Bab 10

6 1 0
                                    

Rencana Tak Terencana

Mom melirik jam dinding entah sudah berapa kali. Memanggilku lagi dan lagi. Menanyaiku lagi dan lagi.

“Tadi dia bilang, kamu bisa jemput dia di mana, Cliff?”

“Cliff, sudah jam berapa sekarang? Apa gak sebaiknya kamu siap-siap dan pergi jemput dia sekarang?”

Meskipun sudah kukatakan berkali-kali untuk tenang juga diberi tatapan “oh, please”, Mom tidak bisa berhenti cerewet. Ya, ampun, feeling macam apa sebetulnya yang dia maksud? Kisah ibu-ibu yang sebelumnya dia ceritakan masih tidak masuk akal bagiku.

“Mom…, listen to me, please. Bagaimana kalau rencana hari ini dibatalkan saja? Ya?”

Aku mendadak terlintas pemikiran itu. Agaknya, otakku baru bekerja. Sebab sebelumnya saat Mom mengemukakan idenya, aku dalam kondisi yang tidak tepat. Kelelahan usai bekerja. Meskipun sesudahnya aku sangat sadar, bahkan terlintas di kepala pertanyaan, tentang status wanita itu dan Mom tetap yakin, kekhawatiranku salah.

“Sebelum kamu minta, kita sudah membahas beberapa kali, ‘kan, Cliff? Percaya sama Mom.” Keras kepala Mom masih bertahan. Tapi…, aku tidak mungkin mempermalukan diriku. Terlebih di tempat tinggal sendiri. Ah, yang benar saja. Benar, ini memang benar-benar ide gila.

“Biarkan aku saja yang ketemu dia, okay? Dan itu hanya untuk mengembalikan ikat rambutnya.”
Mom menatapku dengan pandangan yang tanpa ekspresi. Aku tahu maknanya. Dia tidak ingin dibantah. Tapi... aku mempertimbangkan kalimat yang sudah menari-nari di kepala. Bagaimana kalau Mom malah semakin tersinggung? Lebih parah mana dengan kalau aku ternyata tengah dalam sebuah rencana yang akan mempermalukanku sendiri. Sementara hal itu bisa kuhindari sekarang. Aku bisa menyelamatkan mukaku sebelum terjadi.

“Biar aku pastikan dulu. Memangnya Mom ingin putra paling gantengnya ini tidak keluar rumah berhari-hari, bisa jadi berminggu atau bahkan berbulan-bulan… karena malu?”

“Jadi anak lelaki jangan cengeng. Sudah ah, pergi sana! Mom perlu siap-siap juga di sini.”

Ya, ampun. Ini sungguh serius terjadipada hidupku? Aku tidak bisa percaya begitu saja. Tingkah Mom malah semakin membuatku yakin, ada banyak hal yang dia sembunyikan.

Mom tersenyum, ketika akhirnya melihatku memakai jaket, kemudian menyambar kunci motor.

“Wait, kamu mau jemput dia pakai motor maksudnya?”

Aku mengangguk.
“Bukannya biar lebih cepat? Bawa si Bumble Bee, khawatir macet nanti.”

“Tapi, langit sudah tampak mendung, Cliff. Cari aman saja sebaiknya.”

Aku menggeleng. Selanjutnya membelah ruangan. Berpura-pura tidak mendengar Mom yang berteriak lagi di punggungku. Dia pasti mengomel sekarang.

Sekitar di ujung komplek, aku berhenti, mengeluarkan ponsel dari saku jaket, untuk memeriksa lagi, lokasi yang tadi disampaikan wanita itu, melalui chat.
Posisinya dekat dengan sebuah rumah sakit. Tepatnya sebuah gerai makan kecil, yang disetting dengan tema outdoor.

Aku berhenti, tepat di dekat trotoar gerai makan yang tampak sepi itu. Entah sepi karena tidak ada pelanggan atau memang jam bukanya nanti mendekati malam hari.

Wanita itu seperti sengaja, duduk di meja paling luar. Meja yang dekat dengan jalan. Segera kulepas helm, lalu melambaikan tangan. Lantas berhenti dengan rasa canggung yang datang terlambat. Apa-apaan yang barusan kamu lakukan itu? Dan apa pula yang sedang kamu lakukan sekarang, Cliff? Aku meracau dalam hati. Dan cepat-cepat menyuruh diriku sendiri berhenti, saat dia akhirnya menyadari kedatanganku, lalu beranjak dari duduknya.

Sebelum TerlanjurTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang