9. Seiji-Seiya-Seichi

188 17 1
                                    

10 Menit kemudian, makanan datang bersama dengan Seichi dan Hoshi yang secara kebetulan bertemu saat hendak kembali ke meja makan mereka,

"Wahhh, oishi~" ucap Seichi menyambut makanan yang sudah ada di atas meja,

"Hmp?

Nii-san ada apa?" ucap Hoshi melihat raut wajah Kage yang sedikit aneh saat menatap Seiya, sedang Seiya hanya tersenyum melihat tingkah sang adik kembar,

"Ah, iie" ucap Kage lalu mulai mencoba makanan dan minuman yang di pesannya.

"Seichi, makan perlahan, hmp.

jangan sampai nanti kau tersedak" ucap Seiya lagi,

"Emp, wakata nii-san" ucap Seichi, dengan senyum mencicipi semua makanannya dan tetunya tidak akan habis,

dan alhasil Seiya tanpa basa basi membantu menghabiskannya, Kage dan Hoshi yang tak begitu menyukai makanan yang terlalu manis hanya bisa berkata,

"Tidak usah di habiskan juga tidak apa apa-" ucap Kage, khawatir.

"tidakkah itu sangat tidak sopan bagi kokinya?" ucap Seiya sedikit ketus, lalu Kagepun langsung menahan tangan Seiya yang mencoba terus memakan sedang tangan satunya terangkat,

dengan begitu pelayan akan datang menghampiri meja mereka,

"Kage-san?" ucap Seichi terkejut,

"Iya, ada yang bisa saya bantu, okuyaku-san(pelanggan)?" ucap pelayan berhenti di meja kami,


"Tolong bungkus sisa makanan ini, dan saya minta obat sakit perut juga" ucap Kage.

"Wa-wakarimashita" ucap Pelayan itu melihat tangan Seiya yang di tahan, tampaknya kalau tidak di turuti akan terjadi keributan antara Kage dan Seiya,

"Tolong lepaskan tangan Seiya-nii, Kage-san" ucap Seichi khawatir, dan tanpa babibu lagi perlahan kage melepaskannya.

setelah itu merekapun mereka pulang dan tentu di antar Kage dan Hoshi,

tetapi kini Hoshi duduk di belakang bersama Seichi sedang Kage yang menyetir duduk bersama Seiya, mereka duduk dalam diam berbeda dengan adik mereka,


.
.
.

Di tempat lain dimana Seiji akhirnya sampai di london ibu kota Inggris, dia pergi ke sebuah Hotel mewah dan akan tinggal di sana selama perawatan wajahnya di lakukan,

"Akhirnya sampai~" ucap Seiji, lalu meletakkan tasnya sembarang dan berbaring di atas sofa panjang akibat kelelahan,


pukul 12 siang, jamnya cleaning service datang untuk membersihkan kamar hotel,


"Permisi, saya mau melakukan cleaning service" ucap seorang pemuda berambut merah dengan gradasi hitam tampak memiliki wajah kecil dan manis, dengan alir bercabangnya mengetuk,


Namun tak ada yang membukakan, lalu dia membuka pintu kamar dan tak terkunci, berarti si pemilik kamar mengijinkan kalau kamarnya di bersihkan,

Lalu pemuda itu langsung mulai bekerja sampai tak terasa 30 menit kemudian berlalu, dan suara vacum cleaner mulai memisingkan telinga,

NGIIIIIINGGGGGGGGGGGG

"???" Seiji terbangun, dan dalam posisi duduk dia memperhatikan pemuda berbaju cleaning tengah membersihkan ruangannya,

15 menit kemudian,

"Huft, akhirnya sele-" ucap pemuda itu,

"Kau sudah selesai, hmp?" ucap Seiji dengan wajah yang terdapat bekas jaitan dari pelipis sampai dekat bibir membuat siapapun berfikir kalau Seiji adalah seorang Mafia.

"Sa-saya adalah petugas cleaning ser-vice" ucap pemuda itu,

"Namamu?" ucap Seiji,

"Ka-kagami Tora desu, 16 tahun" ucap pemuda itu dengan suara gemetar,

"Hmp,

aku, Akashi Seiji yoroshiku, Tora-kun" ucap Seiji.

"Yo-yoroshiku onegaita shimasu" ucap Tora membungkuk 90 derajat,

"Kau bilang kau cleaning service di hotel ini?

apa hotel ini mempekerjakan pegawai di bawah umur?" ucap Seiji tanpa tersenyum sedikit pun, begitu menakutkan.

"I-iie, saya hanya pegawai paruh waktu.

saya hanya bekerja di waktu weekend saja,

To-tolong jangan komplain akibat saya,

kalau saya harus berhenti dari pekerjaan ini-" ucap Tora membungkuk 90 derajat, suaranya gemetaran takut kalau pelanggan dengan kamar royal ini yang tentu bukan orang biasa akan menyebabkan dia kehilangan pekerjaannya,

"Kau, sampai jam berapa?" ucap Seiji lagi,

"???" Tora mulai menganggkat kepalanya,

"sampai jam berapa kau bekerja?" ucap Seiji mulai bangun dari posisi duduknya,

"ja-jam 3 sore, Akashi-sama" ucap Tora ketakutan,

"cukup panggil aku Seiji saja, dan setelah jam kerjamu selesai kembali lah ke ruangan ini,

mengerti?" ucap Seiji mendekat, membuat Tora ketakutan.


"Wa-wakarimashita, Seiji-san" ucap Tora.

'Anak ini lebih muda dari Seiya dan Seichi,

bahkan tubuhnya lebih kecil dari Seichi' ucap Seiji,

"Ka-kalau begitu permisi, Seiji-san" ucap Tora segera membereskan peralatannya dan pergi,


Begitu Tora pergi Seiji langsung membongkar isi tasnya, menyusun semua bajunya dan peralatan lainnya,

lalu dia menghubungi salah satu deler yang merupakan koleganya, dan hendak membeli salah satu mobil sport di sana dan di antarkan ke hotel dimana dia tinggal sementara ini,


PIPPP PIPPP PIPPPP

"Moshi moshi, bagaimana apa kau sudah sampai di hotel, hmp?" ucap Akashi Seijuuro,


"Ya, tou-san.

besok pagi aku akan pergi ke rumah sakit" ucap Seiji lagi,


"baguslah, kurasa membutuhkan lebih dari 1 operasi untuk menghilangkan sepenuhnya luka  se panjang itu" ucap Akashi,

"ya, kurasa butuh waktu 6 bulanan sampai wajahku kembali seperti dahulu" ucap Seiji lagi, dan di sisi video call itu, dia melihat Kuroko yang tertidur dengan di sisi kiri dan kanannya para adik adiknya,

"Ku rasa di sana sudah sangat malam, aku tutup telponnya, tou-san.

salam untuk ayah dan oto-oto tachi" ucap Seiji,

"Ya, kau juga segeralah kembali" ucap Akashi.

PIPP PIPPP PIPPPP

.


.

.
Setelah itu Seiji membuka bajunya dan hendak mandi sampai pada,

Tok tok tok

"Bukan kah dia bilang akan datang saat pukul 3, ini bahkan belum jam 2 siang?" ucap Seiji dengans setengah telanjang hanya menggunakan celananya dia membuka pintu,

namun saat di buka, adalah slah satu pegawai resepsionis yang dia temui di lobi hotel yang datang membawa room service,

"Apa ini?" ucap Seiji,

"Ini adalah room service, Seiji-sama" ucap wanita itu memasuki kamar dan mendorong troly berisi steak daging dan wine merah,

"Aku tak memesannya" ucap Seiji menatap wanita itu curiga,

"itu karena ini adalah room service spesial" ucap wanita itu berjalan mendekati Seiji sembari membuka bajunya,

"huft, jaman sekarang masih saja ada pelacur di tempat seperti ini" ucap Seiji berjalan ke arah telpon ruangan,

"Seiji-sama?"

PIPP PIPP PIPP


"Hai, Akashi-sama ada yang bisa saya bantu.

di kamarku saat ini ada pegawai kalian yang mencoba melakukan pelecehan seksual padaku,

sekarang juga saya bisa menuntut hotel ini atas kejahatan yang di lakukan pegawai kalian ini, hmp!?" ucap Seiji menatap tajam wanita itu dengan mata heterokromnya penuh kebencian,


BBUUKKKK

"A-Akashi-sama, tolong maafkan saya, sa-saya berjanji tidak akan melakukannya lagi" ucap wanita itu segera merapihkan pakaiannya dan berlutut di lantai,


"satu kesalahanmu, wanita murahan.

berani beraninya kau berharap aku menyukai wanita jalang sepertimu, hmp?" ucap Akashi, lalu beberapa menit kemudian scurity datang dan segera membawa wanita itu meski dia meronta ronta minta maaf pada Seiji, semenjak hari itu dia tak pernah melihat wanita itu lagi.


Setelah itu dia melanjutkan kegiatannya, hendak membasuh diri di dalam bathub, cukup lama dia menghabiskan waktu di sana sembari menikmati red wine yang di berikan wanita murahan tadi,

pukul 3 tepat, terdengar suara pintu dibuka dan tahulah siapa pelakunya,

"Kau sudah datang, hmp?" ucap Seiji,

"Ha-hai, Seiji-san" ucap tora sudah menggunakan pakaian kasualnya,

"duduklah dan makan steak itu, kau belum makan bukan?" ucap Seiji kembali duduk di kursi panjang,


"Ha-hai" ucap Tora membawa piring berisi steak di troly itu lalu di bawanya ke atas meja lalu dia duduk di lantai beralaskan karpet berbulu yang mahal tentunya, begitu lembut dan empuk,

"Adik kembarku berusia lebih tua setahun dari mu" ucap Seiji mengusap kepala Tora.

"adik seijii-san?" ucap Tora sembari menyantap daging itu, karena begitu lezatnya dia melupakan ketakutannya pada wajah Seiji,

"Iya, aku memiliki adik kembar di jepang,

namanya Seiya dan Seichi, mereka sangat manis seperti boneka" ucap Seiji membanggakan sang adik,


"Seiji-san sangat menyayangi mereka" ucap tora tersenyum lebar sembari menyantap steak daging terakhir.


"Hmp" ucap Seiji, tersenyum kecil.


"???" tiba tiba Tora terduduk sembari menjepit kakinya dengan telinga yang sudah semerah rambutnya,


"Se-seiji-san bi-sakah saya me-minjam toilet-nya?" ucap Tora seperti berbisik,


"tentu saja" ucap Seiji, namun belum lewat beberapa detik Tora mendapatkan persetujuan dan hendak bangun,


BRUKKKK


Lututnya menghantam lantai kasar, kakinya tak memiliki tenaga lagi, tubuhnya terasa panas dan selangkangan bagian bawahnya tak mau berhenti bereaksi, rasa malunya menyelimuti dan air mata mulai keluar,

"To-tolong jangan mendekat, Se-seiji-san" ucap Tora dengan suaranya yang gemetar karena air mata, dan malu.

"Apa yang-?" tanpa menghiraukan apa yang Tora Katakan, Seiji mendekat dan mendapati kondisi Tora.


"Aprodiak?

wanita jalang itu benar benar ingin mencoba  cari mati, hmp?" ucap Seiji lalu berlutut di hadapan Tora, Sedang Tora menutup wajahnya karena malu.


"Aku tahu kamu malu tapi dengan kondisi seperti ini, sudah tidak mungkin kamu berjalan ke kamar mandi sendiri, hmp" ucap Seiji mengangkat tubuh Tora kecil itu yang masih mencoba untuk membebaskan diri meski tak memiliki tenaga lagi,

"De-mo~"

Tetapi Seiji tetap membawa tubuh Tora ke dalam ke kamar mandi dan mereka berdua masuk kedalam bathub dengan air dingin agar tubuh Tora sedikir rileks,

"Gimana apa kau sedikit tenang sekarang, hmp?" ucap Seiji,

"Ha-i~" ucap Tora namun tubuhnya masih belum reda, akibat aprodiak di dalam steak yang dia makan itu,

"Tora maaf ya, bukannya aku bermaksud sejak awal, tetapi ini ada alasannya, hmp" ucap Seiji, mulai membuka pakaiannya dan membantu Tora membuka pakaian si pemuda kecil itu,


"Iie~" ucap Tora seperti berbisik, karena ini terlalu memalukan untuk Tora yang baru menginjak masa remajanya,


"Yang kau makan tadi adalah obat aprodiak yang seseorang berikan untuk meracuniku, aku tak tahu kalau itu ada di makanan yang ku berikan padamu, Tora-kun.

karena itu biar aku yang bertanggung jawab, hmp" ucap Seiji akhirnya meyakinkan si pemuda,


". . ." dan ini untuk pertama kali Tora tak melakukan perlawanan apapun,


Di dalam bathub itu Seiji memangku Tora, dengan air dingin yang membasahi kulit mereka,

sedang pakaian sudah tak ada sehelaipun di tubuh mereka,

Seiji mulai menjarah tubuh Tora, satu tangan merangsang tubuh bagian atas Tora, satu tangan Seiji merangsang bagian bawah Tora,

suara air di bathub, desahan Tora dan napas berat Seiji berbisik di telinga Tora,

TBC




Sugar DADDY Household FATHERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang