Masih di waktu, dan hari yang sama.. Suhaa masih setia duduk di depan Leya sambil menunggu apa jawaban dari apa yang baru saja ia tanyakan kepada Leya.
Beberapa menit kemudian tak ada jawaban dari Leya, Suhaa berpikir sepertinya cerita di balik tato itu sangat sensitif jika dibahas.
Suhaa menghela napas, sepertinya ia terlalu memaksa Leya untuk menceritakan masa lalunya, benar-benar kacau!
Setelah menghela napas, Suhaa menggenggam tangan Leya yang tengah meremas ujung sofa lalu kembali menatapnya tajam.
"Nggak usah di jawab kalau lu nggak bisa. Maaf, gue terlalu maksa lu buat cerita mengenai tato di pundak lu, maafin gue..," ucapnya tiba-tiba.
Tak mendapat balasan, Suhaa kembali menghela napas kasar. Ia lalu memeluk gadis manis itu dan mengelus kepalanya dengan sayang.
Ia tak mengatakan apa-apa, ia hanya sibuk mengelus kepala Leya berharap Leya tak marah kepadanya karena paksaan yang baru saja ia lakukan.
Gadis itu tentu balik memeluk Suhaa dengan sukarela, ia merasa nyaman saat tubuh Suhaa menyambar tubuhnya dengan pelukan hangat.
"Masih sakit nggak?" Kembali Suhaa bertanya tiba-tiba.
Leya hanya membalas dengan gelengan pelan. Tato itu sudah lama berada di pundak Leya, mungkin sekitar tiga tahun sampai empat tahun lalu.
"Maafin gue..," lanjutnya lagi, dan dibalas anggukan pelan dari Leya.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya pelukan mereka terlepas, kembali mereka hanya terdiam tak berani untuk memulai percakapan.
"S-Suhaa..,"
"Hm, kenapa?" Dengan cepat Suhaa kembali menggenggam tangan Leya dan menatapnya dengan lembut.
"Leya bakal cerita..," balas Leya sambil menunduk.
"Santai aja, nggak usah cerita kalau lu nggak mau dan karna terpaksa. Jangan cerita karna lu tertekan sama kemarahan gue," ujar Suhaa meyakinkan.
"Nggak, Leya mau cerita karna Leya pengen Suhaa tau aja," kembali Leya membalas tanpa mengubah posisi kepalanya yang menunduk.
Suhaa hanya mengangguk untuk mengiyakan. Ia terus menggenggam tangan Leya sambil menunggu sesuatu yang akan Leya sampaikan.
Leya menghela napas berat lalu menatap Suhaa.
"Dulu pas Leya kelas sembilan, Leya pernah kabur dari rumah.. di situ Leya nggak pulang sampai lima hari dan nginap di rumah Dela,"
"Leya kabur karna capek sama paksaan ayah. Di situ Leya sering keluar bareng Dela, jalan-jalan gitu.. soalnya Leya bawa tabungan Leya, jadi Leya punya uang buat beli makan,"
"Nah, pas hari ke empat gitu, Leya sama Dela minta di tato sama om nya Dela, soalnya om nya Dela itu buka jasa ukir tato gitu..,"
"Awalnya kita nggak di ijinin, tapi karna kita bayar dan maksa.. akhirnya kita di ijinin. Pas itu Leya bayarnya ratusan lebih, dan milih bentuk yang sama kayak punya Dela."
"Tato punya Leya itu sepasang sama Dela, warna tato dan bentuknya juga sama. Nah, pas bikin tato itu sakit pake banget, perih berhari-hari dan sakit kalau kena air.."
"Nah, pas hari ke enam, Leya pulang ke rumah karna uang Leya abis.. di situ Leya juga kasih liat tato Leya ke ayah berharap ayah bakal ngusir Leya karna Leya jadi anak nakal.."
"Awalnya Leya mikir gitu, eh taunya Leya malah dimarahi abis-abisan. Jadi gitu deh, kenapa Leya bisa punya tato." Akhirnya cerita Leya selesai, meski Leya tak menceritakan bagaimana Leya disiksa pada saat itu, tetapi Leya merasa lega karena telah menceritakannya kepada Suhaa.
Suhaa tersenyum setelah mendengar semua cerita itu, ia merasa lega setelah mendengarnya langsung dari mulut Leya.
"Makasih karna udah mau percaya sama gue, dan karna udah mau ceritain hal itu ke gue..," ucapnya lalu mengecup telapak tangan Leya.
Tentu saja Leya terkejut, ia baru saja menyaksikan Suhaa mencium telapak tangannya tanpa paksaan dan berisiniatif untuk pertama kalinya.
Meski di telapak tangan saja, Leya sudah senang bukan main. Benar-benar luar biasa!
"Kayaknya gue harus pulang sekarang, Ara pasti nungguin gue..," ujarnya lalu berdiri dari posisi duduknya.
"Yuk, Leya Anter sampai pintu depan," balasnya sambil tersenyum manis.
***
***
Tak terasa Leya sudah kembali bersekolah lagi, bermain, membuat kenangan, dan bertemu lagi dengan teman-temannya.Saat ini, Leya dan Suhaa tengah berjalan kaki sambil bergandengan tangan menuju sekolah mereka.
Leya sudah memberitahu kepada Suhaa agar mereka berangkat ke sekolah berjalan kaki saja untuk sekarang. Itu juga saran dokter untuk mengurangi stresnya.
"Suha pilih mana, privat atau non-privat?" Tanya Leya tiba-tiba sambil mengayunkan tangan mereka berdua ke depan dan ke belakang.
"Mengmaksud? Gue nggak ngerti," balas Suhaa dengan bingung.
"Suhaa lebih suka hubungan kita dirahasiakan atau terang-terangan?" Kembali Leya bertanya.
Mendengar hal itu seketika membuat Suhaa malu sambil mengerjapkan mata berulang kali. Benar, karena mereka sudah menjalin hubungan, bukankah bagus jika semua orang tau jika mereka tengah berpacaran?
"Jadi, Suhaa pilih yang mana? Leya nggak masalah Suhaa mau pilih yang mana, Leya suka dua-duanya," kembali Leya berkalimat sambil tersenyum.
Suhaa berpikir, jika hubungan mereka diketahui oleh teman-teman mereka, Suhaa tidak akan mengalami masalah saat bertemu dengan gadis lain, kan?
Suhaa juga cukup sering mendapatkan hal-hal aneh dari perempuan, entah itu makanan, benda dan sesuatu yang diberikan oleh seorang gadis.
Jujur saja, Suhaa cukup risih dengan perlakuan manis seperti itu, ia juga merasa tak bebas karena selalu diperhatikan dari jauh seolah-olah ia adalah orang yang aneh.
Jika lain kali ia kembali bertemu dengan gadis seperti itu, ia tinggal mengatakan jika ia sudah memiliki kekasih, bukan? Maka ia tak akan di ganggu lagi.
"Hm, terserah lu aja, tapi gue lebih suka kalau status kita di non-privat aja..," balasnya setelah lama berpikir.
"Eh beneran? Nggak masalah kalau semua orang tau kalau kita pacaran? Suhaa nggak bakal marah?" Lagi-lagi Leya bertanya, kali ini matanya penuh dengan kilauan karena merasa senang.
"I-iya, emang kenapa dah? Siapa juga yang bakal marah..," balas Suhaa dengan gugup.
"Ya udah kalau gitu, jangan lepasin tangan Suhaa ya. Biarin terus kayak gini," ucapnya dengan riang sambil terus mengayunkan tautan tangan mereka.
"Woe bocah, Ohayo~" ucap Zaki dengan menggunakan bahasa Jepang yang berarti selamat pagi kepada Suhaa dan Leya.
Suara Zaki dari belakang mereka membuat keduanya menoleh secara bersamaan. Saat mereka menoleh, mereka juga melihat Dela berjalan disamping Zaki dengan ekspresi ceria.
"Pagi, gue kira lu dah sampai di sekolah duluan," balas Suhaa dengan nada suara yang datar.
"Gue malah salfok sama tangan kalian woe, dah pacaran yak?" Dela ikut berbincang-bincang bersama ketiga temannya.
"Iya dong, baru dua hari kayaknya..," balas Leya dengan riang sambil memamerkan tangannya bertaut dengan tangan Suhaa.
"Ciee.. pj dong, lagi bokek nih," Dela kembali membalas dengan senyum manis di wajahnya karena senang dengan hubungan kedua sahabatnya.
"Nanti Leya beliin bakso ya, kita ke warung Bu Imah setelah pulang sekolah, setuju nggak?" ujar Leya.
"Setuju!" balas Zaki dan Dela dengan kompak.
***
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Menggapai Suhaa (END)
RomanceWARNING! (Peringatan!) Please everyone who sees this, please stop and never plagiarize/copy other people's work!!! I beg you so much! whoever it is! (Siapapun yang melihat ini, tolong berhenti dan jangan pernah menjiplak/menyalin karya orang lain...