Akhirnya, setelah menunggu selama seminggu, akhirnya Leya kembali menghirup udara segar area perumahannya.
Begitu sesaknya ia berada di rumah sakit selama seminggu penuh, dan akhirnya ia menginjakkan kakinya tepat di ruang tamu rumahnya.
Suhaa, Zaki juga dengan keluarga Leya juga berada disampingnya, "Lu kuat nggak? Gue gendong aja sampe kamar?"
Suhaa menepuk bahu Leya sambil berkalimat. Ia merasa khawatir, bisa saja Leya masih lemah dan akan lebih efektif jika ia menggendongnya sampai ke kamar.
"Eh, nggak usah lah. Kita duduk aja di kursi bareng-bareng, baru juga sampe kok. Yuk, duduk," ujar Leya dengan ceria.
Ia lantas menarik tangan Suhaa dan mengajak Zaki juga untuk duduk di sana dan menikmati beberapa makanan ringan bersama.
Setelah mereka bertiga duduk di sana, Agraham lebih memilih memindahkan tas putrinya ke kamar sementara Darna ke dapur untuk membuat camilan.
"Gimana sekolah hari ini? Dela udah dateng nggak?" Baru saja mereka duduk bertiga di sofa, Leya sudah mulai menanyakan hal yang tidak perlu.
"Masih sama, dia masih belum dateng," ujar Zaki dengan datar. Sepertinya ia yang harus menjawab semua pertanyaan mengenai Dela sekarang.
Suhaa tidak akan bisa. Lelaki itu terlalu gugup untuk membicarakan masalah Dela kepada gadis lucu di tengah-tengah mereka.
Dari pagi hingga mereka pulang dari sekolah, Bu Lastri dan Dela tak menampakkan dirinya sedikitpun, bahkan kepala sekolah juga telah angkat tangan mengenai masalah ini.
"Udah, jangan bahas dia dulu sekarang. Nggak bagus memulai percakapan dengan topik yang menjengkelkan," lanjut Zaki.
Helaan napas keluar dari mulut Zaki, "Lu istirahat aja Ley. Hari juga udah mulai sore nih."
Mendengar itu membuat Leya merasa bimbang. Apa ia harus? Apa ia harus berhenti menanyakan kabar Dela dan beristirahat saja?
Ada sesuatu. Pasti ada sesuatu yang berusaha disembunyikan oleh Suhaa dan Zaki darinya, dan pastinya ini mengenai Dela.
Sepertinya ia harus menghubungi Dela nanti, ia ingin mendengarnya langsung dari mulut Dela. Ia hanya ingin berbicara, hanya itu.
"Em, kalau gitu kita ganti topik. Suhaa udah nggak kerja?" Kali ini pertanyaannya harus dijawab oleh Suhaa sendiri.
Mendengar itu, Suhaa hanya bisa menghela napas, "Gue masih kerja kok. Tapi lagi libur, sejak lu masuk rumah sakit gue liburnya."
"Eh, seminggu? Bos Suhaa nggak marah?" Leya agak terkejut, biasanya lelaki itu dipadati dengan pekerjaannya yang sering membuatnya sibuk.
"Nggak apa-apa. Lagian manajer gue tau kalau gue libur karna alasan apa, jadi nggak perlu khawatir," balas Suhaa.
"Lagian Zaki juga udah ngambil jam kerja gue sementara. Zaki juga nggak protes tuh," lanjut Suhaa sambil menepuk bahu Zaki.
"Eh, Zaki kerja bareng Suhaa? Wih, kapan?"
"Dua mingguan yang lalu. Nggak usah khawatir amat, Zaki jago ngeracik kopi kok," ujarnya kembali mengejek Zaki.
Saat Zaki hendak protes, ia mengurungkan niat ketika Darna telah datang membawa beberapa camilan lezat serta jus untuk mereka semua.
"Udah-udah, makan yuk.. kalian udah capek-capek bantuan Leya pulang, makasih, ya." Darna meletakkan nampan itu ke meja sambil tersenyum.
***
***
"Ah~ capek..,"Saat ini Suhaa tengah membaringkan tubuhnya ke sofa panjang di dalam apartemennya yang baru.
Ia begitu lelah menghabiskan waktunya bersama Leya, sampai ia lupa jika ia terlalu lama di sana hingga membuat ibu kekasihnya kembali repot karenanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Menggapai Suhaa (END)
RomanceWARNING! (Peringatan!) Please everyone who sees this, please stop and never plagiarize/copy other people's work!!! I beg you so much! whoever it is! (Siapapun yang melihat ini, tolong berhenti dan jangan pernah menjiplak/menyalin karya orang lain...