Chapter 7: Way Out

272 179 337
                                    

Aku memasuki ruang kelas, sekembalinya dari ruang konseling. Aku masih kesal karena tidak menyangka sekolah mengambil keputusan yang sangat berat sebelah.

Sesampainya di bangku, Li May menghampiriku dan bertanya kepadaku.

"Lian, kau habis darimana? Kenapa kau lunglai begitu?" Raut mukanya cemas.

Ah, tidak bisakah kau menungguku untuk menceritakannya sendiri? Aku sedang stress saat ini. Batinku.

"Kenapa diam saja?"

Aku tidak membalas perkataan Li May. Aku hanya tersenyum kecut mendengar cercaan pertanyaan darinya.

Aku telah terluka karena para pelaku, tetapi sekolah tidak ada niatan sama sekali untuk membela korban.

Aku muak.

Saat aku membenamkan muka di antara kedua tanganku. Samar-samar, ku dengar gosip yang sepertinya tentang masalah yang sedang kuhadapi.

Sialan, bisakah mereka diam saja?

Tentu saja mereka tidak dapat mendengar teriakan batinku dan terus membicarakan kasus sial itu.

"Eh, kau tau tidak tentang kasus tempat sampah yang akhir-akhir tengah ramai jadi bahan perbincangan. Geng kakak kelas yang biasanya tukang pukul itu, katanya di kasus kali ini mereka berhasil lolos lagi."

"Darimana kau tau?"

"Tentu saja, aku mendapatkan informasi ini dari salah satu kacungnya."

"Haaah, kapan mereka akan di tangkap. Aku sudah muak mendengar berita dari mereka, hanya karena salah satu dari mereka cucu pemilik yayasan, bukan berarti mereka dapat berlaku sesuka hati. "

Li May yang mendengar perkataan itu, lalu menghampiri kelompok yang sedang berbincang tersebut.

Setelah mendengar cerita dari rumor yang beredar, ia segera mendatangiku dan menatapku dengan iba.

"Apakah itu benar?"

"Apa?" Jawabku dengan nada kesal.

Aku tahu, bahwa aku tidak boleh melampiaskan amarahku kepada orang lain. Tetapi, apa daya aku sudah kehilangan kendali atas emosiku.

"Keputusan guru-guru mengenai kakakmu."

"Hmmm." Aku mendengus.

"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Li May, yang kini telah mengambil kursi untuk duduk disampingku.

Aku juga tidak tau.

Aku menjambak rambutku dengan gusar, stress sudah menguasai diriku saat ini.

Masalah ini terus memutar otakku, hingga tak sadar sungai kecil telah mengalir dari kelopak mataku.

Li May menangkupkan wajahku agar aku dapat melihatnya, ku tepis kedua tangannya. Namun, ia terlalu kuat memegangku, atau bahkan aku yang sudah tidak memiliki tenaga lagi.

Aku malu menangis di dalam kelas dan diperhatikan oleh seisi kelas, tapi air mata sudah tak dapat dibendung lagi.

Sontak aku pun berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk berlari ke toilet sekolah.

Saat akan mulai melangkah, tanganku ditahan oleh Li May. Kemudian ia membisikkan sesuatu di belakang telingaku.

"Lian, Kau ingin keadilan bukan?"

Aku mengangguk lesu.

"Apa kau masih menyimpan bukti foto-foto di tempat kejadian? Saat dimana mereka merundung kakakmu. "

Mendengar apa yang baru dikatakan oleh Li May, aku baru teringat bahwa ponselku mempunyai kunci agar kasus ini dapat selesai sesuai kehendakku.

Tetapi sekolah pun, sudah mengantisipasi hal ini agar aku tidak berani melaporkan kejadian tersebut.

Aku menatap sorot mata Li May yang antusias.

Li May menyodorkan sapu tangan miliknya, aku masih terdiam. Li May pun segera mengusap air mata yang sedari tadi masih mengalir.

"Apakah kamu berniat melaporkan mereka ke kepolisian?"

Limay mengangguk, "Kenapa? Bukankah ini adalah jalan terbaik dalam menyelesaikan kasus ini?"

Aku menghelas nafasku, "Pak Prapti melarangku untuk melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian. Jika aku berani melakukannya, maka aku yang akan dikeluarkan dari sekolah ini."

Li May tercengang mendengar pernyataanku.

"Kenapa sekolah sampai seperti ini? Lalu bagaimana bila kita upload di media sosial? Apakah mereka juga melarang hal ini?"

Aku tidak terpikirkan hal tersebut. Ide Li May sangat bagus.

"Mereka tidak melarang. Tapi, apa tidak apa-apa?"

"Percayalah padaku. Kau ingin memberikan keadilan pada kakakmu bukan?"

"I-Iya siih."

"Kalau begitu mari kita lakukan!" Li May sangat antusias dalam membantuku.

Tidak dapat dipungkiri, aku merasa senang saat tahu dapat membalas perlakuan mereka terhadap kak Zhan. Meskipun mungkin saja nanti akan membawa masalah, aku akan tetap berusaha, asal kakakku mendapat keadilan.

Protect My Brother [On Go] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang