Sesampainya di pondok pesantren Nurul Qodim, Rara, Ibunda Azmi dan Ibunda Aisa memasuki pondok dengan berlawanan arah. Ibunda Aisa menuju asrama putri dan Ibunda Azmi menuju asrama putra.
Tetapi, sebelum memasuki ruang aula untuk menemui sang anak sulung, langkah Ibunda Azmi terhenti karena Rara berpamitan ingin pergi ke toilet. Rara melangkah menjauh dari sang Ibu yang terus melanjutkan langkahnya memasuki ruang aula. Sementara, Rara berlari kecil keluar asrama putra dan memasuki asrama putri guna mencari toilet.
Saking tak tahan menahan air kecil, Rara mempercepat larinya hingga tersandung dan terjatuh. Aisa yang sedang melintas di area tersebut melihat gadis kecil yang tampak jelas raut wajahnya sedang menahan sakit.
"Kak Wirda, Veve ... kalian duluan aja ke aula, nanti aku nyusul."
"Kamu mau ke mana, Sa?"
"Aku mau bantuin anak kecil itu." Telunjuk Aisa menunjuk Rara yang masih terduduk di tanah sembari memegangi kakinya. "Kayaknya anak itu kesakitan kakinya. Kalian duluan aja, takut orang tua kalian udah nungguin," titah Aisa.
"Ya udah, kita duluan ya," timpal Veve.
Aisa mengangguk, lalu Wirda dan Veve meninggalkan Aisa. Aisa melangkahkan kakinya mendekati gadis kecil itu dan berniat membantunya. Aisa menjongkokkan tubuhnya.
"Assalamu'alaikum." Empat mata itu saling beradu pandang beberapa detik sebelum Aisa melanjutkan kembali ucapannya. "Kenapa, Dek?"
"Kaki aku sakit, Kak."
"Jatuh?" Rara mengangguk dengan ekspresi wajahnya yang sedang menahan sakit. "Kakak bantu ya?"
Rara tak lantas mengangguk begitu saja mendengar perkataan Aisa. Dia menatap Aisa terlebih dahulu, lalu berucap, "Maaf, ngerepotin."
Aisa tersenyum sembari membantu Rara berdiri dan melingkarkan salah satu tangan Rara ke lehernya, lalu memapahnya perlahan-lahan. "Membantu orang itu bukan hal yang merepotkan, malah menyenangkan." Aisa mendudukan tubuh Rara di tangga depan kelas.
Tangan Aisa merogoh saku gamisnya mencari sesuatu. Sedangkan, Rara meringis kesakitan dan berusaha menahan perih akibat luka di kakinya. Untung saja Aisa selalu siap siaga membawa plester di sakunya untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu pada dirinya atau pada orang lain.
"Kakak kasih plester dulu ya," tutur Aisa. "Udah selesai. Untung lukanya kecil," sambungnya lagi setelah selesai mengobati luka Rara.
"Makasih banyak, Kak. Lukanya emang nggak seberapa, tapi kayaknya keseleo deh, sakit soalnya."
"Sama-sama. Kalau gitu, coba kakak pijit sebentar, siapa tahu nanti mendingan sakitnya."
"Nggak usah, Kak." Rara menahan tangan Aisa yang hendak memijat kakinya.
"Nggak apa-apa." Aisa tersenyum ke arah Rara.
Di tengah-tengah kesibukan Aisa yang sedang memijat kaki Rara, tiba-tiba saja Rara menghentikan tangan Aisa yang sedang memijatnya dan membuat Aisa menatap wajah Rara.
"Kenapa? Terlalu kenceng ya? Sakit?" Rara menggeleng.
"Aku kebelet, Kak. Tadi tuh aku ke sini karena mau ke toilet. Boleh minta tolong anterin aku ke toilet nggak, Kak?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dalam Istikharah [On Going]
RomanceSemua berawal dari seorang santri yang jatuh cinta kepada santriwati.