Little Help

379 47 31
                                    

Musim semi, dimana semua orang sudah bebas beraktivitas tanpa dibatasi cuaca dan ancaman hipotermia, dan beberapa bulan saja setelah bulan madu mereka, kesibukan Daniel meningkat 3 kali lipat.

Dalam dua minggu ini, ia hanya punya 30 jam untuk dihabiskan di rumah. Selebihnya, ia pergi dinas ke luar kota, lembur di kantor atau pulang lewat tengah malam karena bertemu dengan atasan.

Karena sedang mempersiapkan bisnis baru di kota lain, Jihoon juga hampir sama sibuknya.

Ia lebih banyak berbicara dengan Daniel di telepon, karena mereka bahkan jarang ada di rumah dalam keadaan sama-sama bangun dan santai. Karena itu, sejak dua minggu yang lalu juga Jihoon sering tidak sempat membuatkan makanan sendiri untuk Daniel dan hanya bisa memastikan Daniel dan juga dirinya tidak makan sembarangan saja.

Keadaan rumah masih gelap ketika Daniel akhirnya menginjakkan kaki lagi di sana setelah menempuh 3 jam perjalanan di pesawat, dan 1 jam di jalan raya dari bandara. Tandanya Jihoon belum pulang lagi, dan Daniel mendesah kecewa karenanya.

Jam sudah menunjuk pada angka 11 malam. Daniel memutuskan untuk berendam dengan air hangat karena seluruh tubuhnya terasa kaku bukan main. Di tengah kegiatan itu, ia mengambil handphone yang dibawanya ke kamar mandi dan menekan nomor Jihoon.

"Hyung, aku sedang di perjalanan pulang," kata Jihoon begitu telepon Daniel diangkat. Ia tahu Daniel akan menghubungi, karena mereka sudah bicara juga saat Daniel baru mendarat di bandara satu jam yang lalu.

"Sudah sampai dimana?"

"Baru saja berangkat, jadi masih butuh paling sedikit 2 jam lagi."

Daniel merengut sedih, "Sayang..."

"Aigoo, aku baik-baik saja. Aku tidak sendiri, jadi jangan khawatir. Kau sudah di rumah?"

"Aku sedang berendam."

"Aah, benaar. Enak sekali berendam air hangaaat."

"Kupikir aku bisa menunggumu sambil berendam, ternyata masih lama."

"Ng, jangan menungguku. Hyung bisa langsung istirahat saja. Aku menyimpan beberapa ubi manis di tempat makanan. Kalau lapar, langsung rebus saja, ya?"

"Baiklah..." sahut Daniel lemas.

"Kau benar-benar terdengar lelah. Kasihan sekali."

"Benar sekali. Aku semakin lelah karena kau tidak ada di rumah. Kasihan sekali aku."

Jihoon tertawa kecil, "Jangan membuatku mengatakan sesuatu yang memalukan di samping Hyungseob dan Hyunbin."

Daniel tersenyum karena suara tawa Jihoon benar-benar menenangkannya, "Sayang, aku akan bangun ketika kau pulang."

"Mm. Jangan khawatir."

"Aku menyayangimu."

"..."

"Jihoon-aah."

Terdengar suara dehaman, "Ya, aku dengar."

Daniel meluruskan punggungnya dengan serius, "Aku bilang aku menyayangimu."

"Y-ya, aku juga."

"Kau harus bilang dengan lengkap kalau kau menyayangiku juga! 😠"

"Astaga. Aku akan mengatakannya sebanyak yang kau mau nanti. Jangan membuatku mengatakannya di antara dua orang ini."

"Apa kau malu menunjukkan rasa cintamu padaku? Apa aku harus merasa sedih sekarang? 😔"

Terdengar suara cekikikan di dekat Jihoon, yang kemudian diikuti dengan suaranya lagi, "Baiklah, baiklah, beri aku waktu."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 15, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Sweet Gestures [NielWink]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang