33

1.5K 113 0
                                    

Bryan menatap Sheilla yang sudah kembali duduk membawa selimut dan beberapa oat chocho kesukaanya.

Sheilla terlihat kembali menikmati konser seolah tidak terjadi apapun. Senyum itu juga kembali terbit di bibirnya, bahkan sesekali ia memekik kagum dan bernyanyi mengikuti musik.

Saat ada jeda konser, Bryan segera mengambil kesempatan itu untuk kembali berbicara pada Sheilla.

"Shei, tatap mata saya" perintah Bryan.

Sheilla tersenyum, lalu langsung menatap manik mata Bryan.

"Ada apa?" tanya Sheilla lembut.

"Apakah masih sakit? Apa besok kamu mau istirahat di rumah saja? " tanya Bryan mengamati wajah Sheilla yang masih lebam dan pipinya yang memerah karna tamparan di kantin.

Sheilla menggeleng kuat lalu kembali tersenyum "Aku melupakan kejadian buruk tadi setelah melihat mereka, besok aku mau berangkat aja, life goes on. Tenang aja besok akan baik-baik aja kok" jelas Sheilla kembali menampilkan senyum.

Bryan terdiam, perkataan Sheilla cukup simpel namun sedikit rumit untuk di pahami.

Sheilla menutup bibirnya, setelah meihat respon Bryan.
"Maaf, aku lupa jika kamu tidak suka aku membahas mereka, aku hanya terbiasa mengatakan hal itu, maaf jika kamu tidak nyaman" ucap Sheilla.

"Apa itu yang kamu maksud memberi warna?" tanya Bryan kembali menatap serius mata Sheilla.

Sheilla kembali menganggukkan kepalanya.

"Jelaskan padaku" pinta Bryan.

"Saat aku merasa tidak baik-baik saja mereka memberiku banyak dukungan untuk tidak menyerah, mereka mengajarkanku agar mencintai dan menerima diriku sendiri dengan apa adanya. Mereka terus meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja, mereka motivasiku" lirih Sheilla

"Maaf sudah salah paham kepadamu, maaf perkataan saya tadi terlalu menyakiti hatimu, saya tidak sengaja mengatakan itu. Saya mengizinkamu untuk hobimu" kata Bryan memeluk Sheilla dengan erat.

Sheilla membalas pelukan itu, hatinya sedikit terasa lega setelah Bryan mengizinkan hobinya.

"Sssshhhh" rintih Sheilla saat Bryan tidak sengaja menyenggol hidung Sheilla.

"Mana yang sakit?" tanya Bryan panik

"Ngga papa, tadi cuma kesenggol dikit" jawab Sheilla kembali fokus menonton konser online.

Bryan tersenyum tipis, membiarkan Sheilla menikmati konsernya sampai selesai.

~~~~

Pukul 21.00 setelah makan malam Sheilla memeluk Bryan dengan erat. Tangannya dengan erat melingkar di pinggang Bryan.

"Bryan" panggil Sheilla yang membuat pria itu menatap wajah Sheilla.

"Bolehkah kamu mengompres hidungku lagi?" tanya Sheilla mengerjapkan matanya.

"K-kamu sudah tidak marah dengan saya?" tanya Bryan sedikit canggung.

"Apa? Aku tidak marah. Malah kamu yang seperti mendiamkan aku" sebal Sheilla sedikit mendengus.

Bryan tersenyum menampilkan sedert giginya lalu membalas pelukan Sheilla.

"Ayo masuk, di balkon dingin" ajak Bryan langsung menggendong tubuh Sheilla.

Dengan telaten Bryan mengompres memar di wajah Sheilla. Perlahan senyum bahagia terukir di wajah mereka berdua. Selesai mengompres Bryan menyuruh Sheilla agar segera merebahkan badannya dan membawa Sheilla ke dalam pelukan. Keduanya tertidur dengan posisi seperti itu.

TRANSMIGRASI!  OVER PROTECTIVE?! (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang