"Kau tampan, sayang kau kurang besar." ~ Lieke
¤¤¤
Sesampainya di penginapan party Furash memesan 2 kamar yang satunya akan ditempati bertiga oleh Giovanni, Raven serta Furash sementara kamar yang lain diperuntukkan khusus bagi Alvia.
Setelah mendapatkan kunci kamar mereka berempat pun naik ke lantai atas menuju bilik masing-masing.
Giovanni segera diturunkan Furash ke atas kasur kala memasuki kamar. Dia langsung merasa nyaman dan berkomentar bahwa ranjang penginapan ini jauh lebih empuk dari ranjangnya dulu di biara.
"Tentu saja tempat tidur di penginapan ini empuk dan nyaman untuk punggungmu. Aku tidak pernah salah kalau soal memilih tempat bermalam," ujar Furash berbangga diri.
"Tapi uang sewa per malamnya cukup mahal, tidak sesuai dana yang kita miliki," kata Raven ketus. Dia yang paling sensitif soal uang dalam rombongan.
"Ini jauh lebih baik daripada asal bermalam di penginapan antah berantah milik perampok. Apa kau tidak ingat kejadian dua minggu lalu?"
Raven memalingkan wajah mengingat pengalaman memalukan tersebut.
Pasalnya, karena ingin berhemat sebanyak mungkin Raven memaksa Furash dan Alvia bermalam di penginapan yang ada di tengah hutan. Dan ternyata, penginapan tersebut adalah milik kelompok bandit yang menjebak korbannya dengan modus penginapan.
"Kenapa Tuan masih mengungkit hal itu?" protes Raven menahan malu.
"Karena itu lucu. Aku masih suka tertawa jika mengingat bagaimana bandit-bandit itu berusaha meracuniku dengan bubuk gatal."
Raven tidak mengatakan hal apapun lagi. Dia sudah cukup menahan malu mengingat kejadian tersebut.
"Aku mau mandi."
Raven pun membawa baju gantinya dan keluar menuju ke pemandian penginapan.
***
Selepas membersihkan diri, berganti pakaian dan mengenyangkan perut, Giovanni dan rombongannya berkumpul di kamar yang ditempati bertiga untuk membahas nasibnya setelah ini.
Sebelum memikirkan langkah selanjutnya untuk Giovanni, Furash memintanya untuk menceritakan kembali kejadian terakhir yang Giovanni ingat sebelum tersadar di Rubanah.
"Ibumu menyuruhmu menemui pamanmu dan temannya sebelum dia ditelan oleh cahaya itu?" Furash agak penasaran pada bagian dari cerita Giovanni tersebut.
"Iya, Bunda memintaku menemui Paman Derek dan Pak Tua Michael. Bunda bilang mereka bisa menjelaskan semuanya tentangku. Kupikir ... itu juga termasuk anting ini." Giovanni mengeluarkan anting kristal pemberian Bunda.
Furash, Raven dan Alvia langsung merasa gemetar begitu melihat anting itu. Begitu Giovanni memasukkannya kembali ke saku baju, perasaan yang mereka rasakan menghilang.
Melupakan perasaan gentarnya barusan, Furash kembali menanyai Giovanni.
"Apa kau yakin kalau mereka masih hidup setelah iblis yang namanya Gagor itu mengeluarkan cahaya terangnya?"
Giovanni bereaksi cukup keras pada pertanyaan Furash, "Tentu saja aku yakin! Bunda kuat, aku yakin dia mengalahkan Gagor! Aku yakin dia dan semua penghuni desa masih hidup, jadi aku tidak perlu bertanya pada Paman Derek atau Pak Tua Michael!"
Raven memandang Furash dan mengisyaratkan padanya untuk menyudahi mengorek masa lalu Giovanni. Furash pun mengerti maksud tatapan Raven itu.
"Kalau begitu, kita harus menuju ke desa tempat tinggalmu untuk memastikan lebih jauh."

KAMU SEDANG MEMBACA
ARC OF THE HEIR: TALE OF STRIVE
Viễn tưởngKisah ini sudah ada dari zaman dahulu sekali, hingga tidak diketahui secara pasti kapan kemunculan pertamanya. Kisah ini, diceritakan melalui lisan ke lisan, lalu menjadi sebuah legenda, kemudian menjadi mitos, dan pada akhirnya menjadi sebuah cerit...