melihat ekspresi Hyeon yang polos. Daesim tidak sedingin itu pada teman karibnya itu. Hanya saja menggoda Hyeon dengan ekspresi seperti itu sudah menjadi gayanya sejak dulu.

"Apa semua persiapan sudah rampung?" Tanya Daesim pada Hyeon di sela-sela kegiatan menggambarnya.

"80% rampung. Mereka akan datang tiga hari lagi kan?"

Daesim mengangguk. "Tapi juga ada sebagian yang sudah sampai asrama. Hanya saja upacara penyambutannya aja yang tiga hari lagi."

"Okelah. Temui aku di lapangan. Aku mau nonton basket dulu." Hyeon melenggang keluar.

Daesim mengangguk lagi. "Pergilah. Jangan ganggu aku bekerja."

Tok...tok

Hyeon datang kembali dengan mengetuk meja kerja Daesim. "Gak mau keluar nonton basket?" Tanya Hyeon. Membuat Daesim mengehela napas.

"Banyak cewek pertukaran pelajar sedang main basket. Cantik-cantik." Lanjut Hyeon dengan pandangan matanya menuju keluar jendela kelas model yang tembus langsung ke arah lapangan.

Daesim mulai terpengaruh oleh omongan Hyeon, ikut mengarahkan wajahnya kearah lapangan.

"Gimana?"

"Gak ada yang menarik." Daesim kembali fokus pada lembaran-lembaran gambarnya.

Hyeon pun kesal dan pergi. "Bailkah. Jiwa kejombloanmu memang belum berakhir."

"Aku pergi. Bye..bye." Hyeon melambai dan pergi.

Daesim hanya bisa memandangi punggung sahabatnya itu dengan senyuman lebar.

Setelah beberapa detik Hyeon pergi. Daesim mulai penasaran dengan suasana ramai di lapangan.

"Apakah seseru itu?" Batin Daesim. Karena penasaran Daesim kemudian membereskan barang-barangnya dan beranjak menuju lapangan basket.

Sorak-sorak para penonton sangat ramai terdengar mengelilingi lapangan basket.

Daesim masih tidak tahu apa yang menarik dari permainan basket kali ini. Hanya saja anak-anak perempuan pertukaran pelajar yang sedang bermain.

"Daesim!" Panggil Hyeon menyuruhnya untuk duduk disamping Hyeon.

Daesim mengangguk.

"Awas!" Teriak gadis berjilbab yang datang kearahnya bersamaan dengan bola basket yang akan menabrak wajahnya.

Plak

Suara keras bola basket yang berhasil di tangkis oleh gadis bernomor punggung 24 itu, membuat pandangan Daesim tidak bisa lepas dari gadis yang baru saja menyelamatkan dirinya dari hantaman bola basket.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 07, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

A Fantastic Thing Called First LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang