Janur kuning melengkung di halaman rumah, orang-orang berdatangan memberi salam kepada raja dan ratu sehari yang baru saja melangsungkan akad nikah.
Resepsi begitu meriah dan megah. Tentu saja, hari ini adalah hari sakral pernikahan putra pemilik perusahaan minyak sawit terbesar, Prasetyo Abadi.
Orang-orang berdatangan menyalami mempelai pengantin. Binar kebahagiaan terpancar diwajah Pras, ia menyunggingkan senyum ketika teman dan kerabatnya menyalaminya memberikan selamat, tetapi tidak dengan mempelai wanita, Tiara. Kebahagiaan itu jelas ada paksaan disana. Kebahagiaan yang harusnya ia rasakan telah berubah menjadi rasa bersalah.
Hari beranjak malam, resepsi megah itupun selesai. Tiara sedang membersihkan sisa make up yang masih menempel diwajahnya dengan kasar, wajahnya terlihat marah. Ada gurat kesedihan diwajah cantik itu.
"Bisa-bisanya ayah menyetujui permintaan Amara!" Tiara bergumam, ia menghentikan aktifitasnya dan menatap cermin, ia meraba wajahnya. "Apa aku sehina ini, ayah. Meskipun ibuku bukan wanita yang kamu cintai, tapi tetap saja tidak seharusnya melakukan ini padaku! Menikahkan aku dengan kekasih kakak tiriku!" Tiara merundukkan kepalanya, menangis sesenggukan.
Pras diam-diam menguping gumaman Tiara dibalik pintu. Ia tahu bukan ini yang ia inginkan, meskipun menikah dengan Tiara adalah keinginan terbesarnya. Namun, melihat gadis yang ia nikahi malah bersedih, membuat hatinya seketika meringis, ikut merasakan kesakitan yang tak nyata.
Pras berdehem ketika memasuki kamar, ia melihat Tiara masih merundukkan kepalanya dan langsung membersihkan sisa air matanya ketika ia melihat Pras berjalan ke arah kasur king size-nya dibalik cermin.
"Kenapa masih duduk didepan cermin! Apa kamu tidak lelah?" Tanya Pras yang sudah duduk santai seraya membaca majalah bisnis dan melirik jam disamping tempat tidur yang menunjukkan pukul 23:00 wib.
"Kakak tidurlah. Aku masih harus membersihkan sisa make up yang menempel diwajah." Jawab Tiara
"Baiklah!" Pras menyimpan buku yang dibacanya kemudian berbaring.
Tiara menghela nafas kasar. Ia tidak mungkin tidur satu kamar bersama Pras. Meski kini ia adalah istri sahnya. Tapi rasa canggung itu seketika menjalari perasaannya.
Tiara melirik Pras yang sudah tertidur. Sedangkan ia masih berkutat dengan tisu dan toner pembersih wajah.
Setelah selesai, Tiara bangkit dan berjalan ke arah Pras. Ia melihat wajah pria yang selama ini sudah ia anggap sebagai kakaknya, yang ia tahu bahwa suaminya begitu mencintai Amara, kakak tirinya.
"Kak, kenapa kakak mau melakukan ini! Tidak seharusnya kakak menikah denganku. Harusnya kakak kejar kebahagiaanmu untuk menikah dengan wanita yang kakak cintai!" Tiara membenahi selimut Pras. Tiara mengambil bantal dan tidur dikarpet di bawah kasur.
Matanya enggan terpejam, ia masih mengingat jelas bagaimana perlakuan ayah dan ibu tirinya sehari sebelum pernikahan.
"Tiara, ayah tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus menikah dengan Prasetyo." Ayah Tiara bersikukuh dengan Tiara saat itu.
"Ayah tahu sendiri, dia pacar kak Amara! Kenapa memintaku menggantikannya menjadi istrinya?" Bantah Tiara tidak mau mengalah.
"Jangan munafik kamu Tiara, aku tahu diam-diam kamu mencintai Prasetyo kan?" Amara menyela
"Kamu pikir aku serendah itu mencintai kekasih orang lain. Apa aku serendah itu mengambil hak yang bukan milikku? Aku bukan kamu, Amara!" Tiara membalikkan kata-kata Amara.
"Diam!" Kini giliran ibu tirinya yang menyela.
"Ayah, besok adalah pernikahanku, aku tidak mau menikah dengan Prasetyo ayah. Meskipun dia kekasihku, tapi aku mencintai orang lain. Apa ayah mau kelak rumah tanggaku seperti ayah, yang menikah dengan orang yang tidak ayah cintai?" Amara membujuk ayahnya dengan manja.
