Felicity 06: Tidak untuk Bahagia

11 3 0
                                    

Malam selalu terasa sangat sepi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Malam selalu terasa sangat sepi. Juan tidak pernah menyukainya. Sebab suara jangkrik dan hewan malam tidak pernah berhenti terdengar. Membuatnya diselimuti khawatir tiap langit sudah berubah gelap.

Jam dinding di salah satu dinding kamarnya masih berdetak, seirama dengan detak jantungnya. Tiap mendengar itu, dadanya seperti di himpit sesak. Mengingatkannya pada malam-malam panjang yang pernah dia lalui sebelumnya.

Lima tahun lalu, Juan hanyalah bocah SMA nakal yang tidak peduli pada orang-orang di sekitarnya. Dia sering pulang terlambat, menghabiskan banyak waktu sampai malam untuk nongkrong bersama teman-temannya. Sama seperti sekarang orang tuanya sering pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, bedanya saat itu Juan tidak peduli bahwa ia punya seorang adik yang selalu dia biarkan sendirian.

Di pertengahan Maret tahun itu, orang tuanya pergi ke Jakarta. Harusnya hari itu Juan berada di rumah, sebab Egi  memintanya untuk menemani. Namun Juan tidak mau. Dia kekeh tidak pulang sampai malam datang.

"Egi, Mas pulang bukain pintu dong!"

Tidak ada jawaban. Rumah terlihat gelap tanpa satupun lampu yang menyala. Biasanya sang Adik pasti meyalakan semua lampu sebab dia takut gelap. Namun malam itu tidak ada cahaya satu pun yang menerangi rumahnya.

Air mulai berjatuhan. Gemericik air membuat Juan buru-buru membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci. Dia mencari keberadaan saklar lampu, menyalakan penerangan agar rumahnya tidak terlihat suram.

"Egi, kamu di mana sih?!" Juan berteriak sebab biasanya Egi akan menyambutnya ketika pulang, sekalipun Juan tidak pernah bersikap baik padanya. "Egi!"

Suaranya hanya beradu dengan detak jam dinding. Juan jadi kesal, dia mendekati kamar sang Adik yang pintunya kebetulan terbuka.

"Mas kan udah bilang kalau Mas pulang kamu harus bukain pin—"

Remaja laki-laki itu tercekat. Kerongkongan tiba-tiba terasa sakit. Tubuhnya bergetar hebat. Rasanya sangat tiba-tiba. Segala kemungkinan terburuk bermunculan di kepalanya.

Malam itu dia menemukan adiknya tidak sadarkan diri di dekat meja belajar dengan darah mengalir dari hidungnya. Di dekat tangannya, ada kue ulang tahun kecil dengan lilin 15 yang tidak lagi utuh karena terjatuh.

Juan ingin membenci dirinya sendiri setiap mengingat itu. Dia nyaris menghilangkan nyawa sang adik hanya karena keegoisan. Dan hari ini hal itu terulang lagi.

"Mas Juan?"

Juan menoleh cepat, hanya untuk menemukan Egi berdiri di ambang pintu. Gadis yang empat tahun lebih muda darinya itu menatapnya lesu dengan kedua tangan memeluk guling.

"Kok belum tidur?"

"Aku nggak bisa tidur."

Juan tersenyum kecut, merasa kehilangan banyak momen karena sang Adik sudah tumbuh jauh lebih baik. Padahal Juan selalu ada di sisinya, tetapi Juan malah tidak sadar banyak yang berubah dari adiknya.

Felicity | ON HOLDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang