Zaki, Leya dan Suhaa tengah bertiga dalam kamar perawatan milik Leya. Mereka memutuskan untuk menjenguk Leya sebelum gadis itu pulang esoknya.
Mereka bertiga juga sedang belajar bersama, Leya duduk di kasur sementara kedua lelaki itu tengah duduk di sebuah kursi di depan kasur.
Ketiganya sibuk membaca dan memecahkan beberapa pertanyaan yang ada di buku, Suhaa juga telah selesai mencatat materi hari ini untuk Leya.
Tadinya Leya sangat menolaknya, tetapi lelaki itu sangat keras kepala hingga membuat Leya menyerah dan membiarkannya.
"Tadi pelajarannya gimana? Dela masih belum ke sekolah?" Leya bertanya di tengah-tengah sibuknya mereka belajar.
Zaki dan Suhaa saling memandang, Zaki membalas dengan ekspresi datar menandakan jika ia tak terlalu peduli jika Leya tahu atau tidak.
"Biasa aja, semuanya sama aja. Sementara Dela, dia belum hadir. Ini udah yang ke delapan harinya dia absen," balas Suhaa acuh tak acuh.
Ia lebih memilih berbohong, lagipula Leya tak perlu tahu jika Dela telah melakukan sesuatu yang pasti akan membuat Leya sedih.
Leya hanya mengangguk murung untuk menanggapi. Ia khawatir kepada Dela yang tak terlihat belakangan ini.
Bahkan untuk menjenguknya pun tak pernah. Sekarang gadis itu malah menghilang dan tak pernah datang untuk menampakkan diri.
"Dia nggak kenapa-napa, kan? Pihak sekolah udah coba hubungin, kan?" Kembali Leya bertanya.
"Udah, tiap hari pak kepala sekolah hubungi, tapi tetap sama. Surat juga udah dikirim, tapi sama aja, nggak ada tanggapan," jawab Suhaa.
"Loh, kok kepala sekolah yang bertindak? Ibu Lastri gimana? Ibu juga udah nanyain kabar Dela ke ayah atau ibunya?" Lagi-lagi Leya bertanya.
Mendengar itu, Suhaa dan Zaki kembali mencuri-curi pandang satu sama lain.
Kepala sekolah melakukan itu karena Bu Lastri ikut absen sejak Dela tak ada kabar. Sepertinya keluarga Dela cukup rumit untuk dipikirkan.
"Bu Lastri juga udah berbuat sebisanya, tapi tetap sama." Suhaa kembali meladeni pertanyaan Leya, tapi kali ini dengan jawaban singkat.
Semakin Leya memikirkannya semakin Leya merasa khawatir. Entah apa yang terjadi sejak ia tak bersekolah, ia juga tak mengerti.
"Kalian mau nggak ke rumah Dela kalau Leya udah ke sekolah? Kita cari tau kabarnya Dela," ujar Leya kepada kedua lelaki itu.
Sontak saja Suhaa dan Zaki mendongak menatap Leya dengan mulut yang sedikit terbuka. Bagaimana sekarang?
Memang mereka juga penasaran apa yang terjadi pada Dela, tetapi lebih baik mereka tak pernah tahu, apalagi sampai ikut campur.
"Itu nggak perlu Ley, lagian pihak sekolah udah tanganin. Nggak usah khawatir," Zaki membalas dengan kerutan kening yang dalam.
"Loh, kok nggak perlu? Malah kita yang harus-!" Kalimat Leya terhenti ketika ponselnya berbunyi.
"Eh, Dela nelpon!" Ia berseru dengan riang ketika tahu jika Dela yang menghubunginya.
Berbalik dengan ekspresi Leya, Zaki dan Suhaa malah panik ketika tahu jika Dela-lah yang menghubungi Leya.
***
***
Di sisi lain..Dela masih menunggu Leya mengangkat panggilannya, bahkan ia kembali menghubungi Leya saat ponsel gadis itu tak ia angkat.
Pasti Leya belum melihat ponselnya, atau gadis itu tengah tidur. Tidak mungkin jika Leya akan mengabaikan panggilan dari sahabatnya yang telah menghilang?
Dela masih menunggu, sambil menggigit kuku ia masih setia menempelkan ponselnya di telinga kanannya.
Ia sekali lagi menghubungi nomor Leya agar gadis itu bisa segera mengangkat panggilan Dela.
"Angkat dong, angkat!" Dela berteriak, ia lagi-lagi kembali menekan nomor ponsel Leya dan menunggu.
Tapi tak membuahkan hasil yang memuaskannya, gadis itu tak mengangkat panggilan darinya sebanyak Dela mencoba menghubungi nya kembali.
"Bisa nggak lu minggir a*njing!" Kembali Dela berteriak. Kali ini ia berteriak kepada orang yang sedang memohon-mohon di depannya.
Orang yang baru saja Dela bentak tersungkur karena tendangan dari Dela. Tubuh wanita itu telah sakit karena pukulan suaminya, dan sekarang anak tirinya melakukan hal yang sama.
Lastri, wali kelas mereka. Wanita itu tampak berantakan dan menangis tersedu-sedu di bawah kaki Dela yang sedang duduk di pinggir ranjang.
"T-tolong bilang sama.. ayah kamu, supaya i-ibu nggak di usir! Supaya ibu nggak di ceraiin!" Lastri terus memohon ampun kepada Dela.
"I-ibu janji bakal nurut sama kalian, yang penting ibu nggak di usir. Tolongin ibu nak," lanjutnya tersedu-sedu.
"Apaan, lu yang bikin bokap gue marah. Gue juga kena pukul ba*gsat!" Dela balik membentak dan memperlihatkan bekas tamparan ayahnya kepada Lastri.
"Sekarang apa, lu mau gue teriak-teriak ke bokap gue sementara kita di kunciin di sini, hah? Mikir!" lanjut Dela sambil mendorong Lastri.
Ya, saat ini mereka terkunci di gudang sebuah rumah kedua milik keluarga Dela. Sebuah kejadian besar terjadi beberapa jam yang lalu.
Mereka dikurung di gudang itu karena Lastri yang bertengkar dengan ibu kandung Leya hingga pingsan, sejak dulu wanita itu memang lemah.
Sehingga ayah Dela murka dan langsung mengurung Lastri serta Dela lalu membawa istri pertamanya ke rumah sakit.
Lastri dikurung karena alasan yang jelas, sementara Dela dikurung dan dipukul tanpa sebab! Kenapa?!
"Gue dikurung di sini karna lu yang bawa-bawa nama gue, gue bahkan nggak ikut-ikutan tapi gue malah di pukul!"
"Ngapain gue kasian sama lu yang cuma jadi beban buat keluarga gue. Seharusnya lu jadi pembantu aja sama kakak lu di rumah kakek gue!"
"Gue nyesel bantuin lu dan nikahin lu sama bokap gue. Nggak ada terimakasih nya lu anj*ng," lanjut Dela membentak Lastri sambil menjambak rambutnya.
Dengan susah payah Lastri kembali bangkit dan kembali merangkak ke arah kaki Dela dan memohon-mohon disana.
Wajahnya begitu sakit, begitu juga dengan beberapa memar di tubuhnya yang membuat dirinya semakin tak kuat untuk melawan lagi.
Tapi ia harus berusaha, karena ia memang harus bertahan hidup, meski ia harus menjadi orang paling murahan di dunia ini.
"Ibu mohon nak.. ibu nggak apa-apa dipukulin tiap hari, tiap jam, yang penting ibu nggak di ceraiin, ibu harus kemana lagi kalau ibu di usir, ibu juga nggak bakal bisa jadi guru lagi nak," ujarnya semakin menjadi-jadi.
"Jadi gue harus peduli gitu, lu yang selalu nyari gara-gara ke mama gue, ngapain juga gue harus bantuin lu," balas Dela kesal.
"Udah lah, jangan ribut mulu lu anj*ng! Gue capek, gue harus ketemu sama Leya!"
***
***
"Kenapa telpon Dela nggak boleh diangkat?" Sudah beberapa kali Leya bertanya kepada Suhaa dan Zaki dengan pertanyaan yang sama.Suhaa dan Zaki mencuri-curi pandang. Apakah mereka harus mengungkapkan segalanya kepada Leya, tapi bagaimana?
"Gue kasih tau kalau lu udah balik ke sekolah, gimana?" Zaki menjawab tanpa basa-basi, ia setuju jika Leya harus mengetahui ini, secepatnya.
Suhaa yang mendengar itu berbanding terbalik dari Zaki. Ia merasa khawatir, tetapi ia juga ingin Leya mengetahui semuanya tanpa halangan.
Yang menjadi masalahnya adalah, Leya mungkin saja akan merasa sedih lagi, baru saja ia akan keluar dari rumah sakit, tetapi kali ini mentalnya kekasihnya kembali di uji.
"Kalau lu udah tau, gue mau lu nerima semuanya Ley, gue tau itu bakal sulit, tapi ini demi kebaikan lu," ucap Suhaa membuat Leya semakin bingung.
Entah apa yang terjadi, tetapi ia sudah mulai merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Semoga saja hal yang buruk tak terjadi lagi.
"Leya berharap bukan kabar buruk," balasnya dengan ekspresi cemas.
***
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Menggapai Suhaa (END)
RomanceWARNING! (Peringatan!) Please everyone who sees this, please stop and never plagiarize/copy other people's work!!! I beg you so much! whoever it is! (Siapapun yang melihat ini, tolong berhenti dan jangan pernah menjiplak/menyalin karya orang lain...