✴️18✴️

149 19 3
                                    

₹Author POV₹

Hari-harimu di Wakanda.

Terasa sepi sekarang.

Terasa bosan sekarang.

Belum pernah kau kelusr labmu.

Tak jarang kau berperilaku aneh.

"What you do? Oh, you can't hear me"

Bermain sesukamu.

"Head shot! Wuih! Nggak pecah!"

Melakukan hal yang mengganggu.

"Knock, knock, who is there? Me, me who? Me the genius girl...alone"

Sampai diusir orang-orang yang ikut membantumu.

"Wait, why? I just-ck, come on!"

Akhirnya kau berada di luar labmu.

Manikmu dimanjakan pemandangan yang asri.

Kau pun terkagum-kagum lagi oleh Wakanda.

Kakimu mulai melangkah untuk berkeliling.

"Wuoh, aku menjadi Alice in Wonderland"

Bagimu Wakanda seperti negara ajaib yang tersembunyi.

Tidak terbaca map.

Memiliki penghalang khusus yang tak terlihat.

Benar-benar tersembunyi tapi teknologi mereka maju.

"Sedang istirahat?"

Kau pun berbalik badan ketika ada yang menyapamu. "Your majesty"

"Kau tidak perlu melakukan hal itu, sungguh"

"Aku hanya merasa tidak enak, selama ini aku sudah tidak sopan padamu king T'Challa"

"Tidak apa, itu hal biasa"

"Well...wanna walk?"

"Yes, sure"

Rasanya canggung awalnya berjalan dengan orang penting di negara ini.

Lambat laun rasa canggung itu hilang karena percakapan yang tercipta.

"Bagaimana perasaanmu setelah tinggal di sini beberapa waktu?", tanya T'Challa.

"Aku merasa aman dan tenang di sini, sebelum kemari aku selalu merasa was-was, takut jika mereka menemukanku"

"Apa yang dilakukan mereka padamu dan dia sungguh tidak manusiawi"

"Mereka iblis berwujud manusia...akhir-akhir ini juga aku tidak mendapat mimpi buruk"

"Jika masih terjadi kami akan membantu"

"Oh, thank you very much, ehm...ada satu hal sih"

"Katakan saja tidak apa"

"Bisakah kau melatihku?"

✴️✴️✴️

₹Reader POV₹

"Capek!"

Aku memang meminta bantuan untuk melatihku tapi tidak kusangka seketat itu!

Aku menaiki badak raksasa(?)

Berlari sambil dikejar badak itu.

Badanku sakit semua terkena tongkat tomvak mereka!

Tentara wanita di sini tidak main-main!

"Padahal aku bilang aku back up saja"

Ternyata ada hal yang tidak aku bisa.

Selama ini segalanya aku bisa lakukan.

Berat juga ya.

"I'm feel lonely..."

Semua kegiatan itu tidak megusir rasa sepiku.

Aneh memang.

Aku belum pernah merasa begini sebelumnya.

Aku masih belum bisa hubungi Sam atau Steve atau yang lain.

Mereka apa kabar ya?

Mereka pasyi tertangkap dan dipenjara sekarang.

Aku harap bukan penjara yang di laut itu.

Aku dengar penjara itu ketat sekali penjagaannya.

Yah, kalau CCTV dan hal lain aku bisa hack.

Steve bilang mau bebasin mereka.

Wah, benar-benar jadi kriminal sekarang.

"Hei doll"

Aku langsung duduk dari rebahanku mendengar suaranya.

"Kok?", keluar!?

Aku melihat ke arah tabung dan kosong.

Sudah waktunya ya?

Koo aku nggak tahu!?

Pipiku diusapnya. "Are you okay?"

"Oh, i-i'm fine, i'm fine, i just tired"

"Sorry to make you wait"

"What time is it?"

"Midnight"

"And you--"

"Sore tadi, aku mencarimu saat mereka mau memeriksaku"

Selama itu ya? Wah, latihan tadi benar-benar lama!

"Well, welcome back sergeant Barnes"

"Don't call me like that"

"Whatever"

Awkward.

Tengah malam begini kenapa dia masih bangun?

"Bukannya kau harusnya istirahat?", tanya saja.

"Aku hanya ingin melihatmu"

"Sudah kan? Sekarang istirahatlah, sudah malam lagi apalagi--!"

Ah, sialan main cium saja ini pria tua.

Aku mendorongnya langsung, ingin rasamya aku tampar keras.

Tapi aku terlalu lelah hari ini.

"Buat apa menciumku?"

"I miss you"

Fuck.

Haruskah cium?

Sopankah begitu?

Andai ada Sam, pasti dia lamgsung heboh.

Steve pasti cuma cengar cengir nggak jelas, dasar bapak-bapak tua.

Wanda apalagi, malah dukung.

"I'm tired...", aku memeluk diriku sendiri dan menenggelamkan kepalaku di lipatan lenganku. "Just go...i'm really tired"

"Aku mau temani kau"

"Sampai kapan? Sampai pagi?"

"Until the end of the line"

Gombalan fosil ini sanggup membuat mataku mengintipnya.

Dia hanya tersenyum dan mengusap rambutku.

Aku terlalu lelah untuk berdebat, aku biarkan saja dia kali ini sesukanya.

Dia menarikku dalam pelukannya.

Anehnya terasa nyaman.

Dia mengangkat wajahku agar bertatapan padanya.

Sekali lagi bibir kami bertemu.

Seandainya aku tidak selelah ini, aku sudah menamparnya.

"Good night, doll"

Truly I AmTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang