Part 06

1.4K 93 0
                                    

Di perjalanan pun hanya ada keheningan dan suara deru mesin mobil. Ayas yang tetap fokus menyetir dengan pandangan lurus kedepan. Sedangkan Aira ia hanya menolehkan kepalanya ke arah jendela dan melihat jalanan yang dilewati.

'kenapa gue jadi kasian sama ini orang, setelah gue tau semuanya' batin Ayas yang sedari tadi hanya diam kala mengetahui sesuatu.

"Sampe nya kapan mas, masih jauh ya" pertanyaan Aira membuat lelaki ini membuyarkan lamunannya sekaligus memecah keheningan.

"Masih lama" jawab Ayas datar.

"Apa udah masuk wilayah Jakarta" tanya nya lagi.

"Udah" jawab nya singkat.

Setelah mendengar jawaban itu Aira kembali menoleh ke samping jendela dan melihat jalanan lagi. Terlihat jalanan yang di pinggir nya terdapat pohon-pohon rindang dan sepertinya jalanan ini jarang banyak orang yang berlalu lalang buktinya sekarang sepi hanya beberapa mobil dan motor yang lewat.

"Ko kaya gak asing ya jalanan nya" gumam Aira pelan yang masih bisa di dengar Ayas.

"Lo pernah kesini emang" tanya Ayas.

"Nggak tau, kaya nya belum deh tapi jalanan nya kaya gak asing buat aku" jawab Aira dengan sedikit berpikir apakah dirinya pernah kesini, entahlah dirinya pun tak tau.

"Ini itu jalanan yang biasanya di pake buat nongkrong sama anak-anak muda yang ikut genk-genk kaya gitu, kalo siang atau sore kaya gini sepi tapi kalo malem banyak anak-anak remaja yang nongkrong disini makanya kalo malem jarang banget orang yang lewat sini, ya mungkin takut di gangguin kali gue juga gak tau" terang Ayas.

"Ohh gitu ya"

Setalah itu keheningan pun kembali menyelimuti mereka berdua. Hingga akhirnya Aira kembali bertanya yang membuat Ayas kesal dengan pertanyaan nya.

"Sekarang masih lama nggak nyampe nya" tanya Aira lagi-lagi ia bertanya seperti itu, dari tadi ia bertanya itu terus rasanya sudah lebih dari tiga kali ia bertanya seperti itu.

"Lo dari tadi nanya itu mulu, nanti juga kalo udah nyampe gue berhentiin ini mobil, bawel banget jadi orang" jawab nya dengan nada sedikit ngegas.

"Ya biasa dong jangan ngegas"

"Udah lo kalo mau cepet nyampe tidur, nanti kalo nyampe gue bangunin" suruh nya.

"Yaudah"

Aira pun menyenderkan punggungnya ke jok mobil dan memejamkan matanya, perlahan ia pun tertidur.

"Nanti disana lo har-" ucapan nya terhenti kala melihat orang di sampingnya tertidur.

"Ck, dasar padahal gue gak serius nyuruh lo tidur" decak nya.

'adem' batin Ayas dengan sesekali melihat wajah tidur Aira.

***

Pukul 19.45 mereka sampai di rumah yang akan merekaaita tempati. Melihat Aira yang masih tertidur Ayas pun berdecak kesal. Ia tidak mau jika harus menggendong Aira masuk kedalam, nanti Aira pasti berpikir yang tidak-tidak pikir nya.

Jadi ia lebih memilih untuk membangunkannya daripada harus menggendongnya.

"Bangun lo udah sampe ini" ucapnya dengan menggoyangkan lengan Aira.

"Bangun lo mau tidur semalaman disini" ucapnya lagi.

"Eughh" lenguh Aira dengan mengerjapkan matanya.

"Udah sampe ya"

"Iya turun, gue ambil dulu koper lo di belakang" ucapnya dengan melepaskan sellbet nya (gak tau nulis sellbet gimana jadi mohon maaf kalo salah)

Aira pun hanya mengangguk dan bergerak untuk turun dari mobil. Setelah turun Aira berdiri dan melihat rumah di depannya ini. Rumah minimalis yang tidak terlalu mewah, ia terus berdiri dan bengong melihat rumah ini hingga suara Ayas membuyarkan nya.

"Lo mau terus berdiri di situ" ucapnya yang sudah masuk membawa koper milik Aira.

"Iya ini masuk" Aira pun berjalan masuk menghampiri Ayas.

Setelah masuk Aira di kejutkan dengan isi rumah ini, ruang tamu yang cukup mewah, begitupun dengan ruang tv nya dan terdapat dua kamar disini.

"Ini rumah kamu mas" tanya Aira.

"Ayah yang beli bukan gue, jadi ini milik ayah" jawabnya.

"Ohh gitu ya"

"Hmm"

"Yaudah Aira masuk kamar yang itu ya" ucapnya dengan berjalan menuju kamar yang di tunjuknya.

"Lo nggak mau sekamar sama gue" tanya Ayas yang membuat Aira berhenti berjalan dan menoleh ke belakang.

Aira pun menghela nafas "aku belum siap" jawabnya dan kembali berjalan menuju kamarnya.

"Yaudah gue juga gak maksa"

Setelah masuk kamar Aira duduk di tepi ranjang dan membuka kopernya. Ia mengambil alat mandi dan mukenanya, ya saat ini ia akan membersihkan badannya dan dilanjutkan dengan sholat isya dan sholat qodho magrib karna saat waktu magrib ia ketiduran diperjalanan dan Ayas tak membangunkannya.

Sesudah melaksanakan kewajibannya Aira langsung membereskan dan menata baju nya di lemari yang ada di kamar ini.

Tak terasa waktu menunjukan pukul 21.35 Aira pun merasakan cacing di perutnya sudah berdemo meminta untuk di isi. Pasal nya ia belum mengisi perutnya sejak sore tadi. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke dapur dan melihat apakah ada makanan yang bisa ia makan.

Aira sudah melihat isi kulkas tapi tidak ada makanan hanya ada air mineral saja, lalu ia milihat mie instan yang ada di lemari atas dapur. Karna terlalu tinggi ia pun berjinjit untuk mengambil mie nya, tapi hasilnya nihil lemarinya ini terlalu tinggi hingga tangannya pun tidak sampai.

"Ihh susah banget si" keluhnya dengan terus berusaha.

Hingga tiba-tiba ada satu tangan dari belakangnya yang mengambilkan mie nya. Aira bingung tangan siapa ini, ia pun membalikan badannya dan, tuk! Keningnya pun terjedot dengan dada bidang seseorang yang ada di belakangnya.

"Aduhh" ringisnya dengan mengusap-usap keningnya.

"Makanya tinggi itu ke atas" ucap Ayas dengan meletakan mie di meja yang ada di dapur.

Ya seseorang itu Ayas tadinya ia ke dapur ingin mengambil air minum tapi ia melihat seseorang sedang bersusah payah mengambil sesuatu dan ya ia berusaha membantunya.

"Ini udah tinggi ko, cuma lemarinya aja yang ketinggian"

"Lo juga ngapain malem-malem gini di dapur bukannya tidur"

"Aku laper" jawab Aira dengan sedikit menunduk.

"Yaudah sana masak mie nya" suruh Ayas yang kemudian duduk di kursi meja makan.

Aira pun berjalan dan memulai memasak mie nya. Sedangkan Ayas ia duduk dan memperhatikan Aira yang sedang berkutat.

Tak lama kemudian mie yang di buat Aira pun sudah siap, ia berjalan menuju meja makan untuk menyantap mie nya.

"Kamu mau mas" tawar Aira sambil memakan mie nya.

"Ya mau lah, emangnya yang laper lo doang" jawabnya dengan mengambil alih sendok di tangan Aira.

"Tapi aku buatnya satu, soalnya mie nya juga ada satu"

"Gue tau, ini sisa gue kemaren" ucapnya dengan menyeruput mie nya.

"Mas itu sendok bekas aku loh" ucap Aira yang menunjuk sendok di tangan Ayas.

"Kalo ngambil dulu ke rak lama" jawabnya dengan terus mengunyah mie nya.

Dan ya mereka menikmati makanannya dengan sendok bergantian. Sebenarnya makan mie satu berdua bagi Aira tidak akan kenyang, tapi mau gimana lagi di rumah hanya ada satu mie dan daripada ia tidak makan sama sekali.

Hari ini mereka baru datang ke rumah ini jadi belum sempat berbelanja perlengkapan dapur dan membeli makanan untuk dirumah.
.
.
.
.
.
.
Typo masih bertebaran🙏
Terimakasih sudah membaca☺️and see you🤗
Jangan lupa vote nya hihi🤭

Lebih Dari Seorang UstadzahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang