∶∶ 05 : MEET THE SPIRIT ∶∶

382 74 6
                                    

Angin berdesir begitu lembut, menerpa dedaunan pohon yang lebat. Cahaya matahari masuk ke dalam hutan melalui celah-celah dedaunan. Mereka bertujuh seolah-olah berada di dunia fantasi karena banyak tanaman merambat dan bunga-bunga yang tumbuh di sekitar hutan. Belum lagi, banyak kupu-kupu yang terbang di sekitar mereka selama perjalanan.

Setelah satu jam berjalan, mereka pun memutuskan untuk mencari tempat istirahat yang cocok. Tak lama, Kenzie mendengar suara air terjun yang sepertinya tidak jauh dari sini. Maka dari itu, ia berlari ke arah kanan dan menyingkirkan tanaman menggantung yang menghalangi penglihatannya menggunakan tangan kanannya.

Betapa senangnya Kenzie saat melihat sebuah air terjun yang begitu sejuk dan jernih di depannya. Senyumannya pun merekah, kemudian ia memanggil keenam temannya yang sedikit kebingungan dengan tingkah Kenzie tadi.

"Teman-teman, ada air terjun. Kita beristirahat di situ saja," ujar laki-laki berlesung pipit itu pada teman-temannya.

Yang lainnya langsung berjalan ke tempat yang dikatakan Kenzie seraya menyingkirkan tanaman menggantung di pohon-pohon tersebut dengan tangannya masing-masing.

Dan, benar saja. Tempat ini begitu indah dan menyejukkan. Airnya yang jernih membuat mereka bertujuh merasa tenang. Setelah sampai di sebuah pohon yang teduh, barulah mereka melepas ranselnya masing-masing dan beberapa dari mereka ada yang membasuh muka, ada juga yang langsung berbaring di permukaan rumput hijau akibat rasa lelah.

"Para roh yang tinggal di pulau ini beruntung sekali karena bisa melihat pemandangan ini setiap hari," ucap Faine yang tengah berbaring di samping Haven dengan ransel miliknya sebagai bantal.

"Tetapi, aku tidak melihat satu pun roh di sini. Di mana mereka semua?" Tanya Asher yang sedang duduk bersandar di batang pohon.

"Wah, wah! Ada tujuh manusia di sini."

"Astaga!"

Ketiganya terkejut tatkala tiba-tiba suara seseorang mengagetkan mereka. Mereka bertiga pun refleks menengadah dan sekali lagi, ketiga pemuda itu dikejutkan oleh sesosok yang tampak seusia mereka tengah bersantai di dahan pohon dengan senyuman sedikit menyebalkan.

"Siapa kau?!" Tanya Asher dengan suara agak keras kepada laki-laki misterius itu.

"Seharusnya, aku yang bertanya seperti itu pada kalian. Siapa kalian dan apa tujuan kalian datang ke tempat tinggalku?" Tanya laki-laki itu balik.

Tak lama, Elan, Chaiden, Kenzie, dan Aaron menghampiri ketiga teman mereka yang seperti tengah melihat sesuatu yang mengejutkan.

"Teman-teman? Kalian kena─"

Rahang Chaiden jatuh, tak percaya apa yang ia lihat. Yang lainnya mengikuti arah pandang laki-laki bermarga Hart itu dan langsung melongo.

Melihat ekspresi ketujuh manusia itu, laki-laki tersebut terkekeh geli dan langsung berpindah tempat ke hadapan ketujuh manusia tersebut dengan santainya.

Mereka yang melihat itu semakin syok. Barusan, laki-laki itu ... berteleportasi?! Bagaimana bisa?!

"Hei, hei! Sudahi keterkejutan kalian. Lebih baik, kita berkenalan saja," ucap laki-laki tersebut yang sebisa mungkin menahan tawanya.

Akhirnya, mereka duduk melingkar di bawah teduhnya pohon tinggi dan lebat tersebut.

"Aku Nathan dan aku adalah salah satu roh baik yang tinggal di pulau ini. Salam kenal, semuanya," ucap laki-laki muda yang diketahui bernama Nathan itu dengan senyuman ramahnya.

Mendengar penuturan Nathan, ketujuh pemuda itu diam tak berkutik. Apa katanya? Roh baik? ROH?!

"R-roh? Benarkah?!" Sergah Faine yang sama sekali tidak percaya.

SEI ISLAND (DISCONTINUED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang