5. Mina - Jam Tangan

1.7K 34 2
                                    

Warning. 🔞. Read at your own risk.

_______

"Oke ya, besok jangan lupa ada pemotretan jam 1 siang untuk promosi iklan wine! Jangan tidur larut lagi! Istirahat yang cukup, kulit kamu harus prima besok!" seloroh manajer baruku, Noren. Matanya fokus pada layar hp-nya tapi jarinya menunjukku.

Aku menghempaskan diri di kasur, mendengus kesal dan memutar-mutar wine dalam gelas lalu meminumnya. Rasa pahit dengan aroma manis buah berry menyebar di mulutku, namun spices aftertaste-nya membuatku sebal. Ini aroma yang kubenci. Aroma dan rasanya mengingatkanku pada mantan yang kubenci.

"Iya. Tapi jujur Ren, aku ga suka wine ini. Kan aku udah pernah bilang, aku ga bisa kerja dengan baik kalau aku ga suka dengan produknya. Bahkan di kontrak pun aku tulis lho, semua preferensi yang aku mau." Noren masih fokus pada hp-nya tapi dia bersungut-sungut mendengar keluhanku.

"Iya sayaaaang, I know! But this is your chance to shine! You need something to get you acknowledged as a high standard celebrity!" sahut Noren kesal. Dengan sekali gerakan, aku menenggak habis wine itu. Rasanya benar-benar tidak enak.

"Then I hope I won't have to drink this wine again in the future."

"Gotcha, Honey. Tadi sore upacara pernikahan dewan direktur Manopo Holding kan, yang kontrak kamu itu? Kamu pasti capek kan? Now go get some sleep! I still have something to do, so... bye!" Noren setengah berlari keluar dari kamar, meninggalkanku sendirian lagi.

Pernikahan dewan direktur Manopo Holding.

Wow.

Marriage of the year.

What a shame. Arjuna -- lelaki Don Juan itu menikahi putri satu-satunya penerus Manopo Holding only for his sake, to secure his place as one of the stakeholders of the company.

Anyway, it's not my business. Bukan urusanku.

Aku iri, gadis manis itu terjebak dalam lingkaran orang-orang gila jabatan. Dia tak tahu Arjuna hanya memanfaatkannya. Arjuna pun tak mungkin mencintai gadis sepolos dan seringkih itu. Lagipula, aku yakin dia tak tahu kalau Arjuna sudah dalam genggamanku. Gadis itu terlalu polos untuk melihat apa yang terjadi di sekitarnya. Kadang aku kasihan melihat gadis sepolos itu ada di tengah kegilaan orang-orang disekitarnya. Dia tak tahu apa-apa, tapi dia terseret-seret dan dipaksa mengorbankan kebahagiaannya demi orang-orang gila itu.

Aku membuka aplikasi pesan dan mengirimkan chat singkat untuk Arjuna.

[You look happy, Arjuna.]

Entah kenapa aku mengirim pesan itu. Mungkin aku cemburu?

Aku berjalan menuju balkon, membiarkan angin dingin malam menerpa wajahku. Pemandangan kota dari atas sini tak seindah biasanya. Awan hitam menggantung di langit, hanya sedikit bintang yang terlihat. Daripada bintang, gemerlap lampu dari bawah sana lebih indah seperti membuka kotak perhiasan. Aku menatap jam tangan cantik dan mewah pemberian Arjuna. Jarum pendeknya menunjukkan pukul 1.30 malam.

Aku beranjak mengganti dress yang aku pakai di pernikahan Juna dengan lingerie satin putih dari Carine Gilson, lengkap dengan kimononya. Dengan santai, aku ambil sebotol port wine kesukaanku dan kue coklat lalu ku taruh di meja kecil beranda dan memakan kue itu.

Guilty pleasure. Sebagai model, aku harus menjaga berat badanku mati-matian demi bisa terus bekerja sebagai model. Tapi pernikahan ini cukup membuatku sedikit shock. Aku tak menyangka Arjuna akan menikah secepat ini dengan gadis itu. Aku kira Arjuna masih belum mau terikat dengan pernikahan. Arjuna memang selalu bertindak semaunya, tapi tak kusangka ia mau menikah. Aku pikir aku cukup spesial di hatinya saat dia memberiku jam tangan mahal ini.

[M] KALOPSIA | jaeminju markriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang