Setiap detik, setiap menit dan setiap jam Suhaa tidak pernah tak panik. Meski ia telah melihat wajah kekasihnya itu tepat di depannya pun sama sekali tak membuatnya membaik.
Mata gadis itu belum terbuka, bahkan setelah lengan gadis itu diatasi oleh pihak rumah sakit se-jam yang lalu. Lalu mengapa gadis itu belum membuka matanya?
Saat ini Suhaa tengah duduk tepat di samping kasur rumah sakit kamar perawatan yang dipakai oleh Leya dua jam yang lalu.
Ia sendiri, duduk di sana tanpa mengatakan sepatah kata pun sambil memangku kue ulang tahun serta hadiah yang ia persiapkan untuk Leya.
Suhaa terus berharap agar gadis manis di depannya itu terbangun dan melihat dirinya yang sedang khawatir setengah mati.
Wajah Leya tampak pucat, matanya telah bengkak karena sempat menangis sebelum kejadian mengerikan itu terjadi.
Dela dan juga Zaki telah pulang tiga puluh menit yang lalu, mereka berdua di antar oleh Agraham dengan menggunakan mobil.
Agraham juga telah kembali dan tengah berada di ruangan lain bersama ibunda dari Leya untuk mengetahui kondisi putrinya lebih lanjut.
Tak terasa sudah satu jam lebih Suhaa menunggu namun Leya tak membuka matanya sedikitpun. Bahkan mengedipkan mata atau menggerakkan jari juga tak ada.
Lilin menyala yang masih tertancap di kue itu akhirnya padam karena setetes buliran air keluar dari ekor mata Suhaa.
Ekspresi lelaki itu datar, hanya menunduk menatap kue dan kotak hadiah untuk Leya tanpa mengatakan sepatah katapun.
".. maafin gue..," gumam lelaki itu tak berani menatap sang pujaan hati.
Beberapa detik ia termenung, Suhaa seketika tersentak saat mendengar pintu kamar terbuka dan menampilkan Agraham tengah menatapnya.
Agraham melangkah ke arah Suhaa sementara lelaki itu sedang bersusah payah menghapus air matanya setelah meletakkan kuenya di nakas.
Ayah Leya menyentuh bahu Suhaa dengan perlahan, "Ayo, saya anter kamu pulang."
Spontan saja Suhaa menggeleng, ia sama sekali tak berniat pulang saat ini. Ia harus menunggu Leya bangun untuk meminta maaf pada gadis itu.
"Kamu mau nginep di sini?" Agraham bertanya tanpa memalingkan pandangan.
Suhaa mengangguk semangat, ia akan tetap di sini sampai gadis itu bangun. Meskipun ia harus menunggu selama apapun, ia akan tetap menunggu.
"Ya udah, ayok ke kamar. Saya sudah bilang sama pihak rumah sakit buat siapin kamar, kamarnya ada di lantai empat."
Benar, fasilitas di rumah sakit itu sangat canggih dan maju. Di lantai atas adalah tempat untuk para keluarga pasien yang hendak menginap.
Tapi tentu saja pembayarannya juga dua kali lebih mahal. Karena semua fasilitas dan pelayanannya sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit sama seperti menginap di hotel.
Tak ada jawaban dari Suhaa, lelaki itu tak mau berdiri dari tempatnya. Agraham hanya bisa menghela napas saat tahu alasan mengapa Suhaa belum mau berdiri dari posisinya.
"Pihak rumah sakit ngelarang keluarga pasien buat tidur di kamar pasien. Makanya kita tidurnya terpisah dari Leya,"
"Kamu boleh kemari lagi nanti, tapi biarin tubuh kamu istirahat dulu. Dokter juga bakal kasih tau kalau Leya udah bangun,"
"Jarak lantai empat sama lantai tiga nggak jauh juga. Kamu bisa langsung turun lewat tangga atau lewat lift kalau mau ketemu Leya."
Setelah dibujuk, akhirnya Suhaa mau pergi meninggalkan Leya sendiri demi dirinya. Ia juga sangat amat lelah, tubuhnya tidak bisa dibohongi sama sekali.

KAMU SEDANG MEMBACA
Menggapai Suhaa (END)
RomanceWARNING! (Peringatan!) Please everyone who sees this, please stop and never plagiarize/copy other people's work!!! I beg you so much! whoever it is! (Siapapun yang melihat ini, tolong berhenti dan jangan pernah menjiplak/menyalin karya orang lain...