Jisoo baru saja berjalan keluar menuju supermarket terdekat. Perempuan bersurai hitam itu tinggal di sebuah dorm sederhana bersama ketiga temannya dan telah menjalani masa trainee selama empat tahun.
Dan untuk tiga hari ke depan ia akan tidur sendirian karena mereka mendapatkan libur. Teman-teman nya pulang dan bersenang-senang tapi tidak dengan Jisoo. Ia terlalu malas untuk menempuh perjalanan jauh ke kampung nya.
Lagipula selama itu ia akan menguasai satu kasur penuh untuknya sendiri. Dan tentu saja ia membutuhkan cemilan dan beberapa minuman soda untuk menemani malam-malam kesendirian nya.
Tanpa ia duga jika ia akan meninggalkan sekantong cemilan malam nya di tengah hujan demi mengangkut seorang pria asing yang terluka akibat tembakan.
Jisoo mungkin sudah gila. Membawa seseorang yang bisa jadi seorang buronan atau penjahat. Lebih buruk lagi, mungkin pria itu pembunuh.
Untung saja penjaga gerbang malam ini terlihat tertidur lelap di pos nya seperti biasa. Buru-buru ia menekan tombol ke lantai tujuh.
"Aish, aku pikir aku perlu menurunkan berat badanku. Aku bahkan merasa bisa membawa dua tubuh pria sekaligus." ucapnya.
Dengan hati-hati ia menjatuhkan tubuh Taehyung di atas sofa. Ragu dengan apa yang selanjutnya harus ia lakukan. Jisoo sama sekali tidak pernah mengobati luka tembak.
"Bwo-ji? Apa yang harus ku lakukan? Pakaiannya basah, apa aku harus menggantinya? Bagaimana tiba-tiba dia bangun dan mengiraku gadis mesum?!" Jisoo berbicara cepat.
Sementara ia diam memandangi wajah Taehyung. Walau ditutupi penutup mulut Jisoo tetap dapat merasakan wajah pria yang ia tolong itu memiliki paras yang tampan.
"Bulu matanya bahkan sangat lentik." gumamnya.
Merasa jika masker lembab yang dipakai pria itu tak nyaman Jisoo berencana membantu melepaskan benda tersebut dari wajah Taehyung.
Namun sebelum tangan mungil nya mencapai benda itu sepasang bola mata di depan nya menatap tajam.
Jarak wajah antara keduanya sangat dekat. Sedikit terkejut. Jisoo spontan memundurkan wajahnya dan tak sengaja kaki nya membentur kaki meja di belakangnya.
Gadis itu meringis, "Aw!"
Taehyung mengerjap menatap sekelilingnya. "Ini bukan markas BTS."
Sedikit pergerakan membuat Taehyung mengerang.
"Hm, k-kau terluka. Apa kau bisa mengganti pakaianmu sendiri? A-aku akan membantu mengobati luka mu." Nada bicara Jisoo sedikit bergetar. Ia baru sadar jika ia sendirian dalam satu ruangan bersama pria asing.
"Oh, aku belum mati." kekeh kecil Taehyung di balik maskernya.
Merasa tak nyaman dengan kondisi Taehyung yang penuh darah, Jisoo langsung berinisiatif sendiri membawakan baju dan celana baru untuk pria itu.
"Tenang saja, ini semua baru. Aku suka membeli kaos pria dan soal celana itu sedikit kebesaran untuk ku dan pinggang nya karet. Kau bisa mengganti pakaian mu di kamar mandi agar lebih nyaman."
Taehyung sedikit kagum dengan perempuan di depan nya itu. Seharusnya ia takut padanya. Bukan bermain dokter-dokteran dengannya.
Perlahan pria itu bangkit sambil memegang sisi perutnya. Taehyung sedikit terkejut ketika menerima sentuhan lain. Tanpa sadar Jisoo memeluk lengan Taehyung dan membantu nya berjalan.
INSANITY
Geraman rendah terdengar dari dalam kamar mandi. Setelah mengganti celana bersih yang diberikan Jisoo sekarang Taehyung mencoba mencongkel peluru utuh yang tertanam di tubuhnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Secretly Insane [VSOO]
Romance[COMPLETE] Kelompok krimal yang paling dicari di Negeri Ginseng, Korea Selatan Menyamar menjadi boygroup idol besar bernama BTS