5:: Still Questionable

190 9 0
                                    


Sehari pasca hilangnya mereka--Iqbaal, Calya, Aiko, dan Aldi-- membuat para keluarganya sangat sedih. Fuki yang merupakan adik Aiko ini, sudah kehilangan semangat hidupnya. Hari-hari yang kemarin saat kakaknya masih berada di sisinya sungguh menyenangkan, namun saat ia tidak ada, serasa gila. Apalagi yang membuat Fuki makin frustasi adalah, kehilangan kakaknya yang Fuki abaikan semalam.

Fuki ingin segera membantu mencari kakak dan teman-temannya. Namun, hal itu ditolak oleh orangtua Fuki karena "Nanti kamu hilang juga, gimana?". Menurut Fuki, apakah mencari orang yang hilang akan hilang juga? Belum tentu, makanya Fuki membuat sebuah kelompok penyelidik dibantu oleh teman-temannya yaitu, Cira, Bastian, dan Kiki. Ini juga karena hilangnya Aiko and friends masih perlu dipertanyakan.

Fuki mengenal Kiki, Cira yang memperkenalkannya, dan ternyata selama ini Cira adalah tunangan dari Teuku Ryski itu. Selama ini Kiki tinggal di London untuk menyelesaikan kuliahnya, sekarang ia di sini, bersama Fuki dan lainnya untuk segera cepat-cepat menemukan Aiko dan kawan-kawan.

Mereka, mendirikan sebuah Markas di daerah yang stategis, namun tak diketahui siapapun kecuali mereka sendiri. Markas digunakan sebagai tempat pengumpulan semua informasi yang mereka telah dapatkan lalu membahasnya.

Sehari telah berlalu, pikiran Fuki apakah kakaknya sudah makan? Apa dia baik-baik saja? Dan di mana dia sekarang? Sungguh Fuki termasuk orang-orang yang saat ada, dicuekin, saat gak ada, diperhatiin.

Para penyelidik ini, sama sekali belum menemukan hal-hal yang mencurigakan, kecuali hilangnya teman-teman tanpa bekas sedikitpun. Para penyelidik sedang berada di dalam markas 'rahasia'. Duduk diam dan berfikir. Setelah beberapa menit kemudian,

"Aha!!" Kiki sepertinya mendapatkan sebuah ide mengacungkan jari tengahnya ke dekat kepalanya, dan sebuah bola lampu yang terang muncul dari balik kepalanya. Hingga semua bola mata yang berada di hadapannya melihat kearahnya dengan tersenyum. Tapi hal itu tak berlangsung lama saat Kiki kembali mengatakan. "Tidak-tidak, terlalu beresiko". Teman-temannya yang lain kembali menunduk dengan wajah kecewa lalu, mendesah panjang... tiba-tiba,

BRUKK

Bastian memukul meja dengan keras, dan bohong jika tangannya sama sekali tidak sakit. Semua kaget dengan mata membulat besar, melotot tajam ke arah Bastian. Sedangkan Bastian hanya terkekeh kecil, kemudian menyipitkan matanya dan tersenyum misterius, "Gue tau, kita haru ke mana". Semuanya tiba-tiba tersenyum gembira akhirnya..

"Ke mana?" Kiki merasa ini pasti sangat aneh, karena ide dari Bastian.

"DUKUN!" Ucap Bastian dengan lantang. Semua terdiam 'eh?' .

"Dukun? Maksud lo apaan Bas?" Tanya Fuki yang sama sekali tidak tahu apa maksud dan tujuan Bastian berkata seperti itu. Dukun??! Yang benar saja!.

"Karena Aiko dan yang lain hilang secara misterius, maka kita gunakan cara yang mistery juga, kita pergi ke semacam paranormal gitu" ucap Bastian dengan mantap, sepertinya ia sangat yakin hal ini akan mendaoatkan banyak informasi. Lagian polisi gak bakalan nyari informasi seperti para penyelidik aneh ini.

Semuanya terdiam, beberapa detik kemudian, semuanya saling lempar pandang, lalu menyetujui ide gila Bastian itu.

--

Tempat yang mengerikan, jauh dari kawasan lingkungan masyarakat. Rumah kayu berlumut yang sudah seperti mau runtuh itu seperti sama sekali tidak ada penghuninya, banyak sekali pepohonan di sekitarnya, menambah keseraman pada tempat aneh ini. Mereka ber-empat masuk ke dalam, mendorong pintunya yang tidak terkunci. Mereka tidak bisa melihat, terlalu gelap. Untung saja salah satu dari mereka membawa senter. Kenapa mereka berada di sini? Ya, karena itu adalah ulah Bastian, yang katanya dia itu pernah ke sini untuk meramalkan cintanya, namun hal itu ditolak oleh sang paranormal tersebut. Senter mereka diarahkan ke segala tempat, ruangan ini penuh denga jaring laba-laba, sudah tidak terawat lagi.

"Bas, apa bener ini tempatnya? Gak salah kan?" Tanya Fuki mulai ketakutan. Sementara Cira hanya terus menggandeng tangan Kiki dengan sisa keberanian yang mereka miliki, mereka terus masuk ke dalam yang dipandu oleh Bastian. "Ingatan gue kuat, ini gak mungkin sala, lagian terakhir kali gue ke sini rumah ini masih dalam kondisi seperti ini" Jawab Bastian dengan yakin.

"Nah, itu dia, di sana!" Ucap Bastian saat mereka sudah berada di tangah-tengah rumah tua ini. Sontak mereka semua melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Bastian. Mereka melihat seorang Nenek tua, sudah sangat tua yang sedang duduk dengan ular, mungkin itu hewan peliharaannya, di hadapnnya ada sebuah bola, seperti yang digunakan untuk meramal. Nenek itu melihat ke arah mereka, kemudian mengambil tongkatnya, lalu menghampiri mereka berempat. Bastian tersenyum berkata "Halo, kita bertemu lagi". Nenek itu hanya tersenyum lalu mengangguk, Nenek itu mengalihkan pandangannya dari Bastian ke Fika, lalu Cira, kemudian Kiki. Mereka terlihat ketakutan, Nenek itu berkata dengab suara ciri khas(?) seorang nenek yang sudah tua

"Jangan takut jika ingin menemukan seorang sahabat"

~~

Sehari sudah berlalu, ya kambali kepada mereka yang sedang mencari benda-benda 'WxZ' itu. Sehari mereka lalui, berjalan berharap tiba-tiba menemukan bendanya, berkemah, menginap, dan lain-lain.

Namun, mereka belum menemukan apa yang mereka--Iqbaal, Aiko, Calya, dan Aldi-- cari.

Malam harinya, Calya dan Aiko sudah tidur, sedangkan Aldi dan Iqbaal maksih berada diluar tenda dengan api yang menyala dihadapan mereka. Canggung, itulah mereka rasakan.

"Lo dari mana tau, soal nama elo yang diramalkan?" Tanya Iqbaal mencoba membuka topik.

"Gue mimpiin, gue kira itu cuman mimpi buruk yang aneh, ternyata semua ini nyata, dan semalam gue lagi mimpiin sesuatu" ucap Aldi yang menunduk kemudian mengangkat kepalanya melihat Iqbaal.

"Tentang lo"

"Tentang gue?",

"Ya" Aldi mengangguk, lalu disambung perkataannya,

"Dalam mimpi gue..."
-------
~bersambungg..

~eh gak jadi
-------
"Dalam mimpi gue, gue lihat elo ngehancurin sesuatu, kalau gak salah itu sebuah kalung. Lo ngehancurinnya pake, emm apayaa" Aldi mencoba mengingat-ingat mimpinya. Menggosok-gosok tangannya pada dagunya. "Em, tanganlo sendiri! Ya tanganlo, setelah gue fikir-fikir ini mungkin ada kaitannya dengan benda yang kita cari"

Iqbaal hanya diam mendengarkan semua yang dikatakan Aldi. Apakah itu benar, Iqbaal yang akan pertama kali menghancurkan benda pertama itu?.
Kemudian, Iqbaal tersenyum dan mengatakan "Kita harus memberitahukan ini pada Aiko dan Calya"

"Tapi, mereka sedang tidur, sudahlah, besok saja kita membahasnya, kita istirahat dulu, lagian gue juga caoek jalan seharian" ucap Aldi menepuk pundak Iqbaal dan langsung masuk ke dalam tenda. Iqbaal diam sejenak, kemudian mengikuti Aldi, tapi sebelum itu ia memadamkan apinya, ikut juga masuk ke dalam tenda bersama Aldi.

Di dalam hanya ada mereka berdua, Aiko dan Calya ada di tenda sebelahnya. Iqbaal belum tidur, Aldi? Entahlah, dia membalikkan tubuhnya. Iqbaal sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Namun ditahannya sejenak dan membalikkan tubuh juga berlawanan dengan Arah yang berlawanan. Tapi, ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke depan. Lurus ke atas. "Em, di'?" Tanya Iqbaal.
"Hm" Aldi hanya berdehem.

"Aiko itu pacar lo yah? Gue lihat elo akrab banget sama dia. Seperti gue dan Calya di abaikan kayak obat nyamuk tau gak" Iqbaal berucap secara pelan.

"Aiko temen kecil gue" jawab Aldi tanpa menoleh ke arah Iqbaal. Iqbaal hanya ber-oh namun, dia bertanya lagi,

"Gue gak tertarik soal perempuan, tapi sepertinya gue suka sama Aiko, menurutlo gimana?" Tanya Iqbaal melirik Aldi. Tak ada jawaban, Iqbaal melihat Aldi, "dia ternyata udah tidur, cepet banget, hah" ucap Iqbaal merasa apa yang dikatakannya tadi sia-sia saja, membuang-buang waktu. Iqbaal akhirnya memutuskan ikut tidur juga agar esok harinya mereka bisa mencari benda pertama yang di prediksikan adalah sebuah kalung. Tentu, ini masih dipertanyakan.

~Be E Er Es A Em Be U En Ge~
~BERSAMBUNG~

THANKS FOR READING

-cho_cholate

Love of AdventureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang