; fool you to love you

809 77 3
                                    

Fluff time.



Lagi lagi dan lagi.

Junkyu, anak kelas XI MIPA 1. Untuk ke—34 kalinya mendapat perundungan verbal dan macam macam kejahila dari teman temannya.

“Cuit cuit si cupu udah dateng nih.” Ujar— Jeongwoo, salah satu murid yang selalu menjahili Junkyu sambil tertawa.

Jaehyuk di sebelahnya ikut tertawa, melihat penampilan Junkyu dari atas sampai bawah. “Jun harusnya lo malu pake begituan. Kaga ngerti fashion jaman sekarang apa?.”

Junkyu tidak merespon apa apa, masih tak perduli dengan orang orang yang mencibirnya. Dirinya bahkan menatap sinis ke seluruh murid yang tengah memandangnya, lalu beranjak untuk duduk di kursinya.

“Siapa nyuruh lo duduk?.” Suara berat milik— Watanabe Haruto, Most Wanted sekolah sekaligus Ketua kelas XI MIPA 1.

Haruto menghampiri Junkyu yang sama sekali tidak perduli.

Tak.

Junkyu mengangkat kepalanya. Haruto baru saja memukul meja tapat di depan muka Junkyu. Jelas, Junkyu tidak terima akan itu.

Dengan muka datar namun garang, Junkyu berdiri berhadapan dengan Haruto.

“Meja gue kenapa di pukul?.” Tanya Junkyu  menunjukkan muka datar yang garangnya di depan Haruto.

Haruto tersenyum tipis. Junkyu mengernyit. Apa baru saja Watanabe Haruto— orang yang selama ini tak pernah tersenyum kepadanya melainkan Haruto yang selalu menunjukkan kedatarannya tersenyum padanya?

Junkyu tak sadar mengedipkan matanya dua kali. Sangat lucu, di mata Haruto.

Namun Haruto segera sadar, mukanya berubah menjadi datar lagi. Sedikit mengangkat dagunya.

“Siapa yang suruh lo duduk?.” Junkyu tak percaya. Memangnya dia ini siapa? Jadi Junkyu harus di suruh dulu lalu boleh duduk, begitu?

Junkyu menghela napasnya. “Nggak ada yang nyuruh. Emang harus ada yang nyuruh gue?.”

Haruto tergelak, Junkyu semakin hari semakin berani membalasnya. Berarti, ada kemajuan, kan?

“Duduk. Istirahat gue tunggu di kantin.”
























“To, lo nungguin Junkyu mau ngapain dah?.”

“Diisengin lah woo. Ya kali di tembak.” Jawab Jaehyuk sembari tertawa kecil dan melahap Ayam Geprek-nya.

Jeongwoo ikut tertawa, sedangkan Haruto hanya diam dan menyeruput Es Teh-nya.

“Kalo ngga ada lo berdua udah gua tembak si Junkyu.”

Apa? Iya. Selama ini Haruto menyukai Junkyu.

Perlakuan yang di berikan untuk Junkyu selama ini hanya lah cara untuk dekat dengan Junkyu. Agar Junkyu tertarik padanya.

Karena jika Ia mengungkapkan perasaan terang terangan, pasti teman temannya akan menjauhinya. Sedangkan mereka saja tidak suka dengan Junkyu. Apa boleh buat.

Tapi Haruto yakin suatu hari nanti Junkyu akan menjadi miliknya. Entah bagaimana caranya, jalani saja dulu begini. Let it flow, kata Haruto.
















Junkyu mengingat perkataan Haruto tadi pagi sebelum masuk pelajaran. Junkyu sedari tadi sudah tidak ragu lagi bahwa Ia akan mendapat perlakuan jahil dari Haruto.

Namun aneh, Junkyu menurut begitu saja. Sekarang Ia sedang menuju kantin dengan cibiran cibiran di sekelilingnya. Tak apa, sudah biasa kata Junkyu.


















“Sst To! Junkyu tuh.”

Haruto yang melihat Junkyu memasuki area kantin segera berdiri dari kursinya, menghampiri Junkyu.

“Hai manis.” Junkyu menoleh. Oh, disini ternyata Haruto.

“Kenapa, Haruto? Ngapain lo nyuruh gue kesini?.” Junkyu bertanya— tetapi tidak menatap Haruto, Ia menatap lurus pemandangan kantin yang menampakkan ratusan orang tengah menyantap hidangan berbagai ragam.

“Menurut lo aja.” Junkyu mengernyit. Lalu kali ini Ia menatap Haruto dengan mukanya yang menyampaikan ekspresi bingung seakan meminta jawaban dan penjelasan.

Haruto yang melihat ekspresi muka Junkyu terkekeh pelan, sangan pelan. Tak mau teman temannya nampak.

Junkyu untuk kedua kalinya terkejut. Tapi Ia berusaha menetralkan ekspresi wajahnya dan yang terpenting adalah— detak jantungnya.

“Gih makan, gue bayarin. Pilih aja yang lo mau.” Kali ini bukan senyuman tipis. Melainkan senyuman lebar nan tulus milik Watanabe Haruto.

Untuk sekedar senyuman— Haruto yakin tidak akan ketahuan teman temannya dan murid murid yang lainnya. Karena posisi mereka sekarang berhadapan di depan kantin. Junkyu yang menghadap ke depan kantin, sedangkan Haruto yang menghadap ke luar kantin.

Junkyu mendecih. Apa apaan itu? Tak mungkin. Ia tahu ini hanya sebuah jebakan untuknya.

“Kenapa? Ngga percaya sama gue?.”

“Ngapain percaya sama lo. Ga guna.”

Haruto tersenyum. Junkyu sangat menggemaskan.

“Hari ini gue ga bakal gangguin lo, tenang aja.”

“Dah ya gue balik ke sana dulu. Oh iya, yang tadi gue beneran. Pilih aja yang lo mau, ntar gue yang bayar.”

Sebelum pergi dari hadapan Junkyu, Haruto terlihat mendekatkan wajahnya ke telinga Junkyu.

“Semangat belajar nya cantik.”





































Fool you to love you, to be continued.

Oneshoot - HarukyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang