Menggapai Suhaa 42: yang sebenarnya

75 10 1
                                    

"Jadi gini, sebenarnya Bu Lastri itu ibu tirinya Dela."

Baru saja kalimat pertama dilontarkan oleh Zaki langsung membuat Suhaa terkejut. Ia baru tahu akan hal itu, mengapa Zaki bisa tahu?

"Jangan kaget dulu woe, baru juga mulai," ujarnya saat melihat ekspresi terkejut Suhaa.

"Nah, pas lu masuk BK di hari pertama, lu nitip pesan ke Bu Lastri 'kan ya? Sebenarnya Bu Lastri gak nyampein pesan lu sesuai yang lu bilang,"

"Itu karna Dela yang bilang. Rencana tentang ulang tahun buat Leya juga direncanain sama Dela, kan? Makanya gue nggak setuju waktu itu,"

"Ya karena Dela ada maksud lain. Dia pengen Leya salah paham tentang lu supaya hubungan kalian renggang, mereka halangin komunikasi antara kalian berdua dengan cara apapun,"

"Gue juga tau sesuatu yang lebih parah banget sih. Dari dulu tuh anak emang nggak bener, gue juga simpan nih rahasia sejak kelas sebelas," lanjutnya panjang lebar.

"Apaan yang lebih parah lagi?" Suhaa bertanya dengan serius tanpa mengedipkan matanya sedikitpun.

"Lu tau nggak kalau Leya ngunggah foto-foto bareng lu di sosmed?" Kali ini Zaki lah yang bertanya.

Suhaa mengangguk semangat, baru-baru ini ia tahu jika Leya mengalami masalah di sosial media, "Gue baru tau sih,"

"Nah, dia sering dapet komenan negatif dari orang-orang, kan? Terutama cewek-cewek yang suka sama lu karna lu populer di cafe,"

"Sebenarnya Dela yang bikin skandal kalau Leya itu gila, dia nyebarin semuanya ke orang-orang di sekolah supaya Leya jadi bahan gosip,"

"Semuanya kasian sama lu karna pacaran sama Leya yang katanya nggak waras, padahal mah nggak. Dia juga bikin akun fake buat ikut-ikutan manas-manasin di sosmed,"

"Jadi gitu deh. Dan akhir-akhir ini dia bakal buat rencana lagi, nah kalau dia ngomong yang nggak-nggak tentang gue, lu jangan dengerin!"

Setelah mendengar semua itu, Suhaa benar-benar merasa marah. Bukan hanya marah, ia juga terkejut, sedih dan tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar dari Zaki.

Dela yang merupakan sahabat Leya sejak kecil, yang mengenal Leya lebih baik dari dirinya dan Zaki tega berbuat seperti itu hanya karena ia menyukai Suhaa.

Pantas saja saat Suhaa bekerja di cafe, banyak pelanggan datang serta membuatnya menjadi populer karena promosi dari manajernya.

Ternyata itu semua karena Leya yang mengunggah beberapa foto dirinya tengah berdua di cafe dan tengah menggunakan seragam Barista.

Tetapi, ada satu yang membuat Suhaa merasa heran dengan Zaki. Mengapa lelaki itu bisa tahu semuanya dengan rinci, tidak mungkin jika Dela akan memberi tahu semua rencananya, kan?

"Tunggu dulu, kenapa lu bisa tau semuanya? Setiap rinci dan kejelasan lu kok jelas banget? Dari tadi lu yakin banget kalau Dela begini dan begitu," tanya Suhaa merasa aneh.

Mendengar itu membuat Zaki merasa gugup, apakah ia harus memberitahu lebih dalam lagi?

"Sebenarnya dulu gue sama Dela pernah ngomong rahasia kita berdua. Rahasia terbesar dia adalah suka sama lu, dan rahasia terbesar gue adalah suka sama Leya."

Mendengar itu seketika membuat Suhaa terkejut bukan kepalang, barusan ia mendengar jika Zaki menyukai kekasihnya.

"Eits, jangan salah paham dulu. Itu pas kelas sebelas yak, sekarang gue udah nganggep Leya sebagai temen doang, lagian gue udah punya pacar,"

"Makanya Dela ngasih tau semuanya ke gue, dia nawarin ke gue supaya ikut rencana dia buat jauhin kalian berdua, dia juga minta gue nggak ngomong sama siapa-siapa,"

"Mampus deh, gue bakal jadi temen paling buruk. Gue baru aja ngingkar janji gue, anj*ng lah!"

"Lu beneran udah nggak suka sama Leya, kan?" Suhaa tak peduli apapun mengenai Dela, tetapi ia merasa bimbang jika sahabatnya juga menyukai kekasihnya.

"Santai aja bos, gue bakal buktiin sama lu. Kalau Leya udah keluar dari rumah sakit, kita bakal nge-date bareng, setuju nggak?" balas Zaki sambil menepuk bahu Suhaa.

"O-oke deh kalau gitu."
***
***
Malam berikutnya di rumah sakit, Leya mulai merasa muak karena tak bisa bergerak seharian dalam kamar bernuansa putih itu.

Semuanya membosankan, bau-bau obat serta beberapa alat yang bisa ia rasakan dan lihat. Tidak ada yang lain, bahkan ponselnya pun tak mengasyikan sama sekali.

Hari telah larut, namun Leya tak kunjung dapat menutup mata. Hanya helaan napas yang selalu keluar dari mulut Leya.

Ia mengeluh, ia sangat ingin pulang ke rumah. Tapi tangannya sama sekali tak kunjung membaik, bahkan sewaktu-waktu tangannya menampilkan sebercak darah saat Leya tiba-tiba bergerak.

Lamunan Leya seketika saja buyar ketika ayahnya tiba-tiba masuk ke dalam kamar.

"Ley, kenapa belum tidur?" Agraham bertanya sembari melangkah dan langsung duduk di pinggir ranjang.

"Ah itu yah, Leya nggak bisa tidur..," jawabnya tanpa berbohong sedikitpun.

Agraham menghela napas, ia beralih mengelus kepala putrinya dengan sayang. Sejujurnya ia ingin bertanya, tapi ia merasa gugup..

Ekspresi ayahnya terlihat murung, entah kenapa Leya merasa jika ayahnya tengah dilanda emosi gejolak yang membuat ayahnya berekspresi seperti itu.

"Oh iya, ayah nggak apa-apa?" Tiba-tiba saja Leya bertanya hingga membuat Agraham merasa bingung.

"Mm soalnya pas Leya halusinasi, Leya ngomong yang nggak-nggak ke ayah. Itu bukan Leya loh yah, nggak mungkin Leya ngomong gitu ke ayah," jawabnya.

Mendengar itu Agraham hanya bisa tersenyum, ia tak tahu senyumnya menandakan ia senang atau tidak sama sekali.

"Kalau ditanya, ayah nggak mungkin nggak apa-apa. Karena semua yang kamu alami itu semua karena ayah," balasnya sambil menyentuh pergelangan tangan putrinya.

"Nggak! Bukan ayah kok. Leya halusinasi pasti karena kecapean doang, soalnya Leya bentar lagi ujian." Leya membantah, ayahnya tidak bersalah sedikitpun.

"Itu adalah salah ayah. Mulai dari sekarang ayah bakal datang tiap malam ke kamar kamu untuk mastiin kamu nggak halusinasi lagi,"

"Dokter nyuruh ayah mulai dari sekarang sampai kamu kembali ke rumah. Kamu tau kenapa ayah yang diminta melakukan itu dan bukannya mama kamu?"

"Itu karena ayah adalah penyebab halusinasi kamu. Dokter bilang ke ayah kalau kita harus liat reaksi kamu kalau ayah datang ke kamar kamu tiap malam,"

"Kalau kamu halusinasi disaat ayah datang, kata dokter kamu bakal denger suara-suara aneh lagi, dan suara-suara itu nyuruh kamu bunuh ayah,"

"Kalau bukan bunuh ayah, maka kamu yang harus nyakitin diri kamu sendiri. Ayah nggak bisa biarin itu, ayah nggak masalah kalau ayah mati, yang penting kamu nggak sakit lagi," lanjutnya hingga suaranya perlahan menghilang.

"Nggak, itu nggak bener! Udah dibilangin Leya gitu karna capek. Nggak ada hubungannya sama ayah, ngerti nggak?!" Leya dengan berani membentak ayahnya yang hanya diam mendengarkan.

Dengan cepat Leya memeluk sang ayah dengan erat, "Ayah jangan bilang gitu, udah takdirnya Leya gini. Ayah nggak salah apa-apa, itu nggak bener sama sekali kok yah,"

"Kalau ayah ngomong gitu lagi Leya cubit ya, awas aja. Leya sayang banget sama ayah, ayah nggak boleh ngomong gitu, seakan-akan ayah bakal ninggalin Leya. Ishh, Leya nggak suka!"

"Ayah janji nggak bakal ngomong gitu lagi, kan? Janji nggak? Ayo janji!!" Leya perlahan menjauhkan wajahnya dan menatap sang ayah.

Agraham masih setia menatap putrinya, entah apa yang terjadi, ia merasa jika ia tak pantas mendapatkan semua ini.

Tapi ia tak mau menyia-nyiakan kepercayaan putrinya, tidak ingin sama sekali.

Dengan perlahan Agraham mengecup kening putri kesayangannya lalu tersenyum lembut, "Ayah janji. Sekarang, waktunya istirahat Leya."

"Tapi ayah janji loh," ucapnya sembari berbaring dan tak melepaskan tangan ayahnya.

"Iya, ayah janji. Sekarang tidurlah."
***
***

Menggapai Suhaa (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang