26

1.8K 124 0
                                    

"A-aku"

"Siapa yang mengizinkanmu turun dari tempat tidur?" tanya Bryan beranjak dari tempat tidur dan mendekat ke arah Sheilla.

Dengan susah payah Sheilla menelan salivanya, jujur ia sangat takut dengan aura yang Bryan keluarkan.

"A-aku mau ke kamar mandi" cicit Sheilla dengan suara yang lirih

"Kenapa tidak memberi tau saya?" tanya Bryan langsung menggendong tubuh Sheilla menuju ke kamar mandi.

Bryan meletakkan Sheilla di atas kloset duduk lalu keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya.

Sheilla terdiam, dirinya merasa ini terlalu berlebihan. Namun melawan atau menjelaskan sesuatu pada Bryan di situasi yang seperti ini itu tidak memungkinkan.

"Bryan" panggil Sheilla mengeraskan suaranya.

Bryan masuk ke kamar mandi dan segera menggendong Sheilla ke tempat tidur. Lalu menyelimuti tubuh Sheilla.

"Jangan terlalu lelah, kamu harus bedrest sampai kondisimu pulih. Jangan coba-coba untuk bertindak seperti tadi" kata Bryan menatap lekat mata Sheilla yang belum terpejam

"Kau tau apa arti bedrest? Saya sudah siapkan kursi roda untukmu" lanjut Bryan lalu ikut berbaring di sebelah Sheilla.

"Gue ngga mau ngulang yang dulu lagi" panik Sheilla.

~~~~

Matahari muncul memancarkan sinarnya, menerobos melalui kaca jendela yang terbuka kordennya.

Sheilla terbangun saat ada benda kenyal yang menyentuh pipinya.

"Bryan?" panggil Sheilla melepaskan ciuman itu.

"Aku Varo" jawab Varo merengek lalu memeluk erat tubuh Sheilla

"Sorry, aku ngga tau" kata Sheilla  membalas pelukan itu.

"Kata Bryan kamu harus bedrest ya? Sekarang kamu kondisinya gimana?" tanya Varo tanpa melepas pelukan itu

"Ngga papa, lebih baik dari kemarin. Maaf ya aku udah rusak momen nonton malam itu" jawab Sheilla menyembunyikan wajahnya di leher Varo.

"Aku panik banget by.... Aku takut kamu pergi" ucap Varo menyudahi pelukan itu dan menatap lekat wajah Sheilla.

"Maaf" hanya satu kata yang terucap di bibir Sheilla.

Varo beranjak dari tempat tidur membawa kursi roda mendekat ke arah Sheilla, dan memindahkan tubuh Sheilla ke kursi roda.

"Eh?" bingung Sheilla

"Aku kan bisa jalan sendiri" ucap Sheilla hendak berdiri.

"Sayang, Bryan ngga bolehin. Tadinya Bryan bilang kamu cuma boleh tiduran di tempat tidur. Tapi karna aku kasian sama kamu, jadi tadi aku sempat debat sama dia" jelas Varo.

Sheilla terdiam menunggu Varo menyelesaikan kalimatnya.

"Jadi dia izinin tapi kamu harus di situ, ngga boleh cape-cape" lanjut Varo.

Sheilla tersenyum, berusaha mengerti apa yang Varo dan Bryan katakan. Lagi pula karna koma kemarin tubuhnya memang masih terasa lemas dan mudah lelah.

Varo mendorong kursi roda Sheilla menuju ruang makan. Sheilla mengernyitkan dahinya ketika melihat kondisi rumah yang sudah rapih dan banyak makanan tersaji di meja makan.

"Ini siapa yang nyiapin?" tanya Sheilla

"Bi Inah, semalem Papah Rasya ngirim Bi Inah untuk bantu urus rumah disini. Kata mereka kamu jangan terlalu cape" jawab Varo duduk di sebelah Sheilla.

"Mau aku suapin?" tanya Varo saat hendak menyuapkan makanan ke mulutnya.

"Ngga usah, aku bisa sendiri" tolak Sheilla lembut.

Mereka makan dengan tenang, kedua pasutri itu terkadang saling mencuri pandang saat menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

"Varo, besok kita sekolah ya?" pinta Sheilla usai menyelesaikan makannya.

"Sekolah?" tanya Varo memastikan

"Jangan beri izin, perintahkan kepadanya untuk banyak istriahat!" seru Bryan di dalam sana

"Tapi kamu kan-" ucap Varo terpotong

"Aku udah baik-baik aja, kata dokter juga aku bedrest sampai kondisi aku pulih kan? Ini aku udah baik-baik aja" jelas Sheilla sebelum Varo melarangnya.

Varo terdiam, dalam hatinya memaki Bryan yang terus menerus protes di dalam sana

"Boleh, asalkan kamu harus nurut sama aku" putus Varo

"Bodoh! Kalau dia terluka lagi bagaimana?"

"Bodoh" maki Bryan

Sheilla bersorak senang, tanpa sadar memeluk tubuh Varo dengan erat.

Varo tersenyum tipis, ia akan menjaga Sheilla sesuai janji yang telah ia buat pada dirinya sendiri.

"Aku pengin ke ruang fangirl" kata Sheilla sedikit merengek.

"Ayo" ucap Varo hendak mendorong kursi roda Sheilla, namun tangannya tertahan oleh Sheilla.

"Ngga mau pake kursi roda" pinta Sheilla

Varo tersenyum lalu segera mengangkat Sheilla ala birdal style dan membawanya ke ruang fangirl.

Sesampainya di ruangan tersebut.  Varo merasa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan dengan posisinya saat ini.

Varo duduk di sofa tanpa melepaskan gendonganya. Jadi kini posisi Sheilla seperti tiduran di pangkuan suaminya.

Varo menahan tubuh Sheilla yang hendak berpindah, lalu menarik lembut tengkuk leher Sheilla agar lebih mendekat ke wajahnya.

Perlahan benda kenyal di wajah mereka saling bertaut. Untuk pertama kalinya mereka berdua merasakan dan melakukan hal seperti itu di hidup mereka.

Sheilla yang masih polos tidak tau bagaimana untuk membalas hal itu, namun permainan Varo membuatnya terbuai secara perlahan.

Merasa kehabisan pasokan oksigen, Sheilla melepas secara paksa dan memukul pelan dada bindang Varo.

"Huh" ucap Sheilla menyadari apa yang telah terjadi sebelumnya.

Pipinya merona, namun Sheilla langsung menetralkan degup jantungnya yang tidak karuan.

"Ee kamu mau nonton apa?" tanya Varo berusaha menghikangkan kecanggungan diantara mereka berdua.

"Dvd memories 2020" ucap Sheilla menunjuk salah satu kotak berwarna hijau.

Varo langsung mengambilnya dan memutar salah satu dvd di dalamnya.

Setelah itu Varo duduk di samping Sheilla dan menonton bersama.

Mereka berdua fokus menonton dvd itu, dan sesekali tertawa karena kelucuan yang ada. Bahkan berulang kali Sheilla memekik kagum dengan ketampanan dan perjuangan mereka.

"Kalau pusing bilang ya" ucap Varo teringat terakhir menonton film Sheilla pingsan bahkan sampai koma selama 2 hari di rumah sakit.

"Iya" jawab Sheilla

Hai Readers!

Apa kabar?

Terimakasih udah baca cerita ini

Jangan lupa vote dan komen!

Terimakasih

TRANSMIGRASI!  OVER PROTECTIVE?! (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang