Kami adalah pejuang. Kami adalah pahlawan dari era manusia pilihan. Sekelompok pahlawan yang hanya hidup untuk persiapan melawan para Iblis. Dunia yang kacau ini harus dibersihkan darinya.
Aku Sean, Pahlawan Andromeda. Aku mengetahui sesuatu yang rumit, tentang bermacam-macam ukiran bintang di langit. Ketahanan kekuatan fisik-ku memang terbilang lemah dalam kelompok para pahlawan ini, tapi dalam hal kekuatan magis aku bisa mengimbangi fisiknya.
Jika ada yang mempertanyakan namaku, mungkin kalian tidak akan kaget. Usiaku seratus tahun. Rambut yang sudah putih, namun fisik tetap muda. Mataku juga dalam seluas dalamnya galaksi Andromeda tersebut.
Teman-temanku sering menyapa dengan Mata Penglihat Segalanya, padahal itu tidak sehebat yang dibicarakan. Mata biru gelap milikku di lahirkan dari keadaan buta, namun seseorang merubah segalanya. Seseorang yang ingin aku temui, perempuan berambut padang bunga matahari.
Kini, para Pahlawan berjalan di sekitaran hutan. Kegiatan biasa kami jika senggang. Berjalan-jalan dan bertukar pikiran. Sorakan pelaut dari luar pulau membuat kami berlarian ke sana. Pak Jhonson, orang tua berjenggot lebat.
Dia berpelukan dengan kami, ya, dia satu-satunya manusia biasa yang mengetahui keberadaan para Pahlawan. Ketika dirinya kecil hingga sekarang dia yang paling sering mengunjungi kami, walau sudah sukses dia tidak melupakan jasa kami ketika menyelamatkan dia yang mengapung di tengah lautan.
Pulau ini kecil, tapi ini rumah kami. Pak Jhonson juga tahu sebagaimana biasanya. Pasokan makanan dari kapal berlimpah ruah, tentu saja itu karena dia adalah Wali Kota Migart. Kotanya selalu ramai pengunjung luar akibat sebuah kekuatan ghaib Pahlawan Silent, setiap pedagang yang berlayar di Laut Ariona akan tertarik mendatangi Kota Migart.
Makan-makan biasa tapi mewah sudah sering Pak Jhonson lakukan. Daging sapi makanan favoritku juga dia yang masakan, resepnya diberikan pada kami apabila berniat memasaknya. Kau tahu? Saat aku mencoba memasak dengan resep itu, masakannya gagal total, entah aku yang tidak bisa memasak atau resepnya yang salah.
Di malam yang dingin, aku meraba arah angin malam. Tetiba jariku tersayat sesuatu yang sangat tajam. Sesuatu yang gelap dengan jarak tak jauh dari sini.
"APA KALIAN MERASAKANNYA?!"
Pahlawan Silent mengangguk sembari memutar sehelai rambutnya. "Kota Migart diserang kekuatan Iblis. Aku melihatnya, ada yang terbang dari atas langit, bola berukuran besar yang menembus awan. Iblis ini ...."
Si mata merah. Keturunan Iblis Merah, para pemegang api Neraka. Pahlawan Torch tertohok disela minumnya. "A-apakah maksudnya Iblis Merah melakukan kehancuran lagi? Bukannya dalam Perjanjian Lama kita sudah membicarakan janji suci agar Iblis Merah berhenti bertingkah?"
Pahlawan Mtyh--ketua--memanas. "Perjanjian Lama berlangsung lima ratus tahun. Ini sudah masa habisnya sejak keturunan mereka aku sisakan. Ternyata mereka tidak ada habisnya."
Pak Jhonson gemetar bahkan gelas kayunya tidak tahan untuk menumpahkan air soda-nya. "Kota-ku, apakah itu tentang para Iblis rambut putih bermata merah? Aku tidak menyangka cerita legenda itu benar-benar kenyataan. Ini musim panen, sangat berbahaya membuat hasil panen gugur. Aku harus secepatnya kembali."
Aku menggapai tangannya. "Jika dirimu tidak bisa menahan ketakutanmu, kau tidak pantas untuk menjadi walikota Migart. Tenanglah, kami akan berpikir untuk menyelesaikannya."
Pak Jhonson menggeleng. "Hidupku hanya untuk rakyatku. Aku mengabdi pada mereka selama akhir hayatku. Jika rakyatku menderita, apalah dayanya usia renta yang akan penuh dosa ini. Izinkan aku pergi Sean, aku mohon."
Aku menatap mata lainnya, mereka menutup segala apa yang akan dibicarakan selanjutnya. Kami berdiskusi sebentar, merencanakan keputusan yang memungkinkan Pahlawan menang. Hanya Pahlawan Myth yang pergi, tapi aku mencegahnya agar aku ikut menemaninya. Dia setuju walau takut aku mengalami hal buruk.
Dengan kapal Pak Jhonson juga kekuatan Pahlawan Myth, arus laut mendukung kami. Arusnya cepat, juga aku menahan angin yang kami lalui agar tidak merusak kapal. Langit Kota Migart benar-benar merah tidak normal.
Bola api dari berbagai penjuru bermunculan. Dari sini aku memusatkan ratusan sihir bintang yang berhasil menahan bola itu menubruk bangunan kota. Sorakan penduduk tidak tertahan untuk terdengar sampai arah laut.
Mumpungnya kami bergerak sangat cepat. Pahlawan Myth dengan sekali tepukan berhasil memecah puluhan bola itu menjadi kerikil kecil. Aku membuka lubang cacing di tengah kota. Menyerap kerikil secara halus hingga hilang tidak bersisa.
"Aku minta kalian diam di sini mengawasi. Sean, aku minta kau lihat aku dari jauh, aku akan menghindari memasuki bangunan atau apa dan tetap di luar ruangan!" katanya panik.
Aku mendapatkan banyak kesempatan ketika kedatangan Pak Jhonson berhasil menarik para musuh. Mereka menyerangnya tapi itu tidak berguna saat kekuatan yang dimilikinya berhasil menghalau rintangan tersebut. Dadaku melonjak kaget saat seringkali orangtua itu hampir ditusuk banyak panah di punggungnya. Keberanian membuatnya nekat.
Di langit masih ada batu meteor ukuran yang besar. Kekuatannya benar-benar tinggi, ilmunya membuat Pahlawan Myth menahan napas sejenak. "Ada salah satu Leluhur Iblis Merah di sini. Ikut aku Sean."
Aku mengangguk paham. Pahlawan Myth melompat dari kapal, terbang ke atas sana dengan aku menumpang di punggungnya. Ukurannya tidak mengotak, Kota Migart bisa hancur dalam berapa menit jika tanpa bocah penopang di mataku.
"Sean, bukannya itu salah satu keturunan Iblis Merah?"
Aku mengangguk kala semakin dekat dengannya. "HOI! BOCAH! PERGILAH! TUBUHMU AKAN HANCUR!"
Percuma, itu tidak dapat membuatnya mendengar perintahku. Dia mengganti lengannya, tangan kanannya dibacakan sesuatu, aura energi dalam tubuhnya sangat putih juga membuat kami seketika sontak berbalik menjauh.
"SATU!"
Dia berteriak.
"DUA!"
Dia memukul meteornya sangat keras.
"TIGA!"
Dia menghilang bersama meteornya.
Mataku membulat sempurna kala melihat kejadian itu. Dia terbang ke lapisan langit terjauh, kami berdua terbang menjemputnya. Ledakan meteor di angkasa dan bocah lelaki yang terjatuh di antara bongkahannya.
Tanganku menangkapnya gugup. Dia benar-benar bocah aneh, luar tubuhnya tidak terluka sama sekali. Hanya, kekuatannya bisa aku rasakan menipis hebat. Aku menyentuh jantungnya, sangat lemah. Pahlawan Mtyh terbang ke daratan Kota Migart menemui para warga yang tampaknya aman dalam lindungan Pak Jhonson.
Para warga aman bersamanya. Di antara ketakutan warga kota, ada seorang gadis yang pernah aku temui saat kecil. Gadis yang wujudnya tidak pernah berubah juga senyumnya. Dia menghampiriku dan memeluk bocah dalam pelukannya.
"Apakah keadaannya baik-baik saja?"
Kami berdua menggeleng. Pahlawan Myth menusuk ulu hatinya, memberi banyak energi ke dalamnya dan berhasil membuat bocah itu terbangun dalam keadaan gemetar takut.
"Ba-bagaimana meteornya?"
"Lenyap!"
Perempuan itu mencium pipi bocah tersebut di hadapanku. Dua Pahlawan hanya bisa terdiam kaku, sesuatu yang benar-benar tidak pernah bisa didapatkan Pahlawan seorang pun. Sebuah kasih sayang dari perempuan.
"Terima kasih sudah kembali, Asep."
TBC
Sean cemburu kah? Masih misteri, apa yang akan dilakukan dua pahlawan ini di Kota Migart.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Inner Eye And The Other World Volume 1[END]
FantasySendiri di dunia lain. Memiliki kastil besar juga megah seperti tiada artinya baginya. Terbangun dalam keadaan setelah bunuh diri, Asep tersadar dengan tubuh lain. Kesialannya bertambah ketika baru menyadari desa di sekitarnya tidak menerima keberad...