37

3.7K 579 125
                                    

Peperangan antara Eci dan Bang Saka akhirnya terdengar sampai keluar kamar, kini akhirnya kami semua di dudukan oleh Ayah di ruang keluarga setelah para anak-anak kecil sudah tertidur.

Bunda duduk di sampingku, sedangkan Eci di samping Bang Toni begitu pun Bang Saka berada di samping sang isteri, karena di kamar tadi kedua saudaraku terbawa emosi yang akhirnya membuat para pasangan halalnya berubah menjadi pawang bagi masing-masing.

"Sudah tua bukan lagi anak-anak, yang bertengkar di beliin jajan sudah baikan"

Ayah yang duduk pada sofa single memulai sidang keluarga, dengan terdakwa Eci dan Bang Saka dan diriku sebagai saksi.

"Sekarang ayah kasih waktu lima menit, kalau mau berantem silahkan"

Kami semua tentu saja terdiam, kecuali Eci yang mengomel tanpa suara, membuatku ingin tertawa.

"Masalahnya apa?"

"Gini Yah, si loreng itu_"

"Loreng siapa dek? Ayah enggak ngerti"

"Akbar"

Ketus Eci menjawab Ayah, membuatku semakin tak kuat menahan tawa, bagaimana bisa dirinya yang sudah memiliki anak bisa begitu kekanakan ketika di sidang ayah bahkan mesti di tenangkan sang suami.

"Jangan ganti-ganti nama orang Dek, itu calonnya mbak, kamu yang sopan dong"

Bunda ikut bersuara, dengan menggelengkan kepala, mungkin sama denganku ingin tertawa karena melihat ekspresi Eci yang kekanakan.

"Si Akbar kenapa?"

"Pokoknya Akbar itu enggak beres, dan Eca enggak setuju kalau mbak Eca sampai nikah sama tuh orang"

Lebih mengejutkan lagi, Eci kini menjawab Ayah bukan dengan ekspresi kekanakan melainkan dengan tangisannya.

"Lu drama banget dek?"

Bang Saka sudah tak lagi diliputi emosi tetapi kali ini sedikit geli dengan terkekeh mengomentari Eci yang menangis dalam pelukan sang suami.

"Jadi ini gimana sih mbak tadi ceritanya?"

Sebagai saksi aku akhirnya diminta Ayah untuk menceritakan semua yang terjadi, meskipun dalam otakku begitu banyak beban tetapi aku kini yakin apa yang di katakan Eci dan mbak Talita, jika aku harus tahu masa lalu Bang Akbar, bagaimanapun tujukan kami untuk ibadah seumur hidup, dan jika bang Akbar bisa menerimaku mungkin saja aku bisa menerima Bang Akbar dengan masa lalunya.

"Eci tadi kasih tunjuk kita semua kalau Bang Akbar itu sudah kenal lama dengan Mbak Rima dari pada sama Bang Saka, itu kita lihat dari tahun mereka berkomunikasi di sosial media"

"Rima siapa?"

"Isterinya Danar"

Bang Saka yang mewakiliku menjawab pertanyaan Ayah, akan Mbak Rima.

"Kok bisa?"

Bunda pun ikut penasaran, dan itulah yang kini di ributkan oleh Eci dan bang Saka.

"Eca ingat, waktu itu di Jogja Eca makan malam sama Bang Akbar enggak sengaja ketemu Mbak Rima, memang mereka saling kenal"

Aku teringat malam itu di saat aku selesai seminar hari terakhir, saat di cafe bersama Bang Akbar tanpa sengaja bertemu Mbak Rima, dan tatapan terkejut keduanya aku ingat jelas.

"Terus lu nggak curiga sama mereka mbak?"

Aku menggeleng menjawab pertanyaan Eci, memang aku saat ini tak mencurigai keduanya, lagian aku harus curiga dalam segi apa, harus mencurigai keduanya yang bersekongkol seperti cerita sinetron, itu pasti tak mungkin dari tatapan keduanya saja terkejut saat bertemu.

Jodoh Dentist (Tersedia Lengkap Di Ebook)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang