Sorry for typo ~
☆☆☆☆☆
Chanhee duduk diam di depan ruang rawat Younghoon. Menunggu Dokter yang memeriksa yang daritadi belum keluar juga.
Hyunjae tampak menatapnya curiga dan bertanya. Tapi Chanhee hanya diam.
"Lo, beneran gak ngelakuin apa-apa? Sampe Younghoon pingsan gitu?" Akhirnya Hyunjae meloloskan pertanyaan yang sejak tadi dia tahan.
Chanhee menggeleng pelan. "Gue cuma lagi ngadem di rooftop, terus dia datang." Bohongnya..tidak mungkin dia jujur dan mengatakan semuanya kepada Hyunjae.
Cklek
Pintu ruang dimana Younghoon dirawat terbuka dan Dokter keluar diikuti dengan beberapa perawat.
"Keluarga pasien?" Tanyanya ke arah Chanhee dan Hyunjae.
"Bukan, Dok. Saya rekan kerjanya. Gimana keadaan Younghoon, Dok?" Hyunjae menjawab.
Chanhee masih diam. Tidak tahu harus melakukan apa. Dia berpikir jika keberadaannya disana tidak seharusnya. Namun ada sesuatu yang menahan dirinya untuk tidak pergi.
Dia takut Younghoon kenapa-napa. Padahal, harusnya dia tidak peduli sama sekali.
"Sekarang kondisinya cukup stabil. Jika nanti keluarganya sudah datang, tolong minta temui saya karena ada yang harus saya bicarakan tentang kondisi pasien lebih lanjut."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak." Lalu Hyunjae menarik tangan Chanhee yang masih diam di tempat duduknya.
"Lo masuk duluan. Nanti gue nyusul. Gue mau urus administrasi Younghoon dulu."
Chanhee tetap diam saat melihat Younghoon yang masih terbaring lemah di ranjang rawatnya dari celah pintu yang terbuka. Dokter tadi kembali masuk disusul Chanhee di belakang.
Pemuda manis itu sedikit kaget melihat ada sebungkus obat di atas meja nakas di samping ranjang rawat Younghoon.
"Dok, dia beneran gak apa-apa kan?" Tanya Chanhee dengan nada khawatir yang begitu kentara.
"Sekarang dia sudah cukup stabil. Gak perlu terlalu khawatir. Tapi tolong jangan bikin pasien banyak pikiran, ya? Agar mentalnya tetap stabil dan gak down lagi."
"Hah? Mental? Kak Younghoon sebenarnya kenapa,Dok? Tolong kasih tau saya. Saya mohon, Dok. Saya pacarnya." Chanhee terpaksa berbohong dan mengaku sebagai pacar Younghoon demi tahu kondisi Pemuda Kim itu.
Dokter itu masih tampak keberatan memberitahu Chanhee.
"Itu obat anti depresan kan, Dok? Sebenarnya kak Younghoon kenapa? Kenapa Dokter diam? Hiks." Chanhee jatuh bersimpuh di atas dua lututnya di depan Sang Dokter dengan air mata mengalir di pipi.
Chanhee tahu itu obat anti depresan karena dulu dia pernah mengkonsumsi itu untuk beberapa waktu.
"Tolong kasih tau saya, Dokter. Saya sayang sama dia. Saya harus tahu kondisi dia." Pinta Chanhee dengan nada yang gemetar.
"Dari riwayat penyakitnya, dia pernah mengalami depresi yang cukup berat dan pernah dirawat di rumah sakit jiwa sebelumnya. Pasien sudah lebih baik namun perlu mengkonsumsi anti depresan sesuai dosis dan di bawah pengawasan."
Chanhee meremat jemarinya. Kenapa dia tidak tahu tentang ini dan kenapa Younghoon menyembunyikan hal ini darinya?
Apa ini alasan Younghoon meninggalkannya? Kenyataan pilu yang harus diketahui Chanhee, Younghoonnya menderita selama ini dan dia tidak ada disana.
Selama empat tahun dia sibuk membenci pemuda Kim itu karena ditinggalkan tanpa alasan.
Dokter keluar dari ruangan itu setelah mengecek cairan infus Younghoon, meninggalkan Chanhee yang masih terisak dalam diam.
Beberapa saat kemudian, Hyunjae memasuki ruangan itu. Menatap bingung Chanhee yang kini diam di sofa dengan mata sembab. Sedangkan Younghoon duduk dengan bersandar pada ranjang rumah sakit yang agak dinaikkan, Chanhee yang membantu tadi.
Hyunjae berjalan ke arah ranjang Younghoon.
"Gimana keadaan lo? Apa yang lo rasain?" Tanya Hyunjae lalu duduk di kursi samping ranjang pemuda Kim itu. Btw, Hyunjae merupakan teman Younghoon. Mereka sudah kenal lama. Sejak kecil. Namun sempat beberapa kali berpisah karena Younghoon ikut Mama nya.
Sejak Younghoon sadar, dia belum berbicara dengan Chanhee. Pemuda manis itu hanya diam memperhatikannya dengan hidung merah dan mata sembab. Lalu pindah ke sofa saat pintu ruangan tadi dibuka Hyunjae.
Younghoon melirik Chanhee yang masih menunduk diam di sofa. Mengabaikan pertanyaan Hyunjae.
"Lo belum jawab pertanyaan gue, Hoon. Tadi kenapa lo pingsan? Apa yang dia lakuin sama lo? Gue nanya dia, dia gak mau ngaku." Hyunjae menunjuk Chanhee.
"Gue gapapa. Cuma sakit kepala biasa. Mungkin dehidrasi." Jawab Younghoon, tapi matanya masih ke arah Chanhee.
"Kamu kenapa diam disitu? Ayo sini." Panggil Younghoon akhirnya. Membuat Hyunjae cukup kaget.
"Lho, kalian kenal?" Tanyanya penasaran.
"Dia adek tingkat gue waktu di SHS." Sahut Younghoon agar Hyunjae berhenti bertanya.
"Boleh gue minta tolong gak?" Tanya Younghoon kepada pemuda Lee itu.
"Apa?" Jawab Hyunjae.
"Bisa tolong keluar sebentar. Gue mau ngomong berdua sama Chanhee." Hyunjae yang penasaran urung bertanya, dia akhirnya keluar dari ruang rawat Younghoon.
"Sini. Jangan duduk disitu. Aku mau ngomong serius sama kamu." Younghoon meminta Chanhee untuk duduk di kursi di samping ranjangnya.
Chanhee menghela nafas panjang. Menyeka jejak air mata yang kembali turun di pipi nya saat Hyunjae sudah keluar dari ruangan itu. Lalu mengikuti kemauan Younghoon, duduk di kursi di samping ranjang rawat pemuda Kim itu.
"Kamu tau ini obat apa?" Younghoon mengambil sebutir obat yang ada di atas nakasnya dan menunjukkannya kepada Chanhee.
Chanhee mengangguk.
"Ini anti depresan." Ucap Chanhee. Younghoon cukup kaget saat mendengar pemuda manis itu.
"Ini yang buat aku tetap waras selama 4 tahun ini. Mama pernah masukin aku ke rumah sakit jiwa karena dia sudah gak sanggup ngerawat aku. Satu bulan sejak aku pergi ninggalin Korea dan kamu."
Lagi, air bening itu kembali turun di pipi Chanhee.
"Jangan nangis. Aku gak mau liat kamu nangis karena aku. Aku mau minta maaf dan ngasih tau kamu tentang ini. Maaf aku bikin kamu nunggu terlalu lama dan bikin hati kamu terluka lagi dan lagi."
Chanhee mendongak, menatap netra kembar milik pemuda tampan di depannya.
"Kakak kenapa bisa menderita kayak gitu? Siapa yang bikin kakak kayak gitu? Kenapa gak kasih tau aku? Hiks. Kenapa gak biarin aku buat rawat kakak." Tangisnya pecah dengan jemari yang memutih karena dia remat terus.
Younghoon berusaha menggapai bahu Chanhee lalu membawanya ke dalam pelukan.
"Maafin aku. Jangan nangis." Younghoon mengeratkan pelukannya pada tubuh gemetar Chanhee.
"Aku takut kakak pergi lagi. Aku takut kakak menderita sendirian lagi."
"Sekarang ada kamu. Mulai sekarang aku bisa terus sama kamu." Air bening ikut jatuh di pipi yang lebih tua.
"Maafin aku karena selama ini gak bisa lindungin kamu dari Mama. Dan selalu nyakitin kamu. Aku minta maaf, Chanhee. I love you." Younghoon mengecup lama dahi Chanhee.
"Aku.."
"Younghoon.." pelukan Chanhee mengendur. Suara yang tak diharapkan Younghoon mengiterupsi mereka.
"ngapain kamu disini?! Usir dia!"
Tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
INSANITY || BBANGNYU [Completed]
ФанфікиOut of no where, he's comeback into my life and ruined my day. Also, my heart. And then, gone (again). >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> ⚠️ YANG GAK SUKA, JAUH - JAUH PLEASE! MY BOOK MY RULES. 😌⚠️ <<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<...