06

11 3 1
                                    

Sesampainya mereka di cafe, mereka memilih Menu yang ada di sana.

"Silahkan di pilih menu- nya mas."

"Coffe latte saja." Melihat ke arah aulia "Aulia kamu ingin pesan apa?"

Tentu saja ia bingung, karena ini pertama kalinya ia mengunjungi cafe.

Dimas pun menyerahkan buku menu- nya ke aulia, dan ia terkejut karena harganya mahal-mahal sekali.

Menyerahkan lagi buku menu-nya ke dimas.

"Loh? Kok?" Jujur saja ia bingung mengapa aulia tidak memilih makanan atau minuman, apa dia tidak suka?

"Aku bingung ingin memilih apa." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.

"Oh ya sudah tidak apa-apa. Aku pesan milk shake dan churros saja."

"Ah baik tunggu pesanan di siapkan ya." Ucap sang pelayan ramah.

Sang pelayan pun pergi menyiapkan pesanan.

Suasana menjadi canggung, tidak ada yang ingin memulai percakapan. Sampai..

"Aulia." Dimas lah yang memulai percakapan.

"Ya?"

"Jadi aku ingin bertanya padamu."

"Bertanya soal apa?"

"Jadi... soal perjodohan ini apakah kamu sudah tau perbedaan usia kita?" Penasaran juga dia apakah aulia sudah tau tentang perbedaan usia mereka.

"Oh itu, ya aku sudah tau, kita berbeda usia sepuluh tahun 'kan?"

"Apakah kamu mene--" ucapannya terpotong karena pesanan mereka sudah jadi.

"Ini pesanan kalian selamat menikmati."

"Ah terima kasih."

"Maaf tadi kamu tadi bicara apa?"

"Apakah Kamu menerima perjodohan ini?"

Menghela nafas sejenak.

"Apa aku boleh jujur?"

"Ya silahkan, itu lebih baik."

"Sebenarnya aku tidak ingin di jodohkan seperti ini, apalagi terpaut usia yang sangat jauh, aku sayang dengan orang tuaku aku ingin membuat mereka bahagia, mungkin dengan cara aku menerima perjodohan ini akan membuat mereka bahagia--" jeda sejenak. Menatap ke arah pria tampan di depannya. "Aku menerima perjodohan ini, dan aku akan berusaha untuk menyayangi mu."

Cukup membuat hatinya sakit sebenarnya, tapi apa boleh buat? Kata-kata itu murni dari hati aulia.

"Maafkan aku." Ucap Aulia dengan menundukkan kepala.

Takut jika pria ini marah.

Mengangkat dagu aulia dengan jari telunjuk nya.

"Hey, mengapa minta maaf?"

"Aku takut jika kau marah padaku." Matanya berkaca-kaca kemudian tangisannya pecah begitu saja.

"Astaga mengapa kamu menangis?."

Berpindah posisi duduk tepat di samping calon istrinya dan di peluknya tubuh mungil itu.

"Sstt jangan menangis lagi, ini bukan salah mu." Ucapnya seraya menenangkan gadis itu.

"Hiks... a-aku takut k-kau membenciku hiks.."

"Jangan berbicara seperti itu lagi, aku tidak membencimu, aku faham apa yang kau rasakan, sekarang kita habiskan makanan kita dulu ya terus kita jalan-jalan mau?"

Mengangguk lirih.

"Hiks mau."

"Ya sudah ayo makan."

Sebenarnya yang makan hanya aulia saja dia tidak ikut makan, toh hanya memakan churros.

Dia lebih memilih untuk memperhatikan gadis di depannya ini, Dimas sudah pindah tempat duduk lagi ngomong-ngomong.

Dia jadi bingung, gadis di depannya ini calon istrinya atau adik nya?

Karena aulia memakan churros dengan saus cokelat tapi belepotan.

"Aduh sayang pelan-pelan dong makannya."Dimas mengelap saus itu dengan ibu jarinya dan menjilatnya.

' apa dia memanggilku dengan sebutan sayang!?'

Pipinya merona, dia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Sayang, kamu kenapa?"

"Ah tidak apa-apa, aku sudah selesai ayo kita jalan-jalan." Cepat-cepat dia mendongakkan kepalanya dan merengek minta jalan-jalan.

Sekarang Aulia sedang dalam mode manja.

"Baiklah Ny. Dimas"

"iih aku kan belum besar dan belum menikah denganmu."

"Haha, sebentar lagi kan kamu akan menjadi istriku sayang." Di kecupnya kening gadis itu.

Lagi-lagi dia terpesona oleh gadis ini.

.

.

.

TBC.

Dimas & Aulia Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang