Happiness | MewGulf
Jangan lupa Vote dan comment
...
“Pernahkah kau memiliki mimpi Mew? Seperti cita-cita yang amat ingin kau raih?”
“Seorang penyanyi.”
Penghujung Minggu, menjadi agenda ceria bagi seluruh penghuni Bangkok hospital Pattaya. Ada banyak acara kebugaran serta kebersihan yang terlaksana sejak pagi-pagi buta. Itu menjadi alasan Mew dan Gulf dapat kembali bertemu tanpa sengaja saat tengah menyaksikan senam kebugaran pasien anak-anak di tengah aula.
Mew menyukai anak-anak serta keramaian maka dari itu dirinya tak pernah absen untuk datang ke pelataran rumah sakit di setiap penghujung Minggu. Sedangkan Gulf mendapat kebebasan hari ini, ia bisa pergi kemanapun, maka dari itu ia tak tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Kau bisa bernyanyi?” Gulf bertanya sembari meregangkan otot punggungnya pada sandaran sebuah kursi panjang tak jauh dari bangsal anak-anak. Keduanya memutuskan untuk mencari minum dan tempat duduk, menjauhi keramaian—yeah untuk sekedar bertukar pikiran.
Mew mengangguk lekas. “Aku juga mahir bermain piano.”
“Lalu?”
“Lalu?” Mew memiringkan kepalanya. Membalik pertanyaan yang Gulf ajukan padanya.
Tsk! Gulf berdecak cukup keras. “Lalu, mengapa sampai saat ini kau belum meraihnya?”
Mew menggeleng.
“Ku pikir menjadi penyanyi mudah, kau hanya harus mengikuti audisi atau bergabung dengan perusahaan entertainment, tunggu ... suara mu tidak enak ya?” lanjut Gulf.
Menggeleng lagi, Mew berkata, “aku tak akan di terima dengan penampilan seperti ini.” Lihat saja, produser mana yang akan menerima calon artis dengan tubuh kurus, kulit pucat seperti kuntum Gardenia dan kepala tanpa mahkota?
“Kau sakit Mew? Parah?” Gulf pada akhirnya berani mengangkat topik ini. “Saat pertama kali bertemu ... aku tak melihat rambut di kepala—”
“Hanya penyakit biasa Gulf,” tukas Mew sebelum mengalihkan pembicaraan. “Lalu bagaimana dengan mu? aku tau kau ingin mengatakan sesuatu.”
Gulf menipiskan bibir sekilas kemudian berkata, “aku tak memiliki pandangan akan masa depan.” Hidupnya bagaikan terkontrol dan berjalan tanpa liku, bukankah itu mengerikan?
“Biar ku beri tahu, ada banyak hal tak terbayangkan di luar sana. Dunia itu luar biasa Gulf.”
“Luar biasa mengerikan, untuk anak-anak yang tumbuh sepertiku,” sahut Gulf. “Aku tak menikmati kehidupanku. Aku di lahirkan hanya untuk menjadi boneka yang seolah-olah harus terus di kendalikan.” Ia mengendik. Pernyataannya cukup rotaris, sehingga ia yakin Mew tak akan memahaminya.
“Buat dirimu berharga Gulf. Tanamkan pada hatimu bahwa kau berhak mendapatkan kebebasan namun tetap bisa di terima oleh mereka yang menjadikanmu boneka.”
Terpekur beberapa detik. Gulf tak pernah menghiraukan ucapan seseorang sampai seperti ini. Mew seolah memberikan seberkas cahaya pada jalan gelap hidupnya.
“Kau kuat Gulf. Mau ku nyanyikan sebuah lagu untukmu?”
Tiba-tiba sekali. Mew terkekeh lirih melihat respon Gulf.
“Alone in my room. Get a text saying you should coming through.” Pelan, karena awal selalu butuh persiapan. Satu bait Mew lantunkan sampai Gulf mendadak meredupkan pandangan.
“Do you just want me cause I'm something new? Paranoid cause I don't date like you”
“I'm nervous but I'm over all my exes. Don't know if ready for the next thing”
“Are you gonna love me leave me bleeding?”
Tes! Tes!
“M-Mew ...” Tangan kurus Gulf terulur begitu saja di ambang wajah Mew yang baru saja di lalui aliran darah dari sebelah lubang hidung bangir lelaki itu.
Namun Mew hanya menggeleng dan melanjutkan bait nyanyiannya, “I don't know what we are. Thinking way too hard ...”
“Darah.”
Mew sekilas mengusap aliran darah itu, tanpa keterkejutan sedikitpun. Seperti Mew telah terbiasa dengan apa yang terjadi. “Bukan apa-apa. Bagaimana dengan lagu tadi?”
Respon yang sanggup Gulf berikan hanyalah anggukan lemah. Butuh beberapa detik sampai ia bisa kembali berujar. “Itu luar biasa.”
Luar biasa sampai Gulf berharap bisa mendengarkan suara itu di sepanjang hidupnya.
“Ekem ... Jangan sampai kau ingin selalu ingin mendengar suara merdu ku.”
“Kau terlalu narsis Mew,” sahut Gulf dengan perasaan luar biasa sakit. Mew berkata seolah-olah waktu memang tak sebaik itu memberikan kesempatan.
“Maaf ya Gulf. Aku benar-benar tak bermaksud membuatmu merasa jijik. Darah ini selalu keluar sendiri.” Untung saja darah yang keluar saat ini tak sampai mengucur banyak. Beberapa usapan tangan saja sudah mampu menghapus jejak darah itu.
Suasana mengehening sejenak. Gulf terdiam beberapa detik sembari meremas kedua tangannya. “Mew bisakah aku bahagia, sedangkan jalan masa depanku saja seakan lepas dari genggaman ku?”
Sudah terlampau sesak di rasa. Ada kalanya otak tak mau di beri tekanan lagi, maka lidah hanya dapat pasrah mengikuti keinginan hati yang tak sanggup lagi menyimpan beban seorang diri.
“Setiap kali kedua mataku melihat ayah, sensasinya seperti melihat harapan hidupku yang telah lama di hancurkan. Setiap kali melihat wajahnya membuatku ingin mati saja.”
“Ayahmu?”
“Aku menyebutnya sebagai tukang paksa. Memaksaku meneruskan garis profesi keluarga tanpa paham apa yang ku mau. Setelah aku mati mungkin pria itu akan sedikit menyesal haha.”
Mew menatap wajah putih yang tengah tertawa hambar itu lekat, dengan semburat senyum tipis. “Ayahmu akan sangat sedih Gulf. Kematian bukan satu-satunya jalan menyelesaikan masalah. Buat ayahmu paham bahwa dirimu berharga.”
Tuan Traipipattanapong ingin Gulf menjadi seorang hakim, maka apakah dirinya harus menjadi hakim?
Tidak, ia dengan tanpa sengaja menemukan tujuan hidup besarnya. Ia yang akan tetap bisa membuat ayahnya bangga dan sakit di saat bersamaan.
“Kau hanya harus berani Gulf.”
...
To be continued.
"Life is a daring adventure or nothing at all." Helen Keller

KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS • This Life's Destiny [MEWGULF] END
FanfictieTidak ada yang salah. Tuhan mempertemukan keduanya di waktu dan tempat yang tepat. _______________ Langsung selesai! Published and Done on Saturday, 18th - December - 2021 🏅2 rank at #depression on 10th - February - 2022 HAPPINESS: MewGulf | short...