"Jadi, kesimpulannya Leya itu halusinasi karena efek tekanan dari ayah pas Leya dikurung?"
Setelah mendengar semua cerita Suhaa, akhirnya Leya mengerti semuanya. Ia juga sudah mendengar mengapa Suhaa hilang kabar selama seminggu.
Itu semua hanya karena rencana dari Dela. Meskipun itu bermaksud baik untuk merayakan ulang tahun Leya, tetapi entah mengapa Leya merasa ada yang aneh.
Suhaa juga akan mengajak Leya saat gadis itu telah sembuh ke apartemen barunya. Apartemen Suhaa cukup dekat dari Cafe sehingga Suhaa memilih untuk tinggal di sana.
Suhaa mengangguk mengiyakan. Ia lega setelah bercerita hampir se-jam dengan rinci kepada Leya. Meski lega, Suhaa masih khawatir perihal hubungan mereka.
Leya tak menjawab kali ini, gadis itu hanya sibuk menatap ke bawah dengan ekspresi datar. Ia masih tak menyangka jika ia sering menyakiti dirinya sendiri.
"Leya masih nggak habis pikir kenapa Leya bisa mau nyakitin diri sendiri," gumamnya tanpa menatap lawan bicaranya.
Mendengar itu seketika membuat Suhaa sesak. Ia langsung mengarahkan pandangannya pada pergelangan tangan Leya.
Napas Suhaa mulai manual, ia kembali mengingat sesuatu yang tidak ingin ia ingat dan bayangkan lagi.
"Itu salah gue, maafin gue," ucapnya tanpa memalingkan pandangan.
Mendengar itu Leya hanya bisa menghela napas. Ia merasa bersalah sekarang, lelaki itu tampak sangat menyesali perbuatannya.
Meskipun itu bukanlah sepenuhnya kesalahan Suhaa, tetapi lelaki itu tetap merasa bahwa dirinya lah yang paling bersalah.
Suhaa beralih menatap Leya dengan pelan, ia menatap mata gadis itu tak gentar. Ia ingin bertanya, sangat ingin bertanya mengenai sesuatu.
"A-anu,"
"K-kita.. nggak jadi.. putus, kan?" lanjut Suhaa.
Leya tak menjawab, ia sekali lagi menghela napas berat setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut lelaki itu.
Setelah beberapa saat, Leya membentangkan kedua tangannya dengan susah payah. Itu berarti Leya tengah menunggu pelukan hangat dari Suhaa.
Melihat hal itu membuat Suhaa bingung sejenak, hingga ia melihat senyuman lembut terpancar di wajah Leya.
Tak menunggu lama lagi, Suhaa menyambar tubuh mungil itu dengan pelukan hangat yang melegakan batin serta raganya.
Leya mengelus kepala Suhaa dengan sayang menggunakan tangan kirinya yang sudah tak terlalu sakit lagi akibat infus.
Sementara tangan kanannya digenggam oleh Suhaa dengan genggaman yang amat lembut agar tak menyakiti Leya.
"Berarti, kata orang-orang bener ya?" tanya Leya tiba-tiba.
"Orang-orang ngomong apa?"
"Kalau Leya itu nggak waras."
Mendengar hal itu membuat Suhaa menjauhkan wajah serta tubuhnya, ia menatap Leya dengan kerutan dalam pada alisnya.
"Siapa yang ngomong gitu?"
***
***
Di sebuah kamar dengan lampu redup, ada seorang gadis yang tengah duduk di atas ranjang sambil menggigit kuku jarinya.Gadis itu tengah takut setengah mati, ia gagal melakukan rencana nya yang ia susun dengan matang jauh hari sebelumnya.
Padahal ia sudah berusaha, padahal ia sudah menunggu hasil yang memuaskan. Tetapi pada akhirnya ia tak mendapatkan hasil sedikitpun.
Apakah ia harus terkejut atau tidak? Sedari dulu takdir tidak pernah adil padanya sekalipun. Bahkan ketika ia hendak merubah nasibnya pun tak direstui oleh takdir.

KAMU SEDANG MEMBACA
Menggapai Suhaa (END)
RomanceWARNING! (Peringatan!) Please everyone who sees this, please stop and never plagiarize/copy other people's work!!! I beg you so much! whoever it is! (Siapapun yang melihat ini, tolong berhenti dan jangan pernah menjiplak/menyalin karya orang lain...