19. peeve

110 24 4
                                    


.

.

"Eh coba tanyain dong Ra, SM butuh asisten untuk Renjun nggak? Aku juga mau dong jadi asisten dia HAHAHAHA.."-

"...Siapa tau nanti Renjun bisa kepincut sama aku. Ntar jadi kek drama-drama gitu deh, Cintaku bersemi antara artis dan asisten. Pasti seru ughhh!!"-

Aku hanya mengurut pelipisku mendengar haluan Saeron yang selalu saja bikin muntah dengarnya. Disaat yang bersamaan, bel apartemenku berbunyi. Aku jadi saling pandang dengan Saeron.

"Siapa malam-malam gini kesini ya?"- tanyaku pada Saeron.

"Kok nanya aku sih. Inikan apartemen kamu!"- sungut Saeron melempar bantal sofa padaku.

"Eits!!! Ketangkep!"- kataku saat berhasil menangkap dengan mulus lemparan bantalnya.

"Sempat-sempatnya bercanda. Cepat sana bukain!"- suruh Saeron.

"Eh tapi siapa ya, perasaan cuma kamu doang deh yang janji mau ke sini."- kataku lagi sembari beranjak dari sofa menuju pintu.

Aku mengintip dari interkom, lalu terbelalak kaget saat melihat siapa yang sedang berdiri didepan pintu apartemenku memencet bel.

Jeno dan Jaemin.

Aku yakin itu mereka berdua walau wajah keduanya tertutup masker dan memakai topi.

"Lama banget sih bukanya!"- dengus Jeno begitu pintu kubuka.

"Hai Yoora!!"- sapa Jaemin melepas maskernya sambil melambaikan tangannya padaku yang masih menatap mereka shock.

"Kalian ngapain kesini malem-malem gini???"- tanyaku panik setengah berbisik. Takut Saeron tahu.

Jeno mengangkat plastik yang ia bawa ditangannya,

"PARTY TIMEEE!!!"- serunya sambil menyelenong masuk begitu saja diikuti oleh Jaemin.

Aku yang panik ingin segera menarik mereka berdua kembali kedekat pintu. Tapi, aku terlambat...

Mereka seakan tahu aku akan mencegah mereka. Jadi mereka setengah berlari masuk kedalam sana.

Mampus!!

Aku buru-buru menutup pintu. Dan berlari menghampiri Jeno dan Jaemin keruang tengah yang ternyata sudah mematung, begitu juga dengan Saeron.

"Wah, kamu ternyata ada tamu ya."- ujar Jeno dengan canggung.

Aku melihat Saeron yang masih terlihat shock menatap Jeno dan Jaemin didepan matanya. Bahkan mulutnya sedikit terbuka, untung apartemenku bebas nyamuk. Kalau tidak, pasti udah kemasukan nyamuk tuh!

"Iya!"- balasku judes, "Makanya kalau mau kesini tuh bilang-bilang dulu."-

"Alah. Nasi udah jadi bubur. Mau gimana lagi!"- acuh Jaemin. Ia langsung di duduk disofa didepan Saeron yang bengong.

Jaemin melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Saeron,

"Hey, kamu gapapa?"-

"Oh! Engh—ah, iya! Hahahaaa gapapa kok."- balas Saeron tertawa kikuk.

"Nggak pegel berdiri terus?"- aku melewati Jeno yang masih berdiri lalu duduk disamping Saeron.

Jeno juga akhirnya ikut duduk disofa disamping Jaemin. Dan suasana menjadi canggung. Bukan aku sih yang canggung. Tapi mereka bertiga.

"Oh iya, belum kenalan ya, Aku Na Jaemin."- buka Jaemin ramah mengulurkan tangannya pada Saeron sambil tersenyum manis. Kalian pasti taulah senyum khas Jaemin bagaimana.

Forbidden Rencard | Jeno LeeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang