Part 23

1.2K 64 0
                                    

Sore ini Aira sudah berada di tempat ia biasa mengajar. Aira datang sendiri, Ayas tidak mengantarkannya. Karena sedari tadi malam Ayas hanya diam saja dan tadi pagi saat sarapan pun mereka saling diam. Kenapa? Satu pertanyaan dalam benak Aira. Mungkinkah Ayas sedang marah dan mendiami nya? Ahh jika benar, Aira akan membujuknya dengan kentang balado!.

Saat ini Aira sedang duduk menunggu anak-anak yang sedang menulis pelajaran yang di berikan nya. Alfi?, Apa kalian mencarinya?. Ya Alfi dan Ali sudah di jemput tadi pagi oleh ibunya. Ternyata ibunya hanya pergi satu hari saja dan ya sekarang Aira bisa pergi mengajar, karena jika Alfi masih bersama Aira sudah pasti sekarang Aira tidak bisa pergi mengajar, yang ada hanya main, main, main, dan main.

"Kalo ada yang udah bawa ke depan ya, ka Aira nilai langsung" ucap Aira tersenyum menatap lurus ke depan.

"Iya ka,,,," jawab anak-anak serempak.

Aira terus menatap ke depan dengan tangan yang menopang dagunya.

"Hah, kangen suasana pondok. Kangen Abi, Umi kangen Aisyah juga" batin Aira.

"Apa telepon aja ya, tapi jam segini Umi biasanya lagi masak, Abi pasti lagi ngajar, Aisyah juga pasti lagi ngaji pasti nggak pegang handphone juga. Hah" batin Aira dengan melirik jam dinding di sana.

"Ka Aira, aku udah selesai" ucap seorang menyadarkan Aira.

"Ah, iyah. Sini ka Aira nilai" balas Aira menilai tulisan anak itu.

Satu persatu Aira menilai tulisan anak-anak yang di ajarnya sampai selesai.

"Semuanya udah?" tanya Aira.

"Beno belum selesai ka" jawab seorang anak bernama Aji yang duduk di sebelah Beno.

"Kita tungguin dulu ya, Beno nya. Oh iya hari ini mungkin cuma nulis doang, nanti penjelasannya ka Aira bahas besok atau lusa ya. Soalnya ka Aira hari ini lagi ada keperluan" ucap Aira yang di akhiri senyuman.

"Ye,,,, ye,,,, ye,,,," sorak anak-anak semua.

"Udah. Kaya nya seneng banget?" tanya Aira.

"Ya seneng, soalnya bisa main-main dulu sebelum sholat magrib nya" jawab anak perempuan bernama Nisa.

Aira pun hanya tersenyum mendengar jawaban Nisa.

"Beno udah?" tanya Aira lagi.

"Bentar ka, dikit lagi" jawab Beno sedikit berteriak.

"Beno buruan dong, mau main loh kita ini" ucap Via anak perempuan yang selalu adu mulut dengan Beno.

"Diem deh, gak usah buru-buru jadi salah kan" balas Beno menghapus tulisannya yang salah.

"Lah ko marah"

"Udah, Beno sesudahnya aja ya"

"Sini, ka Aira nilai ko" lanjut Aira.

Aira pun menilai tulisan Beno.

"Nah, karena udah semuanya. Sekarang baca do'a" suruh Aira.

Setelah membaca do'a satu persatu anak-anak pun menyalami tangan Aira dan mengucapkan salam lalu keluar. Hingga tinggal satu anak lagi yang masih berdiri menunduk di hadapan Aira.

"Beno" ucap Aira.

"Maaf ya ka" ucap Beno menunduk.

"Untuk?" tanya Aira tak mengerti.

"Beno nulisnya selalu nggak selesai, Beno tadi kebanyakan ngobrol sama Aji sampe lupa nulis" balas Beno masih menunduk.

Aira pun berjongkok menyamakan tingginya dengan Beno.

Lebih Dari Seorang UstadzahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang