Menggapai Suhaa 41: Hadiah yang lain

87 11 1
                                    

Ditinggal berdua dalam kamar itu, Suhaa beralih duduk di pinggir ranjang untuk mendekatkan dirinya kepada Leya.

Begitu juga Leya, ia menegakkan tubuhnya saat Suhaa datang kepadanya. Lelaki itu tampak sangat tampan, keringat di beberapa area wajahnya membuat ia semakin menarik.

"Suhaa capek ya? Suhaa lari ke rumah sakit bareng ayah sama adek Suhaa?" Leya bertanya dengan polosnya. Itu mungkin saja terjadi, kan?

Mendengar itu membuat Suhaa tersenyum lebar, jika ia tertawa maka habislah ia. Bagaimana bisa ia mendapatkan kekasih semanis Leya?

"Nggak, tadi naik mobil. Cuma tadi macet banget, panas juga.." ucapnya sembari mengelus kepala Leya.

"Oh, gitu. Eh, Zaki sama Dela nggak ikut bareng Suhaa?" Lagi-lagi Leya bertanya.

"Mereka bakal nyusul, tadi gue udah nawarin, tapi katanya gue duluan aja," balas Suhaa sambil memudarkan senyumnya perlahan.

"Oh gitu, ya. Tadi Leya juga telponan sama Raka, dia nggak bisa ke sini.. gurunya nggak ngasih izin." Ekspresi Leya tiba-tiba murung, ia sedih karena adiknya tidak bisa datang.

Melihat ekspresi Leya tampak berubah, Suhaa kembali memperlihatkan senyumannya. Ia lalu meraih ikat rambut milik kekasihnya yang terletak di atas nakas.

Dengan perlahan Suhaa menyusun rambut panjang Leya dan mengikatnya, "Dia pasti mau banget ketemu sama lu, tapi nggak bisa."

Suhaa mengikat rambut Leya karena sepertinya gadis itu kepanasan, "Tapi pasti Satria ucapin selamat ulang tahun, kan?"

Kalimat akhir Suhaa di balas anggukan singkat oleh Leya. Benar, tadi adiknya sudah mengucapkan itu dan akan memberikan hadiahnya ketika ia sudah boleh pulang.

Selesai mengikat rambut Leya, Suhaa beralih ke tangan kanan Leya. Ia menggenggam lalu mengelus pelan perban yang melilit tangan gadis itu.

"Kenapa Suhaa?" Leya bertanya setelah melihat wajah Suhaa yang tiba-tiba terlihat murung.

"Kenapa lu tanya? Gue nggak suka liat luka di badan lu.." balasnya dengan kesal. Jelas-jelas orang akan membenci rasa sakit, lalu mengapa Leya bertanya jika tahu alasannya.

"Takut lukanya bakal berbekas?" Jawaban Leya hanya biasa-biasa saja, ia tak terlalu memperdulikannya.

"Enggak, bukan itu bego!"

"Kalau gue liat lukanya lagi, gue ngerasa sakit, sedih sama marah. Pokoknya gue nggak suka!" lanjutnya sedikit membentak.

"Apa sih, Suhaa gaje banget." Leya mengerutkan keningnya karena kesal dengan jawaban Suhaa.

"Suhaa nggak usah segitunya kali, lagian bukan salah Suhaa jug-" kalimat Leya terhenti ketika melihat pintu terbuka.

"Permisi ahli kubur, saya datang membawa pasukan!!!"
***
***
Leya begitu senang, ia mendapat banyak hadiah serta beberapa kartu ucapan dari teman sekelasnya yang tidak hadir untuk menjenguknya.

Semua teman sekelas Leya telah pergi lima belas menit yang lalu, sementara Zaki memilih untuk tetap menetap di sana dan akan pulang bersama Suhaa.

Saat ini Leya tengah dikelilingi banyak kotak hadiah, buket serta kartu ucapan yang banyak. Betapa senangnya ia saat menerima semua itu.

"Ih banyak banget, makasih 'ya Ki.." Leya berterima kasih dengan tulus kepada Zaki yang telah memberikannya lima buah novel keluaran terbaru dari penulis kesukaan Leya.

"Iyalah, siapa dulu dong. Untung aja penulisnya mau tanda tangan setelah gue bujuk," balasnya merasa bangga.

"Oh iya, dari tadi Leya pengen nanya. Kok Dela nggak ikut?" Leya beralih bertanya. Ia juga tak mendapat hadiah dari gadis itu sama sekali.

Ia juga tak menerima kartu ucapan, Dela bahkan tak menghubunginya atau mengirimkan pesan padanya hanya untuk mengucapkan selamat.

"Katanya papanya mau ke luar kota, jadinya nggak bisa ikut." Zaki menjawab sesuai dengan alasan yang Dela sampaikan kepadanya.

Zaki juga tidak terlalu peduli jika gadis itu ikut atau tidak, malah ia sedikit lega karena gadis itu tak ikut dan membuat masalah.

"Oh, gitu ya.. ya udah deh."

"Btw lu udah nggak apa-apa, kan? Tangan lu masih sakit?" Kali ini, giliran Zaki yang bertanya.

"Nggak, udah lumayan sih. Tapi katanya Leya bakal lumayan lama di rumah sakit, nunggu jahitannya kuat," balas Leya cepat.

"Bagus dong kalau gitu. Semakin lu cepet sembuh semakin baik. Jangan khawatir, gue bakal bawain tugas atau materi ke sini supaya lu bisa belajar," jawab Zaki.

"Nah kalau catatan, Suhaa 'kan ada.. dia bakal nyatat semuanya buat lu, Bu Lastri juga pasti ngasih keringanan buat kita," lanjutnya.

Baru saja ingin menyela, suara pintu kamar yang terbuka membuat ketiganya menoleh secara bersamaan dan mencari tahu siapa yang datang.

Saat pintu terbuka, tampak Adiratna serta Amara masuk ke dalam sementara Agraham dan Darna menunggu di luar.

Ayah kekasih Leya melangkah masuk dan mendekat ke bibir ranjang, begitu juga dengan Amara yang mengekor pada ayahnya.

"Saya harus pulang sekarang, lain kali saya mampir lagi bareng Ara. Oh iya, selamat ulang tahun.." ucap Adiratna sambil memberikan sebuah papperbag kepada Leya.

"Eh, nggak usah repot-repot, saya udah senang karena om dateng buat jenguk saya," balas Leya merasa canggung untuk menerima hadiahnya.

"Nggak, malah harus dong. Ini hadiah dari Ara juga, dia yang milih soalnya. Kalau nggak diterima, Ara bakal sedih," kembali Adiratna menyodorkan papperbag itu.

"Mm.. kalau gitu makasih om, Ara." Akhirnya Leya menerima hadiah itu karena merasa tidak enak.

"Oke, Suhaa ikut ayah.. ajak temen kamu sekalian, biarin Leya istirahat dulu baru kalian mampir lagi nanti," ucapnya kepada Suhaa.

"Iya yah. Kalau gitu, gue pergi dulu 'ya Leya, istirahat.. jangan main hp mulu." Suhaa maju sambil mengelus kepala Leya dengan sayang.

"Iya, dah semuanya. Makasih udah mampir."
***
***
"Menurut lu, Dela tuh kek mana?"

Suhaa yang tengah duduk memainkan ponselnya di sudut ranjang langsung berhenti dan menatap Zaki yang duduk di depannya.

Saat ini mereka berdua tengah berada di apartemen baru Suhaa. Zaki memutuskan untuk menginap.

"Maksud? Emang Dela kenapa? Dia alien? Lesbi? Atau dia nyamar jadi cewek padahal dia berbatang?" Suhaa bertanya dengan bingung.

"Bukan itu bambang, elahh! Dia itu suka sama lu, dari dulu malah.." jawab Zaki dengan kerutan kening di dahinya.

"Ngawur lu. Nggak mungkin kek gitu, kalaupun iya, gue nggak peduli sih," balasnya dengan ekspresi datar.

"Gue punya rahasia bareng dia sih, mungkin gue bukan temen yang baik karna ngomongin dia dibelakang." Zaki mengubah posisi sambil memeluk guling.

"Apaan? Dia lesbi, 'kan?"

"Aelah nih bocah, nggak mungkin lah. Denger dulu baru ngomong!" bentak Zaki karena merasa kesal dengan tingkah Suhaa.

"Hm, serah lu. Jadi apaan?" Kembali Suhaa bertanya untuk kesekian kalinya.

"Janji lu nggak bakal bilang sama tuh anak, Leya juga nggak boleh tau. Kalau Leya tau, bakal gawat sih," ujar Zaki.

Mendengar nama Leya disebut membuat Suhaa menegakkan punggungnya, apa ini ada hubungannya dengan kekasihnya?

"Maksud lu? Pembahasan lu ada hubungannya sama pacar gue?" Lagi dan lagi, Suhaa kembali bertanya.

"Taek lu, giliran nama Leya disebut loncat lu. Sebenarnya nggak gimana-gimana, tapi Leya bakal sakit hati sih kalau tau,"

"Seperti yang gue bilang tadi, Dela suka sama lu, dan masih ngejer-ngejer lu sampai sekarang. Makanya gue takut persahabatan mereka rusak kalau Leya sampai tau,"

"Makanya gue bilang, jangan bilang-bilang sama Leya, denger nggak?"

Mendengar itu Suhaa spontan mengangguk, lagipula untuk apa ia mau memberitahu Leya jika ia tahu Leya akan merasa sedih.

"Oke, langsung cerita."
***
***

Menggapai Suhaa (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang