"katakan dengan jujur, anakmu perempuan?"
Sangat menyakitkan saat mendengar Jungkook mengatakan anaknya seperti itu. Seolah menyiratkan jika anaknya bukan anak Jungkook
Harapan masih bisa jieun pertahankan pada Jungkook. Berharap jika Jungkook hanya ingin memastikan dan masih mau menerima anaknya
Jieun menghela nafas beberapa kali menghilangkan rasa sakitnya yang sayangnya Jungkook tak menyadari hal itu
"Ya, anak kita perempuan oppa" Jungkook memalingkan wajahnya, tertawa begitu pelan merasa bodoh karena ia sudah begitu yakin anaknya laki laki yang akan menjadi pewaris keluarga nya
"Kau mengetahui semua ini dan kau tidak memberitahu?"
"A-aku baru mengetahui nya oppa" tangan jieun berusaha untuk memegang Jungkook, tapi dengan keras Jungkook menepis tangan jieun
"Kubilang untuk memberitahu semuanya kepadaku. Kenapa aku harus mengetahui ini dari orang lain?"
Dari orang lain? Apa mungkin Jungkook sempat mengetahui ini semua saat pergi mengangkat telponnya?
"Kim yeri. Dia yang memberitahu. Dan kau tau? Keluargaku sudah mengetahui hal ini. Aku bahkan sudah mengatakan pada semua orang jika anakku laki laki dan akan menjadi penerus keluargaku. Tapi yang kudapatkan hanya sebaliknya" seolah menjawab pertanyaan jieun, Jungkook menampar jieun dengan fakta yang dimilikinya seolah semua ini adalah kesalahannya karena harus mengandung anak perempuan
"Op-oppa, tapi kau sudah berjanji akan menerima anak kita meski perempuan. Oppa tidak akan melanggar janjimu bukan?" Jungkook menghempaskan tangan jieun untuk kedua kalinya
Rasa kecewa tersirat sekali pada wajah jungkook tapi dengan bodohnya jieun tak berhenti berharap pada jungkook
" Berikan aku waktu untuk memikirkannya dan kuharap kau Jangan menggangguku"
*****
Sejak dulu, jieun selalu terbiasa dengan kata menunggu. Karena sering melakukan hal itu, jieun merasa menunggu sudah menjadi kesehariannya. Setiap hari bahkan setiap jam jieun selalu menunggu dalam beberapa hal . Menunggu ayahnya datang dan memberikan perhatiaan kepadanya. Menunggu ibunya yang pulang begitu larut karena harus bekerja. Dan menunggu kebahagian yang tak kunjung tuhan berikan
Semua itu terasa mudah dan bisa di lalui oleh jieun
Kehamilannya bukan lagi dalam usia muda. Usia kandungannya sudah mencapai 8 bulan dan semakin hari Pergerakan jieun semakin terbatas dengan seringnya ia merasakan keram perut yang terkadang begitu menyakitkan. Jieun membutuhkan seseorang di sampingnya. Jieun membutuhkan Jungkook Tapi yang Jungkook lakukan sekarang justru menjauhi tanpa ingin jieun dekati Sama sekali
Sudah satu Minggu berjalan semenjak kejadian itu. Seharusnya tepat hati ini, jieun dan Jungkook akan mendaftar kan pernikahan Mereka secara hukum. tapi angan hanyalah angan. Jangankan pergi bersama, hanya untuk berbicara saja Jungkook sama sekali tak ingin melakukannya dan menjauhinya dengan berbagai cara. Seperti orang asing yang tak saling kenal, Jungkook benar benar mengacuhkan hal hal yang berhubungan dengan jieun. Termasuk pindah ke kamar tamu dan menghiraukan Pesan dan panggilan yang di kirimkan jieun
Menyakitkan tapi memang inilah yang terjadi
"Kau ada waktu? Kita harus berbicara" untuk pertama kalinya Jungkook mengeluarkan suara untuk berbicara dengannya
Jieun berharap hubungan mereka akan membaik setelah mereka berbicara tapi melihat mimik wajah Jungkook yang tak berubah semenjak kejadian itu membuat jieun ragu
Ragu semuanya akan baik Baik saja
Jungkook duduk di tepian kasur dengan masih menjaga jarak dengan jieun. Suasana di antara mereka begitu canggung. Jika dulu, Jungkook tak pernah meeatkan satu hari pun untuk menyapa anaknya tapi kini yang terjadi justru sebaliknya. Melihat nya saja Jungkook engan melakukan nya apalagi melajukan hal dia dia seperti itu
"Aku sudah memikirkan semua ini. Dan kuharap kau menerima semua ini Lee jieun" jieun menatap Jungkook menunggu jawabannya
Helaan nafas begitu terdengar dari Jungkook sebelum melanjutkan perkataannya
"Anak kita. Aku sudah memutuskan untuk memasukannya ke panti asuhan keluargaku untuk sementara"
Jieun memejamkan matanya. Semua janji yang di katakan Jungkook ternyata hanya angan semata. Tak menyangka jika keputusan Jungkook begitu kejam hingga harus memasukan anaknya ke sebuah panti asuhan. Tak ada kepastian Jungkook akan memasukan ke panti asuhan seberapa lama. Kata sementara itu, mungkin berarti sangat lama atau mungkin anaknya akan terus berada di sana
"Bagaimana jika aku tak mau?" Jungkook mendekat memegang tangan jieun. Ini adalah kali pertama Jungkook mau kembali memegang tangannya tapi bukan senang akan semua perlakuan Jungkook, jieun menepis tangan Jungkook menjauh darinya
"Ini semua demi kebaikan kita. Lagi pula, kita masih bisa melihatnya di panti asuhan nanti. Memasukannya ke panti asuhan bukan hal yang buruk ji"
Bukan hal terburuk? Jungkook dengan mudahnya mengatakan hal itu, sedangkan baginya yang terus merasakan keberadaan anaknya tak bisa melakukan hal itu begitu saja. Setidaknya jieun masih mempunyai hati untuk tidak melakukan ini semua
"Jeon Jungkook, aku akan menanyakan ini untuk terakhir kalinya. Apa kau benar benar masih tidak mengingatku?" Pertanyaan itu akhirnya di ungkapkan oleh jieun. tatapan matanya tersirat keseriusan tak menganggap semua ini sebagai lelucon sama sekali
"Kenapa? Kenapa kau sering menanyakan hal itu kepadaku? Apa kita pernah bertemu sebelum perjanjian kontrak itu?"
Jawaban Jungkook telah menjalankan semuanya. Setelah apa yang di lewatinya selama ini, jieun merasa bodoh karena tak menanyakan hal ini sejak awal. Semua kebahagiaan yang telah di rasakan jieun, rasanya hilang semua. Tak ada alasan lagi jieun untuk bertahan
"Kau akan memikirkan semua yang ku katakan kan ji? Ini semua demi kebaikan kita"
"Aku akan memikirkannya. Kau boleh keluar" Jungkook mengangguk mendengar jawaban jieun. Ya, jieun memang harus memikirkan semua ini
"Baiklah. Kau bisa istirahat. Karena besok lusa, kita harus pergi untuk mendaftarkan pernikahan kita dan juga memeriksa kandungan mu"
*****
Tanpa membawa apapun, jieun bersiap pergi ke suatu tempat. Jungkook sedang tak ada di rumah saat ini, jadi jieun hanya meninggalkan sebuah pesan singkat yang jieun berikan untuk memberitahu kepergiannya
Dan Jieun hanya berharap Jungkook akan membaca pesannya
"Oppa, Lakukan yang kau mau. aku akan pergi ke rumah teman. Jangan menungguku. Aku akan pulang dengan cepat"
*

KAMU SEDANG MEMBACA
Remember Me? [Jeon Jungkook - Lee Jieun ]
FanfictionHarta adalah segalanya bukan?maka Jungkook akan mendapatkan segalanya dan mempertahankannya dengan cara apapun Memiliki anak tanpa sebuah status pernikahan. Tentu saja mencari wanita yang bisa ia pinjami rahimnya tak bisa ia dapatkan dengan mudah Ta...