Sejak tragedi makan martabak malam itu hingga saat ini entah aku yang terbawa perasaan yang kini merasa semua perhatian kecil mas Danar mampu membuat jantungku berdebar atau memang mas Danar yang kini bertingkah manis memberi perhatian lebih.
"Warna ini cantik Ma di pakai Eca"
Saat ini kami sedang berada di salah satu butik di Solo, seperti yang dikatakan mama jika akan di adakan acara ngunduh mantu di Jogja.
"Ca gimana mau warna peach"
Sebenarnya aku juga menyukai apa yang dipilih mas Danar tapi aku sedang tak ingin kompak dengannya.
"Yang ini juga bagus Ma, lagi trend juga"
Kutunjukan warna lillac pada gaun pengantin lainnya, sebelum aku mencoba model-model gaunnya kami sepakat dulu untuk memilih warna yang akan kami kenakan nantinya.
"Ih jangan ungu, warna janda itu"
"Ini lillac namanya"
Mama membantuku menjawab apa yang di proteskan mas Danar, jika itu bukan warna janda yang di maksudkan.
"Iya aku juga bakal kamu jandakan nantinya"
"Sama aja, ini warna keunguan"
Mas Danar tetap tak mau kalah, dan kali ini akupun juga melihatnya begitu antusias menyiapkan acara ngunduh mantu kami, entah itu hanya gimmic nya di depan sang Mama Papa atau memang dari dalam dirinya sendiri aku tak tahu.
Cukup lama kami berdebat memilih warna, hingga akhirnya menemukan kesepakatan warna mint dan itu permintaan mas Danar, dan kini kami kembali di perdebatkan dengan model gaun yang akan kukenakan.
"Danar kamu kok cerewet ya hari ini?"
Papa yang awal tadi menunggu duduk diam di sofa, hingga akhirnya ikut bersuara kala selalu mendengar komentar-komentar sang putra.
Kalah telak akan Papa, akhirnya Mas Danar tak lagi banyak komentar, seperti apa yang aku suka Mama pun menyukainya, dan tentunya kali ini mas Danar harus mensetujuinya.
Setelah semua dirasa beres, kami berempat pulang menuju Yogjakarta dengan mas Danar di balik kemudi dan papa di sampingnya, sedangkan aku berdua bersama mama di bangku belakang.
"Makan soto seger dulu deh di depan"
Ketika kami sampai di kota Klaten, dan memang ini sudah waktunya makan siang, karena tadi kami setelah sholat dhuhur di masjid depan butik tak sempat untuk makan siang.
Memarkirkan mobil di halaman rumah makan yang menyajikan soto kwali dengan kuah yang begitu segar, Mama dan Papa lebih dulu masuk kedalam.
Niat awal yang ingin menunggu mas Danar untuk masuk kedalam karena permintaan Mama untuk masuk berdua, kini membuatku sedikit sesak kala melihat mas Danar yang keluar dari mobil terlihat menggenggam ponselnya dan meletakan di telinganya, menerima panggilan dari sang kekasih.
"Tadi masih nyetir, ini mampir makan"
Ketika melewatiku mas Danar dengan santainya tetap berbicara melalui sambungan telepon, dan memintaku untuk masuk kedalam sedangkan dirinya mengekor dibelakangku.
"Udah dulu ya, aku makan dulu"
Pamitnya dan di akhiri dengan salam, dengan nada yang begitu lembut penuh perhatian.
Duduk berempat seperti biasanya, seperti dahulu kala juga sebelum aku menjadi menantu di keluarga papa Panji ketika sedang makan diluar.
Sebenarnya tak ada yang berubah akan kebiasaan-kebiasaan kami, hanya saja status yang membedakan, seharusnya aku tak terbawa perasaan kala mas Danar hanya menganggapku adik seperti dahulu bukan isteri, bagaimanapun kami menikah karena perjodohan.
"Ndel, mau krupuk?"
Mas Danar yang berdiri mengambil kerupuk yang berjejer pada rak di samping lemari pendingin minuman sedikit berteriak ketika bertanya padaku.
"Yang kulit mas"
Sebenarnya aku masih mode tak ingin bicara sama mas Danar tapi kali ini ada kedua mertuaku, tak mungkin aku membisu kala banyak orang disekitar kami dan aku mengabaikan mas Danar, lagi pula aku juga butuh dengan kerupuk yang di tawarkan.
"Kamu ini ndel-ndel , panggil isteri yang lembut, panggil adik apa sayang gitu"
Papa kembali menegur sang putra yang kali ini tentang panggilan ku dari mas Danar.
"Udah pernah"
Menjawab begitu santai akan teguran Papa, sambil mengunyah kerupuk yang baru saja di buka bungkusnya.
"Kapan?"
"Dulu, waktu dia bayi"
Mendengar jawaban mas Danar, papa dan mama begitu kompak mencebikan bibirnya.
Tetapi begitu kupikirkan apa yang disarankan papa tentang panggilan untukku kurasa memang tak begitu nyaman, panggilan adik memang begitu terlalu sopan apalagi untuk panggilan sayang, dapat kupastikan aku akan muntah di tempat.
Pasangan pernikahan yang dari dasar cinta dan terpaksa memanglah begitu sangat terlihat berbeda, dapat kita lihat ketika makan seperti ini, mama begitu sabar melayani papa meskipun sedang tak berada di rumah, begitu pun dengan papa yang begitu tergantung akan mama, kalau kita lihat untuk menambahkan sambal atau kecap papa bisa melakukan sendiri tapi untuk pasangan di depanku ini begitu mesra terlihat meskipun tak lagi pasangan muda, dan itu berbeda dengan ku yang mana kami sudah menikmati semangkok soto masing-masing tanpa mempedulikan apakah makanan kamu kurang terasa asin atau manis.
Mungkin jika ditanya apakah aku iri, tentu saja aku sangat iri, bisa menikah dengan laki-laki yang kita cintai dan mencintai kita itu tak bisa kulakukan, dan tentunya perhatian serta panggilan mesra dari suami tentunya tak kudapatkan juga.
"Bengong aja, ayam tetangga mati loh"
Terkaget dengan sentuhan mas Danar di lenganku, kulihat mas Danar telah menandaskan makanannya begitupun dengan papa dan mama yang tinggal separo mangkuk.
"Eca kenapa? Enggak enak ya?"
"Enggak kok ma, agak pusing capek ganti-ganti baju tadi mungkin"
Biarlah di kira banyak alasan, meskipun memang tak berhubungan antara pusing dan ganti baju, tetapi memang saat ini kepalaku terasa sedikit pusing.
"Mau mama pesanin yang lain?"
"Sudah ma ini aja, nanti buat tidur juga hilang pusingnya"
Mama sudah terdiam, aku sudah kembali melanjutkan makanku sedangkan mas Danar sudah kembali fokus pada ponselnya tetapi celetukan papa yang tiba-tiba membuatku tersedak begitu sakit di tenggorokan.
"Jangan-jangan Eca hamil Ma"
Segera kuminum segelas teh tawar di hadapanku, bagaimana mungkin hamil kalau menikah saja baru beberapa minggu, apalagi dengan posisi tidur saling memunggungi, bagaimana bisa terjadi pembuahan.
Mas Danar pun ikut terkejut, menatapku dengan wajah memerah, yang entah malu atau takut ketahuan orang tuanya tentang hubungan kami.
"Enggak kok Pa"
"Siapa tahu aja, dulu mama juga gitu kalau capek suka pusing waktu awal-awal hamil, coba deh test"
"Papa apa sih, belum Pa"
Mas Danar ikut meyakinkan sang papa yang tetap mengira jika diriku sedang berbadan dua.
"Belum ya?"
Entah apa maksud dari kata belum dari papa kepada mas Danar karena dengan kekehan mengolok kepada sang putra.
"Apaan sih"
Mas Danar semakin memerah hingg ketelinganya akan pertanyaan papa Panji.
"Sabar, nanti papa kasih tips"
Tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Dentist (Tersedia Lengkap Di Ebook)
RomanceMenikah dengan seseorang yang sejak kecil sudah mengenal diri kita, keluarga besar bahkan mengetahui hal-hal buruk yang kita simpan, bukan lah hal mudah jika pernikahan itu hasil perjodohan yang dipaksakan. Berawal pernikahan yang diharapakan untuk...