Reginal mengendarai motor kesayangannya dengan santai, sesekali dia mengedarkan pandangannya melihat suasana jalanan yang dipenuhi dengan pepohonan hijau yang sepi ini. Dia sengaja tidak melewati jalan raya, karena dapat dipastikan sangat ramai disaat jam pulang sekolah seperti sekarang ini. Reginal hanya tidak ingin terjebak dalam kemacetan yang membuatnya harus menunggu lama diatas motor.
Laki-laki itu melihat ke arah kaca spion. Di sana, kira-kira satu meter dibelakang Reginal, segerombol laki-laki membunyikan klakson dan mengendarai motornya dengan sembarang. Reginal tahu siapa mereka, geng motor yang selalu mencari masalah kepada Sabana itu belum juga kapok.
“Berhenti!” teriak salah satu laki-laki itu.
Tanpa memperdulikan teriakan ketua geng motor itu, Reginal dengan tenang melanjutkan perjalanannya. Jika dipikir-pikir, Reginal juga akan kalah jika meladeni mereka. Bukan karena Reginal lemah, tetapi jumlah mereka lebih banyak dan Reginal hanya sendirian. Bisa-bisa dia terkapar karena mereka main keroyokan.
“Woy! Budek lo ya?!” teriak salah satu anggota geng motor itu lagi.
Masih sama, Reginal tetap melajukan motornya dengan santai, dia tidak ingin memancing keributan. Namun detik itu juga, laki-laki yang Reginal ketahui bernama Johan itu menghentikan motornya tepat di depan Reginal, membuat Reginal mengerem laju motornya secara mendadak.
Kira-kira ada lima orang yang sekarang mengepung Reginal, membuat Reginal berdecak kagum dengan mental geng motor musuhnya yang suka keroyokan.
Dengan santai Reginal turun dari motornya, melihat satu persatu orang yang menatap tajam dirinya.
“Mana Sabana?!” tanya Iqbal. Jelas Reginal mengenali laki-laki itu, dia ketua geng motor yang selama ini gemar sekali mencari keributan.
“Lo pikir gue nyokap Sabana?” ucap Reginal dengan wajah datar andalannya. Bahkan kini terlihat sangat datar, siapapun yang mendengarnya pun tidak yakin jika laki-laki bernama lengkap Reginal Axelo Nasution itu sedang melontarkan kalimat tanya.
“Bal, ternyata sampai sekarang lo masih banci aja ya? Satu, lawan lima? Lo jantan apa betina?” ujar Reginal sinis. Dalam hati dia menyalahkan dirinya yang berkata seperti itu. Karena dengan kalimat itu, Reginal yakin Iqbal tidak akan tinggal diam.
Bughh
Benar bukan? Satu pukulan mendarat sempurna diwajah Reginal. Laki-laki bernama lengkap Iqbal Pramudya itu memang tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Dia akan menyerang siapa saja yang berani mengusik dirinya.
“Shit!” umpat Reginal dengan senyum mengejek.
“Jawab gue! Mana ketua geng lo yang sok suci itu?!” lagi, laki-laki itu memberikan bogeman di rahang kanan Reginal. Reginal hanya diam, bukan dia tidak ingin membalas pukulan itu, hanya saja dia tidak bisa. Jelas Reginal tidak bisa membalas Iqbal, laki-laki itu sudah menyuruh temannya untuk memegang kedua tangan Reginal. Membuat Reginal diam tanpa melakukan perlawanan.
“Anjing ya! Muka gue rusak kalo gini cara mainnya lah, bisa gak sih gak usah tonjok wajah gue? Mau ditaruh dimana harga diri gue kalo wajah gue bonyok?” ucap Reginal membuat Iqbal membelakkan matanya terkejut. Namun tidak lama, dia kembali mengganti ekspresi terkejutnya itu dengan tatapan nyalang.
Semua anggota geng motor itupun sama terkejutnya dengan Iqbal. Jelas ini bukan Reginal yang sesungguhnya, Reginal hanya mencoba menirukan gaya tengil Oky untuk membuat Iqbal semakin geram.
Reginal sebenarnya juga tidak sepeduli itu dengan wajahnya, toh dia bisa menyembuhkan luka memar diwajahnya. Yang sekarang dia pikirkan adalah, bagaimana caranya dia menyembunyikan memar dari kedua orang tuanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Terkadang Kita Perlu Kecewa
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM BACA YA] Ini bukan kisah cinta Romeo dan Juliet. Ini hanyalah kisah cinta antara seorang gadis cantik bernama Chiara Zora Priyadutta dan dua laki-laki hebat yang selalu berusaha membuatnya bahagia. Chiara ingin mencintai tanpa a...