Pagi yang cerah di sekolah mereka, pagi yang dinanti-nanti oleh Leya setelah seminggu lamanya. Hari yang penuh warna untuk Leya telah datang.
Zaki, Suhaa dan Leya datang sangat pagi karena Leya yang memintanya. Mereka juga sendirian di kelas itu, dan tak melakukan apapun.
Mereka hanya berbincang sesekali dan sibuk dengan telepon genggam mereka masing-masing.
"Suhaa udah mulai kerja 'kan nanti?" Leya menatap Suhaa yang tengah sibuk dengan ponselnya sedari tadi.
Mendengar itu Suhaa mengangguk singkat. Ia lalu meletakkan ponselnya kembali ke saku dan menatap Leya, "Iya, mau ikut nggak ke cafe?"
"Eh, boleh?" Selama ini, Leya sering dilarang ke cafe oleh Suhaa tanpa alasan yang jelas. Maka dari itu Leya cukup terkejut ketika Suhaa mengajaknya ke cafe.
"Iya, selesai lu santai-santai di situ bentar, gue anterin pulang. Cuma ngopi atau nyemil doang, baru gue anter," balasnya cepat.
"Boleh deh, sekalian pengen baca komik-komik disana. Tapi Leya pulangnya sendiri aja," jawab Leya.
"Nggak, gue anter." Balasan singkat Suhaa langsung membuat Leya kalah, sepertinya lelaki itu tak mau dibantah lagi.
Ketika asyik mengobrol, betapa terkejutnya Leya ketika melihat Dela datang dari arah pintu menuju mereka bertiga.
Suhaa dan Zaki ikut menoleh ke arah pintu ketika melihat ekspresi Leya yang tampak tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Dela masuk dengan tergesa-gesa dan segera meletakkan tasnya di bangku. Setelah itu ia hendak menarik tangan Leya agar ia bisa berbicara dengan gadis itu.
Tangan Dela sudah menyentuh pergelangan tangan kiri Leya, tetapi ketika ia hendak pergi sambil menyeret Leya, ia dihentikan oleh Suhaa.
Suhaa melepaskan tangan Dela dari pergelangan tangan Leya dan secara cepat berdiri di depan kekasihnya, "Lu mau apa?"
Suhaa masih tetap berdiri didepan Leya sebagai tameng dan mencegah Dela mengajak Leya pergi dari sana. Karena ia sangat tahu, apa tujuan Dela.
"Gue mau bicara sama Leya," balasnya sambil menatap Suhaa tak gentar.
"Nggak bisa. Kalau lu mau ngomong sama Leya, ngomong disini aja." Ia ikut menatap Dela tak gentar, ia tak bisa membiarkan Dela membawa Leya pergi.
"Tapi gue mau ngomong berdua aja bareng Leya." Dela tetap bersikeras, ia harus berbicara dengan Leya sekarang.
"Tapi gue nggak mau lu ngomong berdua bareng Leya." Lagi dan lagi, Suhaa menolak dengan tegas.
Dela beralih melirik Leya yang juga sedang menatapnya dengan tatapan cemas. Gadis itu pasti merasa khawatir jika mereka bertengkar.
"Ley, bisa ikut gue nggak? Bentar aja," ujarnya kepada Leya yang sedikit terlihat dari balik punggung Suhaa.
Suhaa kembali menghalangi, ia menggenggam kedua tangan Leya dari belakang seolah-olah memberitahu Leya untuk tidak menurutinya.
"Em, pas istirahat aja 'ya kita ngomongnya..."
***
***
Tepat saat bel berbunyi, dengan segera Dela menghampiri Leya dan menyeret gadis itu.Tetapi di detik Dela dan Leya melangkah, Suhaa kembali menghalangi. Dengan cepat lelaki itu menyingkirkan tangan Dela dari Leya.
"Lu nggak usah kasar-kasar Del, gue nggak suka. Gue udah bilang kalau Leya nggak gue izinin bicara sama lu," ujarnya sambil berdiri di sebelah Leya.
Lelaki itu setia memegang kedua tangan Leya. Kecemasannya terhadap Dela membuat Suhaa terus waspada kepada gadis itu.
"Tapi gue mau bicara sama Leya, bentar doang kok! Kok lu ngelarang-larang?" Dela mulai terpancing emosi karena Suhaa yang membuatnya kesal.
"Lagian gue bukannya mau ngomong sama lu, tapi sama Leya. Leya juga nggak ada masalah tuh ngomong sama gue, iya 'kan Ley?" Dela lanjut berucap sambil menatap Leya.
"S-Suhaa, biarin Dela ngomong sama Leya dulu.. nanti Leya balik lagi kok," ucap Leya sambil menarik ujung seragam Suhaa.
"Nggak usah ngomong sama dia Ley-!!!" Kalimat Suhaa terhenti karena seorang guru mendekat ke arah mereka berempat.
"Dela, kamu dipanggil ke ruang kepala sekolah sekarang," ucap guru itu sambil menatap Dela.
Dela yang mulanya kesal menjadi semakin kesal, kenapa ia harus berhadapan dengan kepala sekolah sekarang?
Mau tak mau Dela harus menunda pembicaraannya sejenak. Dengan terpaksa ia pergi dan mengikuti guru itu dari belakang.
Ditinggal bertiga di kelas itu, Suhaa menghembuskan napas lega. Ia merasa lega ketika Leya tak jadi berbicara dengan Dela.
"Emang kenapa Leya nggak boleh ngomong sama Dela?" Leya hanya terlihat bingung, rasa penasarannya juga semakin bertambah.
"Karna gue tau dia mau ngomong apa, jadi gue minta lu nggak usah dengerin apa kata dia," balas Suhaa dengan nada pasrah.
"Kalau Suhaa tau Dela mau ngomong apa, kenapa bukan Suhaa aja yang ngasih tau Leya? Sebelum Dela yang ngasih tau Leya, lebih bagus 'kan kalau Suhaa aja yang ngasih tau?"
"Oke-oke, gue kasih tau!" Seru Suhaa pasrah.
***
***
"Suhaa nggak bohong, kan?"Leya benar-benar tak percaya dengan apa yang terjadi. Hal yang baru saja Leya dengar benar-benar mengejutkannya, apakah semua itu adalah kebenarannya?
"Gue juga pengen itu semua bo'ongan Ley, tapi sayangnya itu semua beneran." Suhaa tau ini sulit dipercaya, ia juga seperti itu saat ia mengetahuinya.
Leya sungguh tak percaya. Tidak mungkin Dela yang ia kenal melakukan hal semacam itu..
Mulai dari menghasut Zaki, merenggangkan hubungannya dengan Suhaa lewat Bu Lastri, membuat akun fake dan gosip buruk mengenai Leya dan melakukan hal gila lainnya.
Melihat Leya yang masih sangat terkejut membuat Suhaa merasa cemas. Ia lantas duduk disamping gadis itu sambil merangkulnya.
"Jangan dipikirin Ley, biarin aja semuanya berjalan," Suhaa berusaha menghibur Leya sambil menepuk bahu kekasihnya.
"Misalnya kalau Dela masih tetap mau ngomong sama lu, lu bisa 'kan pura-pura nggak tau aja? Kita ikutin semua drama dia, sampai dia malu sendiri," lanjutnya.
"Iya Ley, nggak usah terlalu dipikirin. Yang penting lu udah tau sekarang," Zaki ikut menghibur Leya.
"Seandainya Dela ngomong soal gue yang nggak-nggak, atau ngomong yang nggak-nggak soal Suhaa, lu ikutin aja, iyain aja kata dia,"
"Dia pengen ngadu domba lu, dia pengen Suhaa suka sama dia. Dia juga pernah nelpon Suhaa dan bilang kalau lu selingkuh sama gue,"
"Padahal nggak, kan. Pokoknya kita ikutin dulu apa maunya dia, kita ikutin sampai dia malu sendiri sama kelakuan dia," lanjut Zaki panjang lebar.
Benar, mereka semua hanya perlu mengikuti semua drama Dela dan tinggal menunggu gadis itu sadar akan tingkahnya.
Suhaa menggenggam kedua tangan Leya, tampaknya gadis itu begitu terguncang dengan fakta yang baru saja ia sampaikan.
"Ley, kita bisa pergi sekarang?"
Suara yang sangat dikenali mereka terdengar di ambang pintu, Dela sedang berdiri di sana, menunggu Leya melangkahkan kakinya kearahnya.
Leya berdiri dari duduknya, ia menjadi merasa malas ketika ia harus menghadapi kalimat dusta dari mulut gadis itu.
Dengan langkah berat, Leya melangkah ke arah Dela dan segera pergi ketika Dela mulai berjalan di depannya.
Ditinggal berdua, Zaki dan Suhaa saling bertatapan. Apakah mereka harus mengikuti mereka berdua?
"Ikutin nggak?" Suhaa bertanya sambil melirik pintu kelas lalu beralih menatap Zaki.
"Gas!"
***
***
Maap, singkat..

KAMU SEDANG MEMBACA
Menggapai Suhaa (END)
RomanceWARNING! (Peringatan!) Please everyone who sees this, please stop and never plagiarize/copy other people's work!!! I beg you so much! whoever it is! (Siapapun yang melihat ini, tolong berhenti dan jangan pernah menjiplak/menyalin karya orang lain...