4

507 84 8
                                    

"Loh?"wanita memakai kerudung bewarna biru dongker ini menatapku sambil tersenyum seusai mengatakan satu kata penuh dengan tanda tanya.

"Assalamualaikum tante," Aku mengapai tangannya yang begitu lembut, sorot matanya pun mengingatkanku pada sosok Ibu dulu.

"Waalaikumsalam sayang," Dan hal yang membuatku terkejut adalah beliau memelukku.

"Bolekah kamu menjadi anakku?" Bisikan itu sangat lirih, namun sudah kukatakan. Telingaku terlalu bersih.

"Eh.. Duduk dulu, ayo Fe, mas," Ayah hanya tersenyum semakin lebar dan duduk di sampingku, depannya tante itu.

"Maaf Fe, mungkin ini terlalu cepat--" Ucapan ayah terpotong oleh calon ibuku? Eh?

"Mas... Fe, kenalin nama tante tante Syifa,boleh panggil tante Fafa. sebelumnya tante minta maaf, jika kehadiran tante  tidak diinginkan sama kamu ya sayang," Ujarannya begitu lembut dan sopan. Aku pikir.. Beliau akan menjadi ibu idaman para anak-anak.

"Tapi, apakah boleh tante menjadi ibu sambung kamu?" Tante Fafa menatapku lembut, aku berfikir bahawa calon ibuku ini orang yang lembut tapi bar-bar. Seharusnya kan ayah yang mengatakan itu semua.

Aku suka perempuan dengan karakteristik seperti tante Fafa.

"Ayo.. Bunda Fafa," Dan entah bagaimana ucapanku yang tiba-tiba keluar dengan sendirinya ini membuat ayah dan Bunda? Tertawa.

"Alhamdulillah," Ujar ayah dan bunda bersamaan. Oke mulai hari ini aku akan memanggil tante Fafa bunda.

"Aduh, udah bunda-bunda aja," Ayah menggodaku. Kenapa harus aku yang di goda?

Bukannya aku yang seharusnya menggoda ayah atau bunda?

Orang tua aktif memang berbeda.

"Bundaaa..." Suara manja dari seorang pemuda jangkung membuat atensi kami teralih.

"Astaghfirullah sayang, maaf.." Bunda memeluk remaja tersebut, dengan ayah yang terkekeh kecil.

Aku mengerutkan dahi, apa lelaki dengan tudung hoodie yang menutupinya sebagian wajahnya itu tidak malu mengeluarkan suara yang terdengar manja?

Aku tidak tau. Dan lebih memilih diam sambil mengamati interaksi keduanya.

"Cayah di sini?"ujarnya sambil membuka hoodie yang sedikit basah. Aku pikir dia kehujanan di jalan.

"Kam-" Tutup mulutmu Fe!! Shut up!

Setelah melihat seluruh wajah cowok itu aku teringat seseorang. Menghela nafas, otaku mulai saling berhubungan.

Tiba-tiba datang memanggil bunda dan memeluk beliau. Lalu menyebut ayah dengan sebutan Cayah. Aku tidak tau apa itu Cayah, karena nama ayah adalah Ferdi Dermansyah. Bukan Cayah atau Cahya.

Melirik lengan sebelah kanannya yang terbungkus kaus panjang. Aku tersenyum kecil.

Apa dia calon saudara ku?

Jika iya..

Entahlah.

"Iya Cayah sama putri Cayah tau," Lelaki itu mengalami tangan ayah. Aku masih diam dan melirik bunda sebentar.

"Cayah?"

"Calon ayah HAHAHAHA..." tawa dia menggema. Membuatku sedikit tertular. Apa dia sereceh itu.

"Lo.. Adik gue?" Aku melotot. Sepertinya jika di anggap adik oleh dia aku tidak ingin mengakui. Dia terlihat masih kekanak-kanakan di bandingkan aku.

Jika aku memakai satu sudut pandang. Tapi hari ini aku tidak ingin terlarut dalam sudut pandang lain. Apalagi memikirkan dia.

bukan FIGURANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang