Ketika mata Aleya terbuka, matanya langsung bersirobok dengan cahaya lampu yang membuat Leya beberapa kali mengerjapkan mata.
Ah, sepertinya Leya tau bau ini..
Bau khas yang sering Leya cium, bau yang biasanya ada di gedung dimana orang-orang sakit dirawat. Sepertinya ia sudah tak sadarkan diri selama seharian penuh, lagi.
Tangan kiri Leya terasa sakit karena selang infus yang menempel di punggung tangannya. Ia sama sekali tak mampu bergerak sendiri.
Ia haus, dan juga lapar. Ia perlu membasahi tenggorokannya dengan air agar rasa hausnya hilang.
"Kamu mau minum?"
Suara yang sangat dikenali olehnya langsung membuat Leya menoleh ke arah kanan. Ia langsung bersirobok mata dengan sang ayah yang saat ini tengah duduk di kursi sudut kamar.
Sang ayah mendekat ke arah Leya sambil menyeret pelan kursi yang ia duduki berniat untuk membantu putrinya duduk dan bersandar di kepala kasur.
Saat tangan Agraham menyentuh pundaknya, Leya terkesiap karena merasa takut, entah apa alasannya. Tetapi hal itu sama sekali tak membuat Agraham gentar, ia tetap membantu Leya untuk duduk di atas kasur.
Setelah Leya telah duduk dan bersandar di kepala kasur, Agraham meraih air di nakas untuk ia berikan kepada Leya. Tak lupa ia menyediakan sedotan agar Leya bisa lebih mudah saat meminumnya.
Aleya dengan cepat meminum air itu hingga menyisakan setengah gelas saja. Ia begitu haus dan juga lapar, sejak siang kemarin ia tak mengisi perutnya, jadi wajar jika ia lapar.
Leya yang masih memegang gelas itu tiba-tiba terkejut lagi karena Agraham yang kembali menyentuh bahunya. Karena terkejut, Aleya melepaskan pegangan pada gelasnya dan membuat gelas itu terjatuh.
Kecemasan langsung menguasai dirinya, ia akan dimarahi lagi oleh ayahnya, "M-maaf ayah, biar Leya yang pungut.. maafin Leya."
Baru saja ingin turun dari kasur, Agraham langsung menghentikan pergerakan Leya, "Nggak, duduk aja. Biar ayah yang pungut."
"E-enggak, Leya aja yang pungut.. Leya a-aja.." kembali Leya memaksakan diri untuk turun dari kasur dan kembali dicegah oleh Agraham yang telah berlutut untuk memungut serpihan kaca itu.
"Duduk aja Leya..," ujarnya sambil menepuk pelan paha Leya yang terbungkus selimut.
Akhirnya Leya menyerah. Ia hanya duduk memperhatikan ayahnya yang tengah berlutut dan memungut satu-persatu serpihan kaca yang baru saja ia pecahkan.
Setelah selesai, Agraham meraih tisu dan kantung plastik hitam yang tersedia dan memasukkan serpihan kaca itu dengan hati-hati.
"Ayah panggil mama kamu dulu, mungkin udah balik dari ruang dokter.., kamu makan aja sama mama, paham?" di akhir kalimat Agraham sedikit berbicara dengan nada tegas agar Leya mau menurut.
Leya hanya mengangguk mengerti, ia tak boleh mengusik suasana hati sang ayah, akan sangat gawat jika Agraham kembali marah.
"Ayah keluar dulu.." Agraham melangkah keluar dari kamar sambil membawa kantung plastik tadi untuk ia buang ke tempat sampah.
***
***
Saat ini, Darna sama sekali tak bisa melepaskan pelukannya dari sang putri tercinta. Ia benar-benar khawatir akibat insiden kemarin.Leya sudah tak sadarkan diri sejak kemarin sore hingga saat ini, putrinya itu pasti lapar karena terbaring seharian di kasur.
"Mama, Leya udah nggak apa-apa..," ucap Leya sambil tersenyum lembut.
Leya merasa kasihan dengan adiknya yang dari tadi berdiri sambil memperhatikan sang ibu dan Leya yang tengah berbagi kasih sayang.
Satria tampak sangat ingin memeluk sang kakak saat itu juga, tetapi sang ibu yang begitu lama memeluk kakaknya membuat dirinya merasa iri pada ibunya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Menggapai Suhaa (END)
RomantikWARNING! (Peringatan!) Please everyone who sees this, please stop and never plagiarize/copy other people's work!!! I beg you so much! whoever it is! (Siapapun yang melihat ini, tolong berhenti dan jangan pernah menjiplak/menyalin karya orang lain...