"Adek kamu dimana?"
Ketika Suhaa baru saja membuka pintu rumahnya, ia langsung berkerut kening kesal karena perasaannya tiba-tiba memburuk saat melihat ibunya duduk di sofa sambil menatapnya tajam.
Suhaa memilih untuk tidak mendengarkan dan lebih memilih untuk mengabaikan Santi. Bukannya melangkah ke arah sang ibu, Suhaa malah melangkah ke arah dapur untuk mencari minum dan membasahi tenggorokannya.
Santiana, ibunda dari Suhaa Gibran Adiratna. Wanita paling egois dalam hidup Suhaa, wanita yang telah melahirkannya namun sekali pun tak pernah menyayanginya.
"Kamu nggak denger mama bilang apa?! Jangan kurang ajar kamu..," ujar Santi sambil berjalan menuju Suhaa. Ia juga menunjuk-nunjuk kepada Suhaa dengan keras beberapa kali karena merasa kesal.
Suhaa masih diam, ia hanya menganggap jika sang ibu hanyalah angin yang datang menyapu bersih perasaan senangnya.
Padahal Suhaa baru saja mendapat hari yang cukup baik bersama Leya dan teman-temannya, tetapi ibunya malah memporak-porandakan perasaannya.
"Kamu denger nggak mama bilang apa?! Heh, denger nggak kamu?!" Santi merasa kesal, ia lantas menarik kerah seragam milik Suhaa sambil melototi nya.
"Mama pulang aja, Ara nggak ada di rumah." Suhaa melepaskan tangan ibunya dengan lembut tak berniat mengundang masalah.
"Kemana? Ara kemana?" sang ibu segera bertanya lagi, kali ini ia mulai tenang dan tak berteriak lagi.
"Nginep di rumah temen katanya, Suhaa juga nggak tau temen yang mana.." balas Suhaa cuek sambil melangkah ke arah kamar dengan tas ransel yang di seret.
"Mama pulang aja.. Suhaa mau istirahat." setelah itu, Suhaa mengunci pintu kamarnya rapat-rapat lalu segera mengenakan earphone agar suara ibunya tidak menganggu aktivitas nya.
Nafas Suhaa terasa berat saat dirinya telah berada di atas ranjang dengan posisi tengkurap sambil menatap layar ponselnya.
Ia benar-benar terganggu dengan kedatangan ibunya. Bahkan Santi belum pulang bahkan setelah Suhaa tak memperdulikan apa kata ibunya.
Sang ibu malah memukul-mukul pintu kamarnya tanpa jeda sambil berteriak kencang. Ingin rasanya Suhaa pergi dari sana dan mencari tempat yang senyap jauh dari ibunya.
Benar-benar hari yang melelahkan. Suhaa tak bisa tidur, matanya tak mau terpejam, pengap di dalam kamar juga membuat Suhaa semakin sulit untuk tidur. Sekarang ia harus bagaimana? Apakah ia harus menunggu sampai ibunya pulang?.
***
***
Semua makan malam yang telah masuk ke dalam perut Leya kembali di muntah kan. Entah mengapa perut Leya tak mau menerima makanan apapun yang ia telan.Cairan kekuning-kuningan dengan bau yang aneh terus keluar dari mulut Leya. Tenggorokan Leya terasa perih, hidungnya merah dan matanya hampir mengeluarkan air mata.
Leya masih terpaku di depan wastafel berdiri di dalam kamar mandinya sambil menunggu cairan itu keluar lagi. Sementara keluarganya menunggu Leya dengan panik di luar kamar mandi.
Setelah merasa semua isi perutnya keluar, Leya beralih membasuh mulutnya dan beralih menggosok giginya dengan buru-buru agar anggota keluarganya tidak khawatir lagi.
Seperti biasa, kepala Leya kembali sakit setelah muntah, entah apa yang terjadi pada dirinya. Mungkin efek dari penyiksaan itu kembali terlihat.
Setelah Leya membersihkan mulut dan mencuci wajahnya, Leya segera keluar dari kamar mandi dan menemui keluarganya yang sedari tadi menunggu dengan perasaan cemas.
Begitu pintu terbuka, Darna yang tadinya duduk di ranjang langsung melangkah ke arah Leya dengan cepat.
"Kamu nggak apa-apa 'kan, sayang? Ada yang sakit?" Darna bertanya dengan cemas sambil menyentuh kedua pipi Leya.
Leya hanya menggeleng singkat. Kondisinya memang agak buruk, tetapi Leya bisa menahannya, lagipula sebentar lagi Leya akan tidur.
Leya berlatih menatap ayahnya yang juga terlihat khawatir sama seperti ibunya, adiknya juga terlihat seperti itu.
"Leya udah nggak apa-apa kok. Mama sama ayah istirahat aja gih, Satria juga istirahat aja. Leya juga udah ngantuk.." ucap Leya sambil tersenyum manis.
Bibir dan mata Leya masih membentuk bulan sabit sambil melihat ayah, ibu dan adiknya mulai keluar dari kamar satu persatu hingga ia memudarkan senyumannya saat keluarganya telah pergi.
Leya beralih ke atas ranjang dan duduk sambil memeluk lutut, ia lalu menatap ke arah jendela yang masih terbuka dan memperlihatkan langit malam yang berawan tanpa memperlihatkan satupun bintang.
Dada Leya terasa sesak saat bernafas, seolah-olah ada sesuatu yang menahan Leya untuk bernafas. Sakit di kepalanya juga kembali terasa.
Dengan nafas terengah-engah, Leya memukul-mukul dadanya beberapa kali dan beralih memukul-mukul kepalanya dengan kedua tangan dan kembali memeluk lututnya.
"Eh.. kok ada tali?" Leya bergumam sambil terus melihat ke arah jendela. Sepertinya ia menemukan sesuatu di sana.
Halusinasi? Sepertinya iya.
Dalam halusinasi Leya, ia melihat sebuah tali menggantung tepat di depan jendela kamarnya. Anehnya bentuk dari tali itu membentuk simpul gantung yang biasa di pakai untuk menghukum gantung seorang tahanan.
Mata yang berlinang air mata itu terus menatap simpul gantung itu dengan bingung. Perlahan kepala Leya miring karena merasa penasaran.
Karena merasa aneh, Leya mengedipkan mata beberapa kali dan mengalihkan pandangan ke arah nakas. Di nakas samping kanannya ia kembali menemukan benda aneh.
Di atas nakas terdapat sebuah botol obat dengan pisau kecil serta jarum suntik di samping botol obat itu. Leya merasa tidak pernah mengonsumsi obat-obatan seperti itu.
Yang terlihat oleh mata Leya, hanyalah halusinasi.
Leya kembali mengedipkan mata dan beralih menatap jendela lagi. Kembali Leya menemukan sebuah simpul gantung, kali ini simpul gantung itu memperlihatkan 'diri Aleya' yang sedang gantung diri.
Bukannya takut, Leya tersenyum senang. Ia melihat raut wajah dari 'Aleya' terlihat sangat segar dan berseri-seri, seolah-olah 'Aleya' melakukan hal itu untuk mengurangi bebannya.
Saking segarnya wajah 'Aleya', ia terlihat seperti sedang tertidur, bukannya mati karena bunuh diri.
".. kalau Leya gantung diri, beban di punggung Leya bakal ilang, kan?.."
***
***
"Leya mana?"Agraham berhenti mengunyah roti lapisnya, ia malah menanyakan putrinya yang tak kunjung kelihatan di pagi yang cerah itu.
"Biarin Leya istirahat dulu, sehari juga nggak masalah. Mas bisa nelpon wali kelas Leya untuk minta izin, kan?" balas Darna sambil memberikan roti lapis kepada Satria.
"Loh, bukannya Leya bilang kalau dia udah nggak kenapa-napa? Kenapa sekarang mau kamu liburin?" Agraham kesal dengan sikap Darna yang memanjakan anaknya.
"Nggak, nggak bisa. Minggu depan Leya udah ulangan akhir semester, mana bisa dia malas-malasan begitu.." ucap Agraham sambil berdiri dari posisi duduknya.
Ia melangkah ke arah tangga untuk mencapai lantai atas. Setelah sampai di atas sana, Agraham berbelok ke arah kiri dan berhenti di depan pintu kamar Leya.
Agraham mengetuk keras pintu kamar Leya beberapa kali untuk membangunkan putrinya, "Leya.. bangun, waktunya sekolah!!"
Tak ada jawaban. Karena merasa kesal, Agraham segera merengsek masuk ke dalam kamar dan membangunkan Leya dengan tangannya sendiri.
Ketika ia telah berada di dalam kamar, ia melihat putrinya masih tertidur dalam posisi duduk sambil memeluk lututnya.
Segeralah Agraham meraih air di atas nakas dan memercikkan air itu ke arah wajah Aleya, "Leya.. bangun! Cepat bangun!"
Tentu saja Leya langsung bangun dari tidur nya karena merasakan cairan dingin pada wajahnya. Ketika kesadarannya telah terkumpul, Leya melihat ayahnya tengah berdiri di depannya dengan raut wajah marah.
"Bangun. Cepet mandi, ayah bakal nganterin kamu ke sekolah!" ujarnya lalu pergi meninggalkan kamar.
***
***
TOLONG BERIKAN KRITIK DAN SARAN JIKA PENULISANNYA KACAU ATAU ANEH ATAU SEBAGAINYA! AKU MAKSA!(+_+)TERIMA KASIH TELAH MAMPIR!!!

KAMU SEDANG MEMBACA
Menggapai Suhaa (END)
RomanceWARNING! (Peringatan!) Please everyone who sees this, please stop and never plagiarize/copy other people's work!!! I beg you so much! whoever it is! (Siapapun yang melihat ini, tolong berhenti dan jangan pernah menjiplak/menyalin karya orang lain...