Kini kehidupan seolah kembali mempermainkan Kiyana Siskova, baru saja ia merajut asa dengan orang yang sedikit banyak merubah kehidupannya, namun kini ia kembali dipaksa untuk tidak bersamanya lagi, Kiyana benar-benar memilih menjauhi Galen, agar Galen bisa mencapai impiannya dan juga demi kesembuhan Alivia. Ia rela tersiksa batin untuk orang terkasih. Hari terakhir ujian nasional akan menjadi saat-saat terakhirnya bersama Galen, karena Kiyana sudah bertekad ketika lonceng jam pelajaran terakhir berbunyi, ia akan benar-benar meninggalkan Galen.
"Ayo, kita pulang! Tapi sebelumnya, gue mau ajak lo makan dulu."
Kiyana tidak menggubris ajakan Galen, ia berlalu pergi begitu saja hendak keluar kelas. Yang mana di depan kelas sudah ada Arden yang menunggunya. Galen berusaha mengejar Kiyana dan menarik tangannya agar Kiyana tidak pergi meninggalkannya.
"Lepasin tangan gue!" pinta Kiyana.
"Lo kenapa sih, Ki? Kalau gue ada salah, gue minta maaf."
"Lo nggak ada salah apapun sama gue!"
"Kalau gue nggak ada salah, ayo kita pulang bareng."
"Gue nggak mau pulang sama lo."
Galen baru saja hendak menuntun Kiyana menuju parkiran, tapi Arden mencegahnya.
"Dia nggak mau pulang sama lo, dia mau pulang bareng sama gue. Iya kan, Ki?"
Galen menatap Arden dengan tatapan bengis, lalu ia berganti menatap Kiyana dengan tatapan sendu, mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin Kiyana pulang bersama dengan Arden.
"Iya kan, Ki? Lo pulang sama gue?" Tanya Arden dengan tampang jumawa.
Kiyana menunduk. "I-iya gue pulang sama lo!"
Pegangan tangan yang erat, kini terlepas dengan sendirinya, Galen menatap kepergian Kiyana bersama Arden dengan perasaan getir. Kiyana memang pulang bersama dengan Arden, tapi tiba-tiba saja, Kiyana meminta menurunkannya di tengah jalan.
"Berhenti, gue mau turun di sini!" pinta Kiyana kepada Arden.
"Rumah sakit masih jauh, kenapa lo berhenti di sini?" Tanya Arden dengan menaikkan kedua alis matanya.
"Gue turutin kemauan lo, bukan berarti lo bisa seenaknya sama gue!"
"Gue nggak bisa turunin lo di sini, gue anter lo sampai rumah sakit."
"Gue bilang stop! Atau—lo mau gue lompat?"
"Oke-oke gue berhenti."
Ketika mobil berhenti, Kiyana dengan cepat turun dari dalam mobil, ia butuh waktu sendiri untuk menyembuhkan luka dalam hatinya. Arden tidak bisa mencegahnya, ia pun pergi meninggalkan Kiyana. Gadis berambut panjang sepinggang berjalan gontai menyusuri jalanan ibukota yang padat dan ramai, sampai ia berhenti di toko kue miliknya, dan ia berniat membersihkan toko kuenya. Pemandangan yang dilihatnya sama sekali tak mengindahkan penglihatannya, toko kuenya persis seperti kapal yang meledak hancur berkeping-keping.
"Ya ampun ...," gumam Kiyana.
Hari ini adalah hari pertama Kiyana melihat toko kuenya setelah terjadi penusukkan pada Alivia beberapa waktu lalu. Dengan alat pembersih seadanya, Kiyana berusaha membersihkannya, ia berjalan kearah pantry hendak membersihkan bagian sana. Sekelebat bayangan ketika ia melepar tepung kepada Galen terlintas dibenaknya, ia tersenyum pilu, suasana yang mungkin saja tidak akan pernah terulang lagi.
"Sorry, jika kita selalu bersama. Lo akan sulit meraih impian lo. Terima kasih berkat lo, gue jadi tau rasanya patah hati itu seperti apa?" Kiyana tersenyum kecut.

KAMU SEDANG MEMBACA
Deskripsi (TAMAT)
Teen FictionBad girl julukan yang selalu disematkan untuk Kiyana Siskova atau yang akrab disapa Kiya. Sebuah karma membuat Kiyana menyadari kesalahan-kesalahan karena telah mempermainkan arti sebuah cinta. Galen Basil adalah pria pertama yang membuatnya merasak...