10

3.2K 233 0
                                    

Hari pertama pura-pura lumpuh tidak begitu merepotkan bagi Sheilla, karna sebelumnya ia sering cosplay seperti itu atas perintah keluarganya.

Tepat di pagi hari setelah Suster Aila mengurus kebersihan badan Sheilla dan tak lupa memasang brace di tangan dan leher Sheilla, kini Sheilla sedang terdiam menatap langit kamar dengan posisi terlentang. Cctv di kamar Sheilla baru sore ini akan di tutup Regan, jadi sementara waktu Sheilla tetap diam meski tidak ada orang di sekitarnya.

Benar, tak lama kemudian Mamah Sheilla memasuki kamar Sheilla.

"good morning sayang" sapa Mamah mengecup pelan pucuk kepala Sheilla dan memeluk tubuh putrinya yang terbaring lemah di tempat tidur.

"ma-af ya mah, Sheilla ngga bi-sa ba-las pe-lu-kan ma-mah" ucap Sheilla terbata-bata karena menahan air mata, sontak membuat hati Mamah Sheilla merasa sangat bersalah dengan kondisi putrinya saat ini.

*pintar juga ya aktingnya Sheilla~author

"sstt, Sheilla ngga boleh bilang gitu, Sheilla pasti sembuh" kata Mamah Sheilla menyeka air mata dan berusaha tersenyum.

"ta-pi, ma-mah su-ka li-hat Sheilla seper-ti ini" balas Sheilla meneteskan air mata "bahkan buat ha-pus air mata, Sheilla ngga bi-sa" lanjut Sheilla membuat Mamah Sheilla semakin merasa bersalah dan menyesal.

"nyesel ngga? Nyesel lah masa engga, Ternyata gue jago akting ya" batin Sheilla.

"maafin mamah Shei, mamah menyesal" kata Mamah Sheilla menggenggam erat tangan Sheilla.

Merasa tidak ada respon apapun, Mamah Sheilla memanggil Suster Aila untuk membantu memindahkan Sheilla ke kursi roda. Setelah itu Suster Aila memasangkan pengaman agar Sheilla tidak terjatuh dari kursi roda karena ia tidak lagi mampu menahan berat tubuhnya.

Mamah Sheilla sendiri yang membawa Sheilla turun ke lantai 1 menaiki lift, dan mendorong kursi roda Sheilla ke ruang makan.

"Sheilla, ayo kita sarapan bersama" ajak papah yang akan memulai sesi sarapannya.

Terlihat di meja makan yang cukup panjang tersebut ada Papah, Mamah, dan Kak Regan yang sedari tadi berusaha tersenyum melihat Sheilla dengan kondisinya saat ini.

"ayo, Sheilla makan yang banyak ya" ucap papah Sheilla setelah menelan suapan pertama.

Sheilla hanya terdiam dan tidak membuka mulutnya, bahkan suapan makanan dari suster Aila belum juga tersentuh.

"ayo makan Shei, atau kamu mau mamah yang suapin?" tawar mamah Sheilla saat melihat sheilla masih mengabaikan makanannya.

"kenapa saat Sheilla sudah seperti ini kalian baru mengajak Sheilla makan bersama disini? Kenapa saat Sheilla sehat malah kalian memperlakukan Sheilla seperti orang sakit dengan makan secara terpisah di kamar?" ucap Sheilla yang akhirnya membuka suara.

Papah dan Mamah Sheilla seketika mengentikan sejenak sarapannya, dan beralih menatap Sheilla penuh dengan penyesalan.

Sedangkan Regan masih menyimak pembicaraan adik dan orang tuanya, membiarkan Sheilla melanjutkan sandiwara demi kebaikan bersama.

"maafkan papah Shei, papah janji akan bawa Sheilla terapi dengan dokter yang handal dan mahal" jawab Papah Sheilla.

"Sheilla ngga mau terapi pah, kalian kan suka Sheilla seperti ini, buat apa Sheilla sembuh kalau nanti pada akhirnya kalian akan membuat Sheilla seperti ini lagi" balas Sheilla dengan mata yang berkaca-kaca.

"terus kamu maunya gimana Shei?" tanya Regan yang akhirnya membuka suara.

"Sheilla mau terapi asalkan saat Sheilla sembuh, Sheilla di izinkan sekolah seperti kebanyakan remaja lainnya, bukan homeschooling" pinta Sheilla yang sedari dulu ia tahan.

"oke" putus papah dengan cepat, tentu saja membuat hati Sheilla menjerit senang, namun semuanya ia tahan agar sandiwara ini tidak terbongkar

Regan ikut tersenyum mendengar kabar itu, tidak sia-sia usahanya saat dia ikut bersandiwara dalam drama yang di buat Sheilla.

"tapi harus tunggu sampai kamu benar-benar sembuh" lanjut papah lalu melanjutkan aktivitas sarapannya yang sempat tertunda.

~~~~

Disinilah Sheilla dan kursi rodanya saat ini, menikmati angin malam di balkon kamarnya. Sheilla memilih tetap menggunakan kursi rodanya di balkon meski Cctv telah berhasil di tutup oleh Regan. Alasannya karena takut ada orang tuanya tiba-tiba datang.

Begitulah kondisi Sheilla saat bersandiwara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Begitulah kondisi Sheilla saat bersandiwara

Sheilla menatap langit yang penuh dengan bintang, berharap misinya akan segera selesai secepatnya, agar ia bisa kembali ke tubuhnya yang asli.

Tanpa ia sadari, Regan telah duduk di samping Sheilla sambil membawa dua cangkir coklat panas.

"mikirin apa Shei?" tanya Regan yang membuat Sheilla terkejut.

"eh kak Regan, kirain siapa" ucap Sheilla lalu beralih menatap secangkir coklat panas.

"mau?" tawar Regan mengangkat salah satu cangkir

"mau kak, tapi susah megangnya, soalnya ada brace di tangan" kata Sheilla sambil tertawa ringan

Regan melihat sekeliling kamar, setelah mengunci kamar Sheilla, Regan segera melepaskan brace di tangan kanan Sheilla.

"eh kak?! Nanti kalau ada yang liat gimana?" tanya Sheilla was-was.

"tenang aja, udah kakak kunci, aman Shei" jawab Regan lalu memberikan secangkir hot coklat.

Mereka mengobrol banyak hal, dari album yang sudah Regan belikan untuk menepati janjinya, tentang makanan favorite, dan bertukar cerita lainnya.

Hingga akhirnya secangkir coklat panas tak terasa habis di minum sembari menemani obrolan malam ini.

Aaaaa Hai Readers!

Hari ini upload segini dulu ya? Aku lelah udah ketik beberapa part hari ini.

Jadi cukup sekian, untuk hari ini

Terimakasih, jangan lupa vote ya!

TRANSMIGRASI!  OVER PROTECTIVE?! (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang