"Aleya Naresha?"
Suara seorang guru yang mengabsen siswa-siswi di kelas Leya.
"Aleya Naresha? Leya ada?"
Kembali sang guru menyerukan nama Leya sambil kebingungan mencari gadis cerewet yang setiap harinya memamerkan senyum indahnya kepada siapapun.
Pantas saja kelas itu terasa sepi, guru dan teman-teman Leya kebingungan dengan kehadiran gadis itu akhir-akhir ini. Apakah Aleya sudah mulai malas untuk sekolah?
"M-maaf Bu, saya telat.."
Suara yang di kenali oleh semua orang di kelas itu, suara yang terdengar dari arah pintu kelas membuat semuanya menoleh secara bersamaan.
Di pintu kelas, Aleya terlihat sedang berdiri di dampingi oleh pria paruh baya di sebelah kanannya. Tentu semuanya tak tahu siapa pria itu kecuali Dela.
"Maaf Bu, anak saya terlambat bangun. Saya datang hanya untuk mengantar sekalian ingin bertemu wali kelas anak saya.." ucap Agraham dengan sopan kepada guru yang mengajar di kelas.
"Ah.. Mungkin Bu Lastri ada di kantor, silahkan ke kantor ya pak," ucap sang guru tak kalah sopan kepada sosok ayah dari salah satu siswi yang ia ajar.
"Terima kasih, kalau gitu saya titip anak saya.." balas Agraham tanpa memalingkan wajahnya dari guru itu.
Leya lalu mencium punggung tangan ayahnya sebelum sang ayah pergi dari sana. Agraham juga membalas hal itu dengan elusan tulus di daratkan pada pucuk kepala Leya.
Setelah Agraham pergi, Leya lekas masuk ke dalam kelas setelah meminta izin dengan sopan kepada Guru karena telah mengganggu proses belajar mengajar yang sedang berlangsung.
Leya mengeluarkan buku dan alat tulisnya dari tas ransel setelah dirinya duduk di bangkunya. Bahkan Leya mengabaikan panggilan dari Dela dan Suhaa.
Dengan cepat Leya menulis materi yang di berikan oleh guru agar catatannya tidak tertinggal dari teman-temannya.
"Lu nggak apa-apa, kan?" kembali Suhaa bertanya setelah kalimat pertamanya di abaikan oleh Leya. Bahkan tak sekalipun Leya meliriknya tadi.
Balasan Leya hanya berupa gelengan sambil tersenyum tipis sambil menoleh ke arah Suhaa sejenak lalu kembali fokus kepada papan tulis.
Jelas-jelas Leya tampak tak baik-baik saja. Suhaa melihat Leya sibuk melengkapi catatannya seakan-akan ia di tekan oleh sesuatu.
Bukannya penasaran atau semacamnya, ia lebih khawatir dengan kesehatan Leya akhir-akhir ini. Pasti teman-teman lainnya akan merasakan kekhawatiran yang sama.
Jika Suhaa kembali bertanya, sepertinya balasan Leya akan sama saja. Lebih baik ia menunggu waktu istirahat lalu bertanya lagi kepada Leya nantinya.
***
***
Waktu istirahat telah tiba. Tetapi Leya masih sibuk mencatat beberapa materi pelajaran minggu lalu."Leya, ke kantin yuk!" Seru Dela dengan riang sambil menghampiri meja Leya, "Ke kantin yuk, lanjutnya nanti aja pas selesai makan.."
"Maaf ya, Leya harus nyatat ini dulu.. kalian makan bareng aja bertiga, Leya bisa makan pas pulang sekolah," ujar Leya sambil tersenyum tanpa memalingkan wajahnya dari buku.
Ekspresi Dela berubah, sepertinya Leya akan tetap di tempatnya meski ia memintanya sebanyak apapun. Akhirnya Dela pasrah dan memilih menyerahkannya kepada Suhaa.
Karena biasanya Leya akan menuruti apapun yang di inginkan Suhaa, meskipun Suhaa meminta Leya untuk menemaninya ke kamar mandi sekalipun, walaupun Suhaa tak pernah meminta hal itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Menggapai Suhaa (END)
RomanceWARNING! (Peringatan!) Please everyone who sees this, please stop and never plagiarize/copy other people's work!!! I beg you so much! whoever it is! (Siapapun yang melihat ini, tolong berhenti dan jangan pernah menjiplak/menyalin karya orang lain...