❆ ' 𝙺𝚎𝚛𝚓𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚊.⁹

78 14 0
                                    

༺𝐻𝒶𝓅𝓅𝓎 ❆ 𝑅𝑒𝒶𝒹𝒾𝓃𝑔༻

Bel pulang berbunyi, Mrs Nara berdiri untuk memimpin doa. Setelah itu dilanjutkan dengan mengucap salam. "Senin depan akan diadakan ujian akhir semester 1, saya harap kalian semua mempersiapkannya dengan baik. Sekian terimakasih dan hati-hati dijalan." Mrs Nara pergi meninggalkan kelas.

"Aihh tiba-tiba sudah mau ujian," ucapku, lalu memakai tas dan berjalan keluar kelas. "Kok kayak ngga suka gitu nadanya, ooh atau jangan jangan kamu sudah menyerah untuk bersaing denganku di ujian," ujar Solar.

Aku memberinya lirikan tajam. "Bukan begitu, itu artinya aku harus mendengar keluhan kakak karena tidak mengerti dengan materi yang ia dipelajari," jelasku. Aku melihat ke arah kelas kakak dan berharap ia tidak mendengarnya.

Kakak selalu saja mengeluh setiap tidak mengerti dengan materi apa yang ia pelajari, terutama di ilmu bahasa, matematika dan ilmu alam. Tapi aku tidak menyalahkannya karena tiap-tiap orang pasti memiliki bakatnya masing-masing. Namun apa gunanya ia mengeluh padaku, aku juga tidak bisa membantunya.

"Ooh kirain!" kekeh Solar sambil menggaruk kepalanya. "Eh tapi menurutku kepribadian, bakat dan minatmu berbanding terbalik dengan milik kakakmu," ucapnya. "Ya, kau benar, banyak yang mengatakannya. Tapi kurasa itu memang benar." Kurasa bukan hanya kepribadian tetapi dunia kami juga terbalik, ya duniaku dan dunia kakak berbanding terbalik.

Aku anak kecil yang fisiknya lemah, sedangkan kakak sebaliknya, bahkan itu menjadi bakatnya. Bakatku ada pada pelajaran. Kakak punya banyak teman, sedangkan temanku hanya Solar. Kakak selalu dihargai, sedangkan aku selalu diganggu.

Mama dan papa juga lebih sayang pada kakak sekarang. Walau kakak sudah menyuruh mereka agar tetap menyayangiku sepertinya. Namun, hal itu hanya dilakukan jika kakak bersamaku. Ah sebaiknya aku tidak mengingatnya, itu menyakitkan.

"Icee!! Kau menangis?" teriak Solar sambil mengguncang-guncangkan badanku. "Hah apa apa?" tanyaku. Aku benar-benar tidak sadar tadi. "Nah kan ngelamun, kenapa kamu nangis?" tanya Solar lalu menghentikan langkahnya. "Ehh!" Aku menyadari sesuatu, air mataku menetes, diluar kesadaranku.

"Ah nggak kok, tadi mataku kelilipan," sangkalku sambil menggosok mata. Agar seolah-olah seperti kelilipan sekaligus menghapus air mataku tadi. "Oh iya kan tadi ada angin kencang." ucapnya lalu menepuk pelan dahinya, untung saja saatnya tepat. "Tapi kok, aku ngga kena?"

"Kamu pakai kacamata, Sol. Ya jelas saja nggak kena," jawabku dengan malas lalu lanjut berjalan, sejak kapan anak ini jadi menyebalkan. Oh ya kan memang sejak dulu. "Eh Ice, tunggu!"

.

.

Aku sampai didepan rumahku, mengucap salam perpisahan pada Solar kemudian mengetuk pintu rumah.

Tok Tok Tok

"Assalamualaikum, Ice pulang!" Aku mengucap salam sambil mengetuk pintu rumahku. Terdengar balasan salam dari dalam rumah "Waalaikumusalam!"

Eh, itu bukan suara mama.

Pintu terbuka rumah terbuka, nenek membukakan aku pintu. "Eh cucu nenek sudah pulang," sambut nenek hangat. "Nenek, kapan datang?" tanyaku. "Baru saja, ayo ganti baju dulu baru kita ngobrol lagi," tutur nenek sambil mengelus kepalaku. Aku menaruh sepatuku di rak dan pergi ke lantai atas.

Aku terdiam sebentar ditangga, lalu tersenyum tipis. "Baguslah setidaknya aku tidak perlu dikamar terus sampai kakak pulang," gumamku. Lalu berlari menuju kamarku. Aku membuka pintu kamarku lalu meletakkan tasku diatas meja belajar.

Duduk dikasur sebentar, lalu mengganti pakaian. Aku menutup pintu kamar lalu turun kebawah. Saat hendak menuju ke arah dapur, aku tidak sengaja melihat ke kamar mama, disana ia mengemas barang, tunggu dulu mama mau kemana?

❄✧.*𝔇𝔯𝔢𝔞𝔪 .*✧❄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang