Chapter 6

9 3 0
                                    

Pada malam yang indah itu, Drax tak berhenti menatap wajah Aretha, tidak ada wanita yang lebih cantik dari Aretha menurutnya.

Sesampainya disana, Drax berkata, "Mari tuan putri!" sambil menyodorkan tangannya agar Aretha menggandengnya.

Aretha pun akhirnya menggandeng tangan Drax, walau jantungnya terasa mau lepas.

Drax pun akhirnya membawa Aretha ke tempat duduk yang sudah di desain khusus untuk mereka berdua di malam ini. Tempatnya sangat unik dan benar-benar membuat Drax merasa semakin yakin untuk menyatakan perasaannya pada Aretha.

Drax berkata, "Silahkan duduk Tuan Putri."

"Terimakasih banyak Pangeran," jawab Aretha.

Drax merasa hampir mati karena terlalu bahagia saat Aretha berkata seperti itu, sementara Aretha yang merasa nervous saat ditatap oleh Drax, akhirnya mengajukan pertanyaan pada Drax, "Emm Drax, lo mau pesen makanan apa nih?"

"MasyaAllah, gue dinner sama wanita secantik bidadari, semoga ini bukan mimpi, dan kalo bener ini cuma mimpi, gak usah bangun lagi juga gapapa kok," Drax bergumam dalam hatinya.

"Drax, heii!" Aretha melambaikan tangannya di depan wajah Drax dan menyadarkan Drax dari lamunannya.

"Ehh iyaa Tha? kenapa?"

"Lo mau pesen makan apa?" Aretha berbicara dengan membaca menu makanan yang digenggamnya.

"Apa aja deh Tha, apapun yang lo pesenin, gue pasti suka kok."

"Em okei."

"Mas, saya pesen Beef Steak nya 1, Pesto Chicken Baked 1, Chocolate Milkshake nya 2." Aretha memberitahu pesanannya pada seorang pelayan.

"Baik, ada lagi kak?" tanya pelayan.

"Em cukup deh itu dulu."

"Oke, ditunggu ya kak," jawab pelayan.

Aretha hanya tersenyum pada pelayan itu dan menganggukan kepalanya.

Saat mereka masih menunggu makanan datang, tiba-tiba Drax menepukkan tangannya sebanyak dua kali, dan ternyata datanglah 2 orang pria yang menyanyikan lagu romantis dan memainkan biola di depan Aretha.

"OMG!! Drax so sweet juga ternyata, pantes aja cewek-cewek pada tergila-gila sama dia," Aretha berkata dalam hatinya.

"Tha, dansa yuk!" ajak Drax.

"Tapi gue gabisa dansa, Drax."

"Gapapa, nanti gue sambil ajarin lo dansa."

Akhirnya mereka berdua pun berdansa bersama, saling menatap dan saling memuji satu sama lain membuat mereka semakin dekat.

Kejadian tak terduga, Aretha tersandung oleh kakinya sendiri, untung saja Drax dengan sigap memegang pinggang dan juga tangan Aretha dan menyelamatkannya.

"Makasi Drax," wajah Aretha memerah karena tersipu malu dan grogi.

"Makanya hati-hati sayang."

Aretha menyudahi dansa mereka dan kembali duduk di kursinya.

Beberapa saat setelahnya, makanan yang dipesannya sampai. Akhirnya Drax ikut duduk dan mereka pun menyantap makanannya.

Drax makan dengan santai sambil melihat wajah Aretha secara terus-menerus, berbeda dengan Aretha yang makan dengan terburu-buru sampai dia tak sadar bahwa ada secuil nasi di tepi bibirnya, Drax mengulurkan tangannya dan mengusap nasi yang ada pada tepi bibir Aretha, "Maaf."

"Thanks," Aretha melanjutkan makannya.

Setelah mereka selesai makan, Aretha mengajak Drax untuk pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam.

"Ini saat yang tepat buat gue nembak Aretha," batin Drax berusaha meyakinkannya.

Kejadian nahas terjadi, ternyata selama mereka berada di sana, Catty sudah membuntuti dan memantau mereka berdua dari kejauhan, Catty sudah mengetahui rencana Drax yang akan menembak Aretha.

"Lo mau nembak cewek itu kan Drax? kalo gitu, gue yang bakal tembak dia duluan, gue gak akan pernah biarin hidup kalian berdua bahagia." Catty sambil memegang pistol.

Saat Drax akan mengeluarkan cincin dari kantong celananya, tiba-tiba..

Darr..

Suara tembakan yang tepat mengenai bagian punggung Aretha, membuat Aretha lemas dan jatuh di pangkuan Drax sampai tak sadarkan diri.

"Arethaaaa," Drax berteriak.

Setelah melepaskan peluru dari pistolnya, Catty langsung pergi dari tempat itu agar tidak ada yang mengetahui bahwa dialah yang menembak Aretha.

Tak berfikir panjang, Drax langsung membawa Aretha ke rumah sakit, dia menghubungi Mamanya, Mamanya Aretha dan juga Alshava agar datang ke rumah sakit.

Tangan Drax yang berlumuran darah Aretha itu menjadi gemetar, ia tidak menyangka kejadian ini akan menimpa dirinya dan juga Aretha.

Drax mengambil langkah cepat dengan pergi ke kantor polisi untuk lapor agar menelusuri siapa yang sudah tega menembak Aretha. Drax juga memberikan keterangan pada polisi tersebut.












Lantas apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Tunggu di Chapter selanjutnya ya guys!!

















𝐀𝐑𝐄𝐓𝐇𝐀Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang