Di hari yang cerah ini, kembali Suhaa menjalankan aktifitasnya sebagai seorang pelajar yang tengah menuntut ilmu di sekolah.
Tetapi, semangatnya menjadi menurun tiap harinya. Tepat hari ini, sudah seminggu lama nya Leya masih berada di rumah sakit.
Ia benar-benar rindu pada gadis itu, biasanya jam-jam istirahat begini, gadis itu akan berada tepat disampingnya.
"Ki, bolos yuk," Suhaa mengajak Zaki untuk bolos bersama dan lari ke arah rumah sakit untuk menemui Aleya.
"Gue aduin ke Leya lu ye, nggak-nggak, yang ada kita makin terlambat pelajaran. Ingat woe, bentar lagi ujian!" Zaki berseru dengan kencang di akhir kalimat.
"Tapi gue mau ketemu Leya!" Suhaa membalas dengan teriakan yang sama kerasnya.
"Lu bego ya? Jaman sekarang itu udah ada hp yang super canggih. Ya telpon si Leya bambang!" Lagi-lagi Zaki menjawab dengan keras.
"Nggak bisa.. ayahnya ngelarang," kali ini suara Suhaa malah terdengar kecil karena merasa tak senang dan tambah kesal.
"Ya udah, udah nasib lu kek gini."
"Bolos aja woe, gue mau ketemu-!" Kalimat Suhaa terhenti ketika ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya yang menandakan Suhaa mendapat pesan dari seseorang.
Suhaa dengan cepat membuka ponselnya dan mencari tahu siapa yang telah mengirim pesan padanya.
"Lah, si Dela!" Betapa terkejutnya ia ketika melihat nama orang yang mengirimkan ia pesan.
Ternyata Dela, apa yang telah terjadi pada gadis yang seminggu lalu tak masuk, gadis itu tiba-tiba menghubungi Suhaa.
"Dia ngomong apaan?" Zaki semakin mendekat ke arah Suhaa untuk melihat isi pesan dari Dela.
Gue mau ngomong sesuatu..
Dengan cepat Suhaa menggunakan fitur Voice note agar percakapan mereka berjalan lancar.
Setelah mengirim pesan suara itu, Dela dengan sigap langsung menghubungi Suhaa tanpa berpikir panjang.
"Halo? Lu lagi sendiri 'kan Ha?" Tanpa menunggu lagi, Dela langsung kepada inti pembahasannya.
Zaki memberitahu Suhaa untuk mengatakan jika ia sendiri dengan bahasa isyarat agar Dela tak menyembunyikan apapun.
"Gue sendiri nih, emangnya mau ngomong apaan?" Suhaa mengikuti instruksi Zaki lalu memberitahu Dela jika ia tengah sendiri.
"Gue mau ngasih tau sesuatu, tapi jangan kasih tau Zaki. Jadi gini, sebenarnya Zaki itu suka sama Leya woy, Leya juga katanya suka sama Zaki."
Kalimat demi kalimat Dela membuat Suhaa merasa kesal, entah apa yang terjadi pada gadis itu sehingga ia melakukan hal memalukan seperti ini.
"Gue tau ini sulit dipercaya, tapi ini beneran. Leya pernah bilang ke gue kalau dia itu suka banget sama Zaki, dan begitu juga Zaki. Lu harus percaya sama gue!"
"Yang lebih parahnya lagi, Zaki ngajak gue buat ngancurin hubungan lu, tapi gue nggak mau. Sumpah dah!" Lanjut Dela hingga membuat Zaki marah.
Dengan cepat Zaki mengambil paksa ponsel milik Suhaa dan menyalakan speaker ponsel itu.
"Lu parah banget sih Del, gue nggak nyangka banget!"
***
***
Saat ini, Leya tengah berjalan-jalan bersama dengan sang ayah di taman rumah sakit. Walau ia memakai kursi roda, tetapi ia bersyukur karena bisa keluar dari kamar untuk pertama kalinya.Sudah seminggu lamanya Leya berada di rumah sakit itu, keadaannya pun kian membaik tiap harinya, tapi ia masih di tahan di rumah sakit.
Tangan kiri Leya pun telah bebas dari infus kemarin, ia hanya harus meminum vitamin secara rutin dan menjalani beberapa pemeriksaan ringan.
Mental Leya juga telah membaik setelah mendapat terapi dari psikiater. Dan mengapa ia belum boleh pulang sama sekali?
"Ayah, Leya masih belum boleh pulang?" Leya bertanya kepada ayahnya yang masih setia mendorong kursi roda putrinya.
"Besok, kita bakal pulang besok." Agraham berhenti mendorong dan mengelus kepala putrinya sayang.
"Eh, beneran?! Asik, yes!" Leya kegirangan saat mendengar itu dari ayahnya. Besok ia akan pulang, dan tak lama lagi ia akan kembali bersekolah.
"Tapi kenapa nggak sekarang aja? Lagian Leya juga udah baikan, cuma gara-gara beberapa obat bius aja yang bikin Leya pusing," Leya beralih bertanya lagi.
"Maaf ya, ayah pengennya kamu tetap di rumah sakit sampai kamu pulih total, mama kamu juga pengennya gitu. Tapi kayaknya kamu nggak betah," balas Agraham.
"Ayah janji kita pulang besok, mau langsung sekolah juga udah boleh," lanjutnya sambil tersenyum.
Mendengar itu membuat Leya semakin bersemangat, jika ia pulang besok, maka lusanya ia akan langsung sekolah. Ia sudah tak sabar!
Melihat putrinya begitu senang membuat hati Agraham ikut berbunga-bunga. Begitu senangnya ia ketika melihat senyum di wajah Leya.
"Udahan 'ya jalan-jalannya, ini udah lumayan lama, kita balik ke kamar sekarang." Agraham putar balik ke arah lobi rumah sakit untuk mencapai lift dan naik ke lantai tiga.
***
***
Keheningan membentang, Dela tak kunjung berbicara ketika ia mendengar suara Zaki yang tiba-tiba terdengar.Gawat! Zaki saat ini tengah bersama Suhaa, bagaimana ini? Apakah ia harus melanjutkan kebohongannya? Atau berkata jujur dan merasakan malu?
Dela dengan gugup menggigiti kuku-kuku jarinya. Ia tak boleh khawatir, lagipula Zaki belum memberitahu semuanya pada Suhaa, mungkin.
"A-apa? Bener 'kan lu suka banget sama Leya? Gue tau kalau Leya selingkuh dari Suhaa, lu gak ada otak banget sih Ki!" Mau tak mau, Dela harus melanjutkan kebohongannya.
Zaki tidak mungkin berani mengungkapkan hal itu kepada Suhaa, ia hanya perlu meyakinkan lelaki itu agar ia berada di pihaknya.
"Lu udah gila Del! Bisa-bisanya lu nuduh Leya yang nggak-nggak, lu itu sahabatnya Del! Sadar! Suhaa nggak mungkin suka sama lu!" Kembali Zaki berteriak.
Mendengar itu membuat Dela marah, apa yang Zaki tahu sehingga ia berani berteriak seperti itu!? Tidak ada yang tahu dengan isi hati Suhaa.
"G-gue nggak pernah bilang gue suka sama Suhaa! Apa-apaan lu, tiba-tiba bawa-bawa nama gue. Kalau salah ya salah aja Ki," balas Dela membela diri.
"Gue nggak nyangka banget sih lu malah nuduh gue balik, jangan percaya Suhaa! Yang dibilang Zaki itu nggak bener!" lanjut Dela.
"Gue tau yang mana benar dan yang salah Del, lu nggak usah capek-capek ngejelasin."
Kali ini Dela semakin ketakutan dan gugup, suara Suhaa terdengar dingin, apakah lelak itu sudah tahu semuanya?
"Gue udah tau semuanya, dari awal sampai akhir. Gue juga tau mengenai gosip yang lu sebarin ke orang-orang tentang Leya,"
"Gue juga tau soal ibu tiri lu yang ternyata wali kelas kita. Gue tau semuanya Del,"
"Kok lu gitu si Del, Leya salah apa sama lu sampai-sampai lu harus buat hal yang bikin temen-temen lu marah sama lu," lanjut Suhaa panjang lebar.
Mendengar itu Dela merasa marah, apa yang ia lakukan? Ia hanya berusaha mengubah nasibnya, apakah ia salah jika ia mengubah nasibnya yang malang?
Leya, hanya karena gadis bernama Leya itu, teman-temannya sudah meragukan kejujuran Dela.
"Seharusnya lu paham kenapa gue gini, gue cinta sama-!" Kalimat Dela berhenti karena ia mendengar helaan napas keluar dari mulut Suhaa.
"Maafin gue Del, gue harap lu lupain semua ini. Dan jangan sampai Leya tahu masalah ini, gue peringatin lu," ujar Suhaa.
Setelah itu, panggilan itu akhirnya berakhir dengan ditutup oleh Suhaa yang sudah merasa muak dengan apa yang dikatakan oleh Dela.
Sementara Dela merasa sakit hati, ia merasa kesal, marah dan sangat kecewa kepada ketiga teman-temannya.
Apaan, gue nggak terima anj*ng!
***
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Menggapai Suhaa (END)
Любовные романыWARNING! (Peringatan!) Please everyone who sees this, please stop and never plagiarize/copy other people's work!!! I beg you so much! whoever it is! (Siapapun yang melihat ini, tolong berhenti dan jangan pernah menjiplak/menyalin karya orang lain...