29. Gagal, Coba Lagi, Gagal, Coba Lagi!

15 8 22
                                    

"Tidak ada manusia yang lahir setara." ~ Esteban.

¤¤¤

Beberapa hari sebelumnya, berada puluhan kilometer ke utara dari Mugworth, Astria muncul di tepi sebuah sungai setelah diteleportasikan oleh Salem.

Dengan keadaan basah kuyub, badan memar dan perasaan hati yang sangat buruk dia memaki habis-habisan sang wisdom beast. Segala upayanya untuk membuntuti Alvia selama ini sekarang menjadi sia-sia, membuat Astria putus asa.

"Aku gagal ... aku gagal, gagal, gagal!"

Astria mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meninju tanah berulang kali. Air matanya berlinang turun mengaliri pipi.

"Sial, sial, sialan kucing itu!" umpat Astria. Dia tidak peduli walau tubuhnya cukup lama terendam air.

Kegagalan ini berarti adalah kelima kalinya Astria gagal untuk menculik Alvia. Padahal, dia sudah merencanakan untuk membawa Alvia pergi setelah kelompoknya melewati jembatan roh ertamesia.

"Sial! Aku sungguh sial! Kenapa aku selalu gagal?! Kalau begini ... jika terus seperti ini ... maka mereka tidak akan memulihkan nama dan kehormatanku."

Yang dimaksud oleh Astria adalah kehormatannya sebagai calon ksatria.

Astria merupakan murid akademi Valor, salah satu akademi ksatria terbaik yang ada di Kozia. Sebagai siswi, Astria dikenal sangat berbakat dan berpotensi menjadi ksatria terkuat di generasinya. Di akademi, Astria adalah idola. Tapi, itu juga membuatnya banyak dibenci oleh anak-anak yang iri kepadanya.

Hidupnya berjalan damai, sampai sebuah petaka terjadi ketika Astria tak sengaja membunuh lawan tandingnya dalam latihan rutin di akademi.

Saat itu, ketika sedang beradu pedang, sang lawan jatuh lemas setelah terkena tusukan di bagian dada. Tak berapa lama kemudian, lawan Astria meninggal karena sesak nafas berat meski sempat mendapat perawatan.

Beberapa orang pun menuduh Astria telah melakukan kecerobohan dalam duel sehingga mengakibatkan kematian lawannya. Astria menampik hal tersebut dan berkata kalau sabetannya seharusnya tidak fatal karena dia tidak menggunakan kekuatan penuh.

Pedang yang mereka gunakanpun hanyalah pedang kayu, juga pada saat berlatih mereka menggunakan zirah yang cukup tebal.

Pihak akademi tidak langsung memutuskan kalau Astria bersalah, sebab mereka menemukan kejanggalan pada penyebab kematian lawan tandingnya. Namun, kabar tentang insiden ini terlebih dahulu tersebar ke luar akademi sebelum pihak akademi melakukan investigasi mendalam.

Tekanan dari berbagai pihak–beberapa memiliki peran penting di ibu kota Kozia, tempat akademi Valor berada–yang akhirnya memaksa akademi mengambil keputusan mengejutkan sekaligus kontroversial, yaitu mengeluarkan Astria.

Masalah tidak berhenti di situ baginya, sebab pihak keluarga siswa yang Astria tak sengaja bunuh ingin dirinya diadili. Mereka didukung oleh pihak-pihak penting tadi. Beruntung, kasus itu tidak sampai masuk ke ruang peradilan.

Ini tidak bisa lepas dari andil besar paman Astria, Jonathan, dalam menghentikan investigasi kasus kematian lawan latih tanding Astria.

Sayang, bantuan itu tidaklah gratis. Paman Astria hanya membantu agar Astria mau menolongnya balik.

Karena merasa berhutang budi, Astria pun menuruti kemauan sang paman yang mana memintanya untuk mencari seorang calon biarawati Aphracia yang kabur dari biaranya, Alvia. Sang paman juga menjanjikan akan memulihkan nama baik Astria.

Dengan iming-iming itu, Astria pun memulai petualangan untuk melacak keberadaan Alvia. Naasnya, dia selalu sial di saat hampir mendapatkan gadis itu.

ARC OF THE HEIR: TALE OF STRIVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang