20

4.8K 584 142
                                    

Ucapan adalah doa, mungkin inilah yang sedang kujalani, semalam diriku yang sebenarnya hanya ingin mengancam mas Danar akan mengatakan kepada orang tuanya akan di batalkannya acara ngunduh mantu, dan itu benar terjadi.

Dini hari di saat aku terbangun dari tidurku, dan kulihat mas Danar belum juga berada di sampingku, segera aku turun dari rajang, melangkahkan kakiku ketempat tujuanku bangun malam ini, menuju ke kamar mandi dan mengambil wudhu, ingin kutunaikan sholat malam, aku ingin mengadu kepada Tuhan, karena kini hanya kepadaNya diriku sanggup berkeluh kesah tentang apa yang kurasakan.

Dalam sujud terakhirku benar-benar aku meminta untuk menunjukan semua kebenaran yang terjadi, dan memohon petunjuk untukku bersikap, dalam tangis sesegukan, kudengar suara ketukan pintu kamarku.

Hingga di salam terakhir, dan ingin kupanjatkan doa, lagi-lagi pintu di ketuk dan kali ini di sertai panggilan suara dari mama untukku.

Masih dengan memakai mukena kubuka pintu kamar, karena dari suara mama terdengar jika ini sesuatu hal yang membuat mama panik.

"Iya ma"

"Ca, mas Danar kecelakaan"

Ucapan mama membuatku terdiam beberapa saat, hingga akhirnya suara papa membuatku kembali tersadar.

"Ganti baju ke rumah sakit sekarang"

Segera kembali masuk kedalam kamar, mengganti bajuku, meskipun hatiku di liputi amarah akan dirinya sebagai suamiku, tetapi rasa sayangku sebagai adik untuk kakak laki-laki ku yang juga menyayangiku sejak kecil itu tak bisa juga bisa ikut menjadi membencinya.

Penuh dengan kepanikan, memasukan barang-barang milikku seadanya kedalam tas, memakai kerudung instan yang tergantung di samping mukena, segera keluar kamar mengikuti mama dan papa yang juga berjalan cepat keluar rumah.

Mama sudah menangis, papa mengendarai mobil begitu kencang, beruntungnya jalanan begitu sepi, aku hanya mampu memanjatkan doa untuk kakak ku, mas Danar.

Kekecewaan itu kini bukan hanya kurasakan tetapi juga di rasakan orang tua mas Danar, kala teman dari mas Danar menjelaskan jika kecelakaan itu terjadi dengan dua korban di dalam mobil, yaitu mas Danar dan mbak Rima.

Aku memilih duduk di ruang tunggu luar IGD, mama di temani dokter Rehan sahabat mas Danar untuk melihat kondisi sang putra, sedangkan papa mengurus adminitrasi dan pihak berwajib, karena kecelakaan lalu lintas ini memakan korban lain, yang tak lain mobil yang di kendarai mas Danar menabrak pengguna jalan lainnya.

Bingung harus bagaimana bersikap, disatu sisi sebagai adik aku sangat sedih tetapi jika kuposisikan diriku sebagai istrinya aku begitu marah, karena dari riwayat panggilan telepon di ponselku semalam mbak Rima yang menghubungiku dan terjawab oleh mas Danar, tak lama setelah itu mereka bertemu hingga dini hari mereka mengalami kecelakaan.

"Eca"

"Iya mas"

Dokter Rehan sahabat mas Danar berdiri di depanku, mengusap pundakku, beliau sama seperti mas Danar sosok kakak yang baik, meskipun kami kenal sejak aku tinggal di Yogja, dan sering di ajak mas Danar main bersama teman-temannya, atau sekedar teman mas Danar ini main kerumah mama, sehingga aku pun menjadi adik baginya.

"Sabar ya, yuk masuk kedalam Danar mau di bawa keruang operasi"

"Parah ya mas?"

"Lumayan, doa aja semoga enggak apa-apa"

Tak tega untuk masuk ketempat mas Danar terbaring, terdengar suara mas Danar berteriak-teriak, membuat pertanyaan dalam benakku begitu banyak.

"Mas Danar kenapa mas?"

"Itu alam bawah sadarnya, kepalanya yang cedera"

Penjelasan singkat dokter Rehan membuatku cukup mengerti tentang keadaan mas Danar saat ini.

"Eca, Eca, Eca"

Teriakan mas Danar begitu jelas memanggil namaku, dan itu membuat dadaku sesak saat ini entah sakit akan penghianatannya atau kasihan melihat kondisinya.

Dan suara tangisan di samping ranjang mas Danar, yaitu orang tua mbak Rima juga tak kalah histeris, sedikit banyak memaki suamiku.

Aku kembali keluar, tak ingin kusaksikan dan kudengarkan apa yang ada di dalam IGD.

Hingga di saat kumandang subuh, papa terlihat berjalan menuju tempatku bersandar, di lantai lorong penghubung IGD dan ruang operasi.

"Ca, sholat dulu yuk, ajak mama ya"

Kuanggukan kepalaku, berjalan mengikuti papa ketempat mama yang sudah menangis sejak di rumah hingga kini air mata itu masih terus menetes.

"Ma, ayo ke mushola"

"Eca, maafin mas Danar ya nduk"

Tangis mama kembali terdengar keras, mungkin kini beliau di hinggapi rasa bersalah juga kepadaku, kembali memohon maaf atas putranya, atas beliau sendiri yang tak mengerti keadaan rumah tanggaku dan mas Danar.

Sedih itu pasti tapi rasa kecewa itu lebih tinggi, bayang-bayang sebuah hubungan mas Danar itu lebih jelas dalam otakku, hingga amarahku lebih dominan menyelimuti hatiku.

Tak ada lagi air mata yang keluar dari mataku, taka ada lagi suara yang keluar dari bibirku, selain ungkapan hati yang hanya terpendam di dalamnya.

Usai sholat subuh, aku dan mama kembali ke ruang tunggu di depan kamar operasi, dokter Rehan membawakan kami minuman manis yang hangat, tetapi berita besar dari keluarga mbak Rima membuat diriku semakin memupuk rasa kecewa ini menjadi rasa benci.

Mbak Rima keguguran, dan keluarganya meminta pertanggung jawaban dari mas Danar. Sungguh luar biasa sakit yang kau berikan kepada adik mu ini mas.

"Hamil?"

Mama memeluku dalam tangisnya, sedangkan diriku tak ada air mata setetespun dari mataku.

"Satu bulan"

Kakak dari mbak Rima berbicara dengan papa, jadi usia kandungannya satu bulan, itu berarti selama ini mereka masih melakukan hubungan suami isteri.

Hingga beberapa jam operasi mas Danar belum selesai, kondisi mama begitu kacau, tak mungkin aku akan menambah beban mama untuk saat ini, bagaimana tidak keluarga mbak Rima menuntut pertanggung jawaban, sedangkan aku disini adalah batu sandungan untuk hubungan sepasang kekasih itu.

"Pa, ini gimana?"

Papa terlihat mengurut keningnya, wajahnya terlihat tak kalah kacau dari mama, tetapi beliau tetap bertahan untuk tegar menghadapi masalah sang putra.

"Pa, Ma, Eca lebih baik memang tidak menjadi penghalang bagi mas dan Mbak Rima"

"Maksud kamu gimana Ca?"

"Mas harus bertanggung jawab kepada mbak Rima, Eca bisa cerai sama mas Danar"



Tbc

Jodoh Dentist (Tersedia Lengkap Di Ebook)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang