11. Persiapan Festival

10 1 0
                                    

Bagi Aria dunia semuanya semu, tidak pernah nyata, bagai menggenggam permainan dalam sebongkah dadu. Aria meyakinkan bahwa alam yang dia datangi adalah nyata dan di sana adalah fana. Namun, pemikirannya berubah ketika dia menemukan seseorang yang berhasil membuatnya mengerti apa dunia.

Dunia bagi Aria hari ini adalah tempat yang damai. Adapun ujian, mereka harus menghadapi bersama sebagai suami dan istri. Usia mereka sama-sama tua, hingga mengetahui apa yang dibutuhkan satu sama lain.

Asep yang baru datang setelah menyelematkan Migart mendapat sambutan baik. Zoro dan Erina menyambut meriah di kamar, mereka memeluknya, Aria tahu mungkin hanya Asep yang menganggap hubungan mereka seperti adik-kakak.

Perempuan itu terduduk menikmati langit sore hari di atap akademi. Juga saat melihat kematian Pak Jhonson dengan penglihatan jarak jauhnya. Pembunuhnya tentu bukan lain adalah Asep.

Keberadaan Pak Jhonson menurut Aria adalah kesalahannya. "Terima kasih sudah membunuhnya. Sebenarnya aku tidak mau menghancurkannya. Tetapi, kejahatannya terlalu banyak saat aku melihat apa yang dilakukannya melalui kekuatan pembaca pikiran masa lampau. Penyerangan di Kota Migart, bahkan keturunannya yang diharuskan membunuh, adalah sampah."

Aria bersikap kasar. Wajar baginya, tapi Asep menepuk pundaknya untuk membuatnya tenang. Suaminya sudah diberitahu oleh Aria sebelumnya, sehingga menyetujui hal ini. "Saya harap mah mereka para Pahlawan bisa tahu dari darah Pak Jhonson. Darahnya bukan manusia biasa, tetapi keturunan mata-mata Iblis Merah."

Aria menopang dagunya. Menatap Andromeda juga Mtyh berteriak untuk menyembuhkan kawannya. Sayangnya ekspresi itu tidak bertahan lama, menyebabkan depresi pendek. Sambungan dalam otak Andromeda membuat dia sontak berteriak ketakutan.

Mtyh membawa Andromeda menjauh, menghilang di antara kerumunan warga kota. Keberadaan mereka berdua sudah diberi penghalang yang mirip seperti Pahlawan Silent.

"Apa yang akan terjadi pada warga Migart jika walikotanya sendiri adalah musuh dalam selimut?"

Aria menggeleng. "Mereka tidak akan tahu, walau mereka sedih, sebenarnya orang dengan energi tinggi bisa tahu tipuan pada darah itu. Darah putih yang tebal walau dijuluki Iblis Merah. A-Asep, ayo kembali ke akademi tampaknya ada jamuan makan dari kepala sekolah."

Asep mengangguk paham. Salivanya tetiba tertelan kasar sembari menahan lengan Aria. "Bagaimana dengan dua anak itu? Garis keturunan mereka murni manusia, tapi bagaimana dengan pemilihan walikota selanjutnya? Apa masih ada Iblis Merah lain dibalik ini semua?"

Aria mengusap pipi suaminya. "Aku paham. Mereka yang akan berurusan dengan takdirnya sendiri, kita hanya perlu mengawasi. Jika jalurnya mengarah kematian, kita harus bantu, jika terlambat percayalah itu takdir mereka. Aku bukan pemegang takdir selain orang tua para Dewa-Dewi."

-----

Seminggu sejak tragedi mengerikan itu terjadi. Hanya ada kebiasaan biasa di hari-harinya. Asep yang belajar beladiri di ruangan khusus seraya mengajar pelatihan itu dengan adik kelasnya. Kalian tahu? Apa yang Asep ajarkan? Tentu saja adalah ilmu silat.

Di dunianya dulu selain belajar melalui keluarganya, silat seperti sudah diturunkan bersamaan. Tangkisan, pukulan, tendangan, hingga berbagai gerakan dapat membuat orang-orang di dunia ini terkagum-kagum. Dalam pembuatan pakaian klub silat, Aria orang dibalik itu, dengan kekuatan penciptaannya dan melalui penglihatan dari masa lalu Asep, dia mengsalin pangsi pakaian yang biasa orang Sunda pakai.

Setelah ujian berakhir, seperti biasa, akademi akan mengadakan festival besar. Hari ini tepat di bulan September, acara besar diadakan setiap tahunnya. Eleona yang biasa mengganggu Asep dengan auratnya sekarang tetap tidak berubah, malah memamerkan hal itu ke beberapa warga Migart yang datang berkunjung ke akademi.

Aria terduduk melihat ruangan klub Silat yang sepi pengunjung. Adik kelas mereka hanya terduduk sembari memamerkan otot di bagian tubuh. Padahal penggunaan sihir pun sudah lebih berguna ketimbang kekuatan fisik. Tentu saja, fisik sangat penting bagi Asep, Oliv selalu mengawasi perkembangan tubuhnya sendiri di kamar.

Asep melatih ototnya sampai pemilik tubuh sebenarnya sangat iri.

"Tidak ada kunjungan, kita teh harus melakukan apa yah?"

Aria melirik Asep sembari menggeleng lemas. "Kelihatannya dunia ini tidak tertarik pada kesenian yang ada di duniamu. Kita harus melakukan cara. Eh-- tunggu! Apa kamu mengingat pakaian model dengan ciri khas Sunda?"

Asep memutar otaknya. Menggali ingatannya lama yang kadang menyiksanya jika harus mengingat lagi. "Ada. Saya teh pernah sih menghadiri acara model dengan adat Sunda. Tentu saja saya diajak kawan melihat-lihat, padahal saya mah nggak tertarik."

Aria mendekatkan kepalanya. Menyentuh jidat Asep menggunakan telapaknya. Ingatan yang sedang Asep ingat akan tersambung ke pikirannya. Kadang kala, ada beberapa ingatan yang tidak sengaja Aria ambil padahal itu ingatan kelam suaminya. Aria juga tidak menghapusnya kembali, dia merasa harus merasakan perihnya hidup sendiri agar bisa sangat bersyukur diberi Asep dalam hidupnya.

"Reander dan Liliana, bisa kalian ke sini?"

Sepasang pemuda dan pemudi itu melangkah maju menghampiri kakak kelasnya. "Aha! Adik-adikku sekalian! Kita akan mengadakan acara fashion show pertama di akademi."

Reander menyipit. "Eh, anu, acara apa itu?"

Wajah cantik Liliana tersipu. Kebiasaannya saat menerima hal-hal baru. Napasnya terengah, ingin menerima jawaban itu. "A-aku menjadi semangat."

Aria hanya terkekeh geli. Sentuhan lengannya merubah apa yang dipakai dua anak itu, sontak adik kelas mereka ikut terkejut melihat hal baru di depannya. Liliana memegang sanggul di belakang rambutnya. "Rasanya ini menarik. Apakah ada cermin? Rambutku terasa agak ditarik."

Aria menciptakan cermin besar tepat di hadapan Liliana. Anak-anak tidak mempertanyakan darimana kehebatan kekuatan Aria berasal, karena mereka sudah tahu, Aria termasuk peringkat pertama dalam ilmu sihir, mungkin anak-anak mengira itu adalah hal biasa baginya.

Reander memegang bajunya. Menyentuh kain yang terasa elegan dan halus pada tubuhnya. "Rasanya aku terlihat gagah dalam cermin."

Asep tersenyum lebar. Menepuk tangan pendek. "Kita adakan acara ini besok, di hari kedua festival, ingat untuk kalian berdandan se-cantik dan se-tampan apapun itu. Aria akan mengawasi penampilan kalian, untuk langkah berjalan juga hal lainnya kami akan bantu malam ini."

Liliana terdiam. "Apa artinya acara eskul akan berlanjut? Apa kita menginap di ruangan klub?"

Aria mengangguk lembut. "Benar. Aku akan bicarakan ini dengan para dewan, semoga cepat terealisasikan."

Aria langsung menatap Asep. Tahu kalau acara itu tidak mungkin diadakan cepat esok harinya. Kemungkinan yang sangat-sangat kecil dan tidak logis. Tapi, kekuatan Aria dapat mencuci otak para dewan, terbilang licik namun harga diri klub baru ini dipertaruhkan.

Diam-diam seorang gadis mendengar pembicaraan itu. Eleona meremas tangannya, menggigit bawah bibirnya merasa pesonanya dihancurkan. Aria sudah tahu keberadaan perempuan yang menguntit tersebut sejak tadi, bahkan ide yang muncul karena ulah keberadaannya.

"Baiklah, persiapan menginap kita siapkan sekarang."

TBC

Mudah banget yah kalau dipikir-pikir jika menjadi seorang Aria.

The Inner Eye And The Other World Volume 1[END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang