Pov kembali ke Sheza
Aku tahu akan bertemu dengannya, laki-laki yang pernah menjadi suamiku, laki-laki yang belum membuatku jatuh cinta tetapi telah menorehkan luka pada diriku dalam sebuah pernikahan.
Dahulunya, dia adalah sosok kakak bagiku, yang perhatian, menyayangiku, mengerti diriku, memanjakanku dengan uang jajan, yang meskipun suka menyuruh ini itu, tetapi aku tak keberatan sama sekali dengan itu.
Hingga keputusan Eyang akan perjodohan kami tiba, dan mengetahui sepak terjangnya dalam berpacaran, membuatku sedikit jijik akan dirinya.
Tetapi apa boleh buat demi orang tua kami, bentuk bakti kami kepada orang-orang yang kami sayangi, akhirnya pernikahan itu pun berlangsung.
Kakak iparku, kak Aisyah memberikan pesan padaku, jika surgaku berpindah pada dirinya ketika ijab kabul itu sudah terikrarkan, maka segala bentuk keburukan suami aku wajib menutupinya, segala bentuk kewajiban istri wajib kulakukan kepada suamiku, maka dengan belajar menerima itu semua, dan kuniatkan karena Allah, dan orang tua, kucoba menerima Danar sebagai suamiku.
Belajar bersabar, tak akan berbicara ketika aku sedang di penuhi amarah, karena ucapan seorang pemarah akan menyakiti hati tentunya.
Selalu kutanamkan dalam hati dan pikiranku, dia sebagai kakak begitu tanggung jawab kepadaku, insyallah sebagai seorang suami dirinya pasti akan lebih bertanggung jawab.
Tetapi itu semua berakhir kala dalam sebuah kecelakan dimana korbannya adalah dirinya dan sang kekasih, hingga membuat sang kekasih keguguran.
Dari sebuah keguguran itu bertanda jika wanita itu sedang mengandung, disitulah sakit hatinya seseorang yang menaruh harapan yang begitu tinggi, terhempas begitu saja.
Aku tak dapat menangis, selain memaki laki-laki yang waktu itu berstatus suamiku.
Dan pagi itu, saudara kembarku dan suami tiba di Yogjakarta untuk menemuiku, begitupun dengan keluargaku di Jakarta.
Kuajukan gugatan cerai, meskipun dirinya menolak itu semua, tentunya banyak alasan yang bagiku itu semua penuh kebohongan.
Begitupun dengan kuliahku di akhir-akhir semester ini, kumemohon pada adik iparku, yaitu dokter Toni untuk menolongku, hingga akhirnya salah satu kerabat mama yang tinggal di Sulawesi lah yang menampungku, berpindah ke pulau seberang, dengan meninggalkan Yogjakarta yang penuh dengan kenangan, dan selama tiga tahun kujalani kehidupanku di kota Kendari.
Hari ini, setelah tiga tahun di malam sebelum kecelakan terjadi tepatnya di kamar kami sempat berdebat itulah percakapan kami terkahir kali, dan mobil yang baru saja berbelok ke pelataran rumah itu, aku tahu ada dirinya.
Aku sedang menggendong keponakanku, putri dari Eci saudari kembarku, mencoba mengontrol detak jantungku, dan ekspresi ku untuk bersikap biasa saja, tentunya ini tak mudah dengan segala masalah di tiga tahun yang lalu membuat hubungan keluarga kami sempat renggang, dan ini pertama kalinya kami kembali bertemu.
Siapa yang tak akan gugup, dengan meliriknya mulai turun dari mobil, menutup pintu, hingga berjalan menuju ketempatku berdiri, mungkin jika kami tak pernah ada ikatan suami isteri tak akan segugup ini, bagaimanapun kami sudah kenal baik sejak kecil sebagai keluarga.
Mungkin inilah kenapa kita di larang menikah dengan keluarga, karena jika ada pertengkaran atau perpisahan, bukan hanya dua orang yang bermasalah, tetapi dua keluarga yang akan terkena imbasnya, dan pastinya ketika berkumpul keluarga besar akan menjadi canggung di dalamnya.
Untuk mama masih tetap seperti dahulu, yang sayang kepadaku, memeluku ringan karena di antara kami ada putri Eci yang sedang kugendong.
"Sayang, tambah cantik, mama kangen"
Kecupan di pipiku penuh kasih sayang, kemudian berganti mengecup pipi gembul bayi yang kugendong.
Dan untuk kak Talita, masih sama seperti mama yang memelukku sayang, terlihat tulus, meskipun tiga tahun lalu aku pernah mengucapkan kata kasar padanya, ketika kak Talita memohon kepadaku untuk tak menggugat cerai sang adik, tetapi kini beliau tak menaruh dendam kepadaku.
Mbak Rima pun hadir di lebaran kali ini, menurut Eci istri dari mas Danar ini tak pernah ikut serta mudik di Kediri, tetapi kali ini entah kebetulan atau apa, kita di pertemukan kembali. Saat ini telah menutup rambutnya dengan hijab, yang terlihat semakin anggun, dalam segi tubuh kurasa semakin berisi, mungkin mas Danar berhasil membahagiakannya.
"Ca, minal aidzin wall faidzin"
"Sama-sama mbak"
Sebenarnya aku sudah bisa ikhlas melupakan masa lalu, tapi agak tak nyaman jika kami berpelukan, karena sebelumnya kami memang tak dekat.
Aku tak mau larut dalam putaran masa lalu, bukankah kali ini semua sudah bahagia, begitupun denganku meskipun meninggalkan rasa trauma akan pernikahan.
Dengan di rangkul om Panji, kami memasuki rumah kali ini waktunya kami bersungkem mulai dari tetua kami, dan berkeliling hingga ke generasi termuda.
Momen yang tepat untuk memohon maaf kepada para orang tua, mungkin juga waktu yang pas untuk ku memohon maaf kepada mas Danar yang waktu itu meninggalkan dirinya ketika terkena musibah, bahkan setelahnya aku menggugat cerai untuknya.
Tetapi bibir ini terasa kelu untuk mengungkapkan permintaan maaf kepada mantan suamiku, selain ucapan lahir batin seperti kita memohon maaf saat lebaran ala kadarnya.
Hingga tiba-tiba, rengkuhan erat mas Danar yang begitu mengagetkanku, seakan jantungku akan lepas dari tempatnya, dan tangisan itu terasa menyayat hati serta ucapan permohonan maafnya, tentunya hatiku ikut sakit, mengingat tiga tahun silam, tetapi air mataku telah habis di tiga tahun lalu, kini hatiku lebih mati rasa akan itu semua.
"Mas sudah, bukan kah sudah terlewatkan"
Bukan aku yang egois, tetapi ini pilihanku, kisah masa lalu itu pelajaran berharga bagiku, seperti yang di katakan tante Hani, kita tak harus mengingat-ngingat kesalahan orang yang menyakiti kita, biarkan kehidupan ini berjalan dan kebahagian masa depanlah yang harus kita tuju.
Aku berlanjut memohon maaf dengan yang lain, meninggalkan mas Danar setelah berhasil lepas dari pelukannya, yang kurasa memang tak pantas kami berpelukan meskipun saat ini status kami tetap saudara, tetapi aku tak ingin menyakiti wanita lain, karena bukan bagianku untuk membalas kejahatan orang yang telah menyakitiku.
Selain itu, aku tak ingin terbawa perasaan akan sikap mas Danar, karena setelah perceraian ku dengannya, selain rasa benci ada juga rasa penyesalan telah meninggalkan mas Danar dan sempat terasa sakit kala mendengar cerita tentang dirinya dan mbak Rima.
Suasana menjadi canggung antara diriku dan keluarga dari mas Danar, termasuk mama Galuh yang kurasa beliau merasakan kekecewaan kepadaku, meskipun beliau bersikap biasa saja tapi aku bisa melihat berbeda dari sorot matanya.
Hari semakin siang, di waktunya sholat dhuhur aku yang sedang berhalangan diminta Eci untuk menjaga sang putri, menggendong keponakan kecilku di bawah pohon di halaman rumah, hingga tanpa sengaja melihat mas Danar yang membuka pintu mobil dan di ikuti mbak Rima yang ternyata mengambil mukena.
"Bukankah mereka yang jahat, kenapa mereka lebih bahagia daripada aku"
Sisi jahatku terus saja merasakan kesakitan, dan rasa iri itu kembali muncul setelah sekian tahun kuhempaskan.
"Astagfirullah, bukankah Allah sudah menetapkan kebahagian masing-masing hambanya, aku sudah bahagia kok dengan begini, mungkin akan lebih bahagia dari mereka suatu saat nanti"
Tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Dentist (Tersedia Lengkap Di Ebook)
RomanceMenikah dengan seseorang yang sejak kecil sudah mengenal diri kita, keluarga besar bahkan mengetahui hal-hal buruk yang kita simpan, bukan lah hal mudah jika pernikahan itu hasil perjodohan yang dipaksakan. Berawal pernikahan yang diharapakan untuk...