Chapter 8

12 2 0
                                    

Keesokan harinya, para polisi dan juga Drax pergi ke tempat dimana Drax melihat Catty kemarin sore, yaitu di sebuah Halte. Benar saja, Catty ada disana sedang menunggu sebuah angkutan umum, ia tidak menyadarinya bahwa para polisi telah mengepung seluruh sudut tempat di sekitarnya.

"Jangan bergerak!" salah seorang polisi berdiri di hadapan Catty dengan menodongkan sebuah pistol.

Catty pun mengangkat kedua tangannya da berkata, "Ada apa ini pak? apa salah saya?"

"Halah gak usah banyak omong deh lo, gue yakin sebenarnya lo terlibat dalam penembakan Aretha kan?" Drax berjalan dari kejauhan menuju pada Catty.

"Hah, Aretha? gue kenal aja ngga sama yang namanya Aretha," Catty mengeles bagaikan bajaj.

"Gue punya buktinya."

"Pak, tolong tunjukkin barang bukti yang kita temuin, perlihatkan padanya pak," sambung Drax.

Polisi pun menunjukkan barang bukti yang ditemukan di TKP tersebut, dan wajah Catty pun memucat seperti orang yang sudah meninggal, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin sebesar biji jagung, ia panik dan berfikir, "Astaga, kenapa gue bisa teledor gini sih, gue aja sampe gak inget kalo gelang gue ilang," sambil memejamkan matanya.

Lalu Catty berkata, "Itu bukan milik saya pak."

"Haha.. freak banget sih, jelas-jelas itu kalung adalah barang pemberian dari gue saat lo ulang tahun dulu, iya kan?" Drax berbisik di telinga Catty.

Itu semua membuat Catty tidak bisa berkutik lagi, ia pun akhirnya dibawa ke kantor polisi dan dimintai keterangan lebih lanjut tentang kasus Aretha.

*****

Sementara itu, Aretha yang sudah melakukan operasi masih koma selama 5 hari dan belum juga sadarkan diri. Tembakan yang menembus punggungnya itu membuatnya terluka dalam.

Drax yang masih sibuk mengurusi kasusnya Aretha, menyempatkan diri untuk datang ke rumah sakit menjenguk wanita terkasihnya itu. Drax berlinang air mata saat melihat kondisi Aretha yang terbaring tak berdaya itu.

"Gue minta maaf banget Tha, seandainya gue gak ngajak lo dinner, mungkin semua ini gak akan mungkin terjadi," Drax menggenggam tangan Aretha.

Beberapa saat kemudian, jemari Aretha mulai bergerak sedikit demi sedikit.

"Dok... dokter!" Drax senang sekali melihat Aretha yang mulai sadarkan diri.

Dokter dan suster pun datang untuk memeriksa keadaan Aretha, mereka pun menyatakan bahwa Aretha sudah sadar dari koma nya, "Alhamdulillah, sekarang keadaan Aretha sudah jauh lebih baik."

Semua orang-orang terdekatnya sangat bahagia mendengar kabar tersebut.

Beberapa jam kemudian, Drax izin kepada dokter untuk membawanya keliling di area taman rumah sakit, dan akhirnya dokter pun mengizinkannya, namun Aretha masih belum bisa bergerak bebas, bagian punggung nya masih terasa sakit, kejadian itu membuatnya menjadi trauma, dan dia berfikir dalam batinnya, "Apa gue pernah punya seorang musuh? siapa yang tega bikin gue jadi seperti ini ya?"

Drax mendorong kursi roda Aretha, kemudian Aretha bertanya, "Drax, menurut lo siapa yang udah berani dan tega bikin gue kayak gini? padahal setelah gue pikir-pikir, gue gak punya orang yang gue anggap musuh deh," sambil menoleh pada Drax.

Pertanyaan Aretha membuat Drax menjadi bingung, "Apa yang harus gue lakuin, kalo Aretha tau yang nembak dia adalah mantan gue, gue takut dia semakin down."

"Hei, Drax kok lo diem aja sih? ada apa? ada sesuatu yang lo tutupin dari gue ya?"

"E-e-engga ada ko. Udah lah Tha, jangan terlalu dipikirin, gue udah lapor polisi juga kok dan mereka juga lagi ngusut kasus lo."

"Emm gue berharap si pelakunya cepet ketangkap ya, soalnya gue penasaran juga, siapa orang yang gak suka sama gue secara terang-terangan.

Drax menganggukkan kepalanya sambil mendorong kursi roda Aretha lagi.

Lalu, Aretha pun sempat berfikir tentang dinner malam itu, "O iya Drax, malam di saat kita dinner, sebelum gue ditembak sama orang, apa ada yang mau lo sampein ke gue? gue masih sempat ngeliat lo berdiri di depan gue."

"Memang tadinya ada yang mau gue sampein ke lo, tapi ya udah lah lain kali aja Tha, gak terlalu penting juga kok." Drax mengusap pipi Aretha yang lebih lembut dari sutra.

Aretha melihat ketulusan dari mata Drax. Ia pun merasa senang, senyumnya lebar satu mil.

"Drax, makasi banyak ya lo selalu ada buat gue, lo itu adalah malaikat pelindung gue."

Drax tersenyum lebar, "Ihh bisa banget cii bikin gue salting nii Tuan Putri," sambil mengusap rambut Aretha.

Rasa cinta yang ada pada mereka berdua sebenarnya sangat kuat, itu membuat mereka saling menguatkan dan saling menyayangi satu sama lain, namun mereka belum menemukan waktu yang tepat untuk bisa saling mengungkapkan perasaan masing-masing.


𝐀𝐑𝐄𝐓𝐇𝐀Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang